Beritanda.com – Pemerintah Venezuela mengecam keras penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi militer terbaru, menyebutnya sebagai “agresi terburuk” terhadap negara. Respons ini datang bersamaan dengan pertanyaan serius dari politisi AS soal legalitas operasi yang belum mendapat otorisasi perang.
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat Nasional
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, menyatakan bahwa seluruh angkatan bersenjata dikerahkan setelah serangan AS dan penangkapan Maduro. Pemerintah Caracas menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk agresi militer yang sangat serius dan menyerukan rakyat turun ke jalan.
Wakil Presiden Delcy Rodríguez bahkan menuntut bukti bahwa Maduro dan istrinya masih hidup, mencerminkan kebingungan informasi yang beredar luas di dalam negeri.
Pertanyaan Legalitas di AS Sendiri
Di sisi Washington, Senator Mike Lee menanggapi penangkapan ini dengan mempertanyakan dasar konstitusional operasi tersebut. Lee menegaskan bahwa tindakan semacam ini perlu pembenaran hukum yang jelas.
“Dia (Rubio) memperkirakan tidak akan ada tindakan lebih lanjut di Venezuela sekarang setelah Maduro berada dalam tahanan AS,” ujar Lee. Ia menambahkan operasi ini “dilakukan untuk melindungi dan membela mereka yang menjalankan surat perintah penangkapan.”
Lee sebelumnya menyatakan di media sosial bahwa ia ingin mengetahui apa, jika ada, yang secara konstitusional dapat membenarkan tindakan ini tanpa deklarasi perang.
Reaksi Internasional dan Permintaan Perlindungan Warga
Reaksi global mulai bermunculan setelah serangan tersebut. Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengecam serangan AS sebagai “serangan kriminal” dan menyerukan kecaman internasional.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan imbauan bagi warganya di Venezuela untuk tetap berlindung karena risiko tinggi aktivitas militer.
Larangan penerbangan komersial AS melintasi wilayah Venezuela oleh FAA memperlihatkan ketidakpastian situasi keamanan, terutama setelah fasilitas militer utama seperti Fuerte Tiuna dan pangkalan udara La Carlota menjadi target serangan.
