Beritanda.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan serangan militer besar-besaran ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan elit AS pada hari Sabtu dini hari. Kejadian ini terjadi setelah eskalasi ketegangan berbulan-bulan dan menimbulkan respons keras dari pemerintah Venezuela serta kekhawatiran di ibu kota Caracas.
Operasi Delta Force dan Penangkapan Maduro
Trump menyampaikan bahwa operasi dilancarkan oleh unit elit Delta Force, yang berhasil mengekstraksi Maduro dari Caracas tanpa melibatkan pertempuran darat besar. Presiden AS menyatakan bahwa Maduro dan istrinya telah “ditangkap dan diterbangkan keluar dari Venezuela”.
Serangan ini mengikuti serangkaian serangan udara terhadap fasilitas militer Venezuela, sebagai lanjutan operasi laut terhadap kapal-kapal penyelundup narkoba di perairan regional.
Latihan Militer AS dan Penempatan Pasukan Sebelumnya
Sebelum operasi darat, Amerika Serikat telah menempatkan sekitar 15.000 pasukan di kawasan Karibia, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford dan sejumlah kapal perang untuk menekan jaringan narkotrafik yang dituding melibatkan rezim Caracas.
Pengamat menyebut aksi penangkapan ini belum pernah terjadi sejak penahanan Manuel Noriega di Panama pada 1989, menandai fase baru intervensi militer AS di kawasan.
Korban dan Dampak Serangan Udara
Pemerintah Venezuela melaporkan adanya korban jiwa dan luka akibat serangan udara AS, dengan tudingan bahwa beberapa serangan mengenai wilayah sipil. Warga Caracas melaporkan ledakan keras mengguncang ibu kota dan suasana panik menyelimuti jalan-jalan saat berita penangkapan Maduro tersebar.
