Home » Ekbis » Purbaya Tantang Fitch Ratings Usai Outlook RI Dipangkas
Purbaya respon Fitch RatingsMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat Buka Puasa Bersama di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (6/3/2026)

Beritanda.com – Keputusan Fitch Ratings menurunkan outlook utang Indonesia langsung memicu perdebatan panas. Menteri Keuangan Purbaya bahkan mempertanyakan logika lembaga pemeringkat tersebut, memicu “perang narasi” antara data pemerintah dan kekhawatiran investor global.

Pada 4 Maret 2026, Fitch Ratings resmi menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun, lembaga pemeringkat global itu tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB (investment grade).

Langkah ini membuat banyak pihak bertanya: apakah ekonomi Indonesia benar-benar memburuk, atau ini sekadar perbedaan cara membaca data?

Purbaya Vs Fitch Ratings: Perang Narasi Soal Outlook Indonesia

Menteri Keuangan Purbaya tidak tinggal diam setelah keputusan Fitch Ratings tersebut. Ia bahkan secara terbuka mempertanyakan dasar penilaian lembaga pemeringkat global itu.

Dalam konferensi pers di Jakarta pada 6 Maret 2026, Purbaya menyindir bahwa perubahan outlook bisa saja dipengaruhi faktor psikologis investor terhadap pemerintahan baru.

“Mungkin kan masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sangka jangan-jangan Menteri Keuangan nggak bisa hitung,” ujar Purbaya.

Ia menegaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih tergolong kuat dibanding negara lain.

Beberapa data yang diklaim pemerintah antara lain:

  1. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,4%
  2. Target pertumbuhan 2026 dipatok 5,5–6%
  3. Rasio utang pemerintah masih sekitar 41% dari PDB
  4. Pendapatan negara awal 2026 tumbuh lebih dari 30% YoY

Dengan angka tersebut, Purbaya menilai tidak ada alasan kuat bagi Fitch Ratings untuk memberikan sinyal negatif terhadap ekonomi Indonesia.

Fitch Ratings Punya 10 Alasan Mengapa Outlook Diturunkan

Tapi tunggu dulu. Dari sisi Fitch Ratings, ceritanya tidak sesederhana itu.

Dalam laporan resmi yang dirilis 4 Maret 2026, lembaga tersebut menyebut ada sejumlah risiko yang mulai mengkhawatirkan investor.

Berikut beberapa alasan utama yang mereka soroti:

  1. Ketidakpastian kebijakan ekonomi di pemerintahan baru
  2. Target pertumbuhan 8% yang dinilai berpotensi melonggarkan disiplin fiskal
  3. Rencana revisi UU Keuangan Negara yang bisa mengubah batas defisit 3%
  4. Proyeksi defisit APBN 2026 sekitar 2,9% dari PDB
  5. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menekan fiskal
  6. Rasio penerimaan negara terhadap PDB yang rendah
  7. Risiko pembiayaan proyek Danantara
  8. Beban bunga utang yang tinggi
  9. Kompleksitas kebijakan Bank Indonesia
  10. Indikator tata kelola yang masih tertinggal

Menurut Fitch Ratings, kombinasi faktor tersebut berpotensi melemahkan konsistensi kebijakan fiskal Indonesia dalam jangka menengah.

Pasar Langsung Bereaksi: IHSG dan Rupiah Tertekan

Efeknya langsung terasa di pasar. Pada hari pengumuman outlook negatif tersebut, pasar saham Indonesia bergerak cukup tajam:

  • IHSG turun 4,57% ke level 7.577
  • Seluruh sektor saham terkoreksi
  • Rupiah melemah ke sekitar Rp16.892 per dolar AS

Namun sehari setelahnya, pasar mulai menunjukkan tanda pemulihan dengan IHSG rebound sekitar 1,5%.

Purbaya Siapkan Strategi Baru “Meyakinkan Investor”

Menariknya, Purbaya juga mengakui pemerintah perlu bekerja lebih keras untuk menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia kepada investor global.

Ia bahkan mengubah rencana pribadinya yang sebelumnya jarang melakukan perjalanan ke luar negeri.

“Tadinya saya pikir sebelum Indonesia tumbuh 6%, saya nggak akan ke luar negeri. Tapi sekarang mesti berubah karena saya mesti marketing juga keadaan kita seperti apa,” katanya.

Mulai April 2026, Purbaya dijadwalkan menghadiri pertemuan IMF–World Bank di Washington DC untuk bertemu investor dan lembaga internasional.

Strateginya sederhana: membuktikan lewat angka ekonomi.

“Enam bulan dari sekarang, apakah kita bergerak ke arah yang benar atau tidak? Jika salah, Anda boleh mencaci saya sepuasnya,” ujar Purbaya.

Pertanyaan besarnya muncul: apakah waktu akan membuktikan keyakinan Purbaya, atau justru kekhawatiran Fitch Ratings yang terbukti benar?

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News