Home » Ekbis » IHSG Ambles ke Level Terendah 2026, Pasar Menanti Putusan BI Siang Ini
IHSG AmbrukIlustrasi - Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) - dok Antara | Dhemas Reviyanto

Beritanda.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Rabu 20 Mei 2026 dan menyentuh level terendah baru sepanjang tahun ini. Hingga sesi siang, indeks sempat anjlok ke kisaran 6.275 setelah sebelumnya menyentuh titik terendah intraday di level 6.282,15.

Tekanan ini memperpanjang tren pelemahan pasar dalam tiga hari terakhir. Setelah turun 1,85 persen pada Senin dan ambruk 3,46 persen pada Selasa, IHSG hari ini kembali terkoreksi di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank Indonesia yang akan diumumkan pukul 14.00 WIB.

Pasar kini berada dalam fase menunggu.

Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia siang ini dinilai menjadi penentu apakah tekanan jual akan berlanjut atau justru membuka ruang rebound teknikal jangka pendek.

Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka melemah 0,29 persen ke level 6.352,20. Tiga menit kemudian, indeks turun lebih dalam ke 6.328,91.

Meski sempat memantul ke level 6.408 sekitar pukul 09.43 WIB, penguatan itu tak bertahan lama. Menjelang akhir sesi pertama, IHSG kembali tertekan ke area 6.303 sebelum akhirnya melemah lebih lanjut ke kisaran 6.275.

Situasi ini menandai meningkatnya kehati-hatian investor di tengah kombinasi tekanan domestik dan global.

Investor Menunggu Sinyal Tegas dari BI

Fokus utama pasar siang ini tertuju pada keputusan suku bunga acuan.

Dari 17 analis yang disurvei Bloomberg, mayoritas memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.

Dimana beberapa waktu yang lalu terjadi rapat “panas” antara Bank indonesia dan DPR RI terkait nilai tukar yang terus anjlok.

Langkah ini dinilai diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah yang terus tertekan.

Data terbaru menunjukkan nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp 17.730 per dolar AS. Secara year-to-date, mata uang Indonesia tercatat terdepresiasi 5,50 persen dan menjadi salah satu yang terburuk di kelompok negara berkembang.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai BI harus menunjukkan respons kuat.

“Jika BI hanya menahan suku bunga tanpa sinyal kebijakan yang lebih tegas, pasar dapat menilai BI tertinggal dalam merespons tekanan.” ujar Josua.

Namun tidak semua ekonom sepakat.

Sejumlah analis memandang kenaikan bunga belum tentu efektif karena tekanan rupiah lebih banyak dipicu faktor struktural serta derasnya arus modal keluar global.

Perbedaan pandangan ini membuat keputusan BI hari ini menjadi sangat krusial.

Bukan hanya soal level suku bunga, tetapi juga pesan komunikasi kebijakan yang akan menentukan persepsi investor.

Tekanan Datang dari Dalam dan Luar Negeri

Pelemahan IHSG hari ini tidak berdiri sendiri.

Hampir seluruh sektor saham terkoreksi, kecuali sektor kesehatan yang masih menguat tipis 0,55 persen.

Sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 6,94 persen, disusul basic industry yang ambles 7,3 persen dan sektor industri turun 4,54 persen.

Di sisi eksternal, tekanan datang dari pelemahan Wall Street selama tiga hari berturut-turut akibat lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik global.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027.

Namun sejauh ini, pasar belum menemukan katalis yang cukup kuat untuk membalikkan sentimen negatif.

Yang menarik, aksi jual besar beberapa hari terakhir justru dibarengi pembelian asing senilai Rp306 miliar pada Selasa.

Fenomena ini menunjukkan investor institusi mulai mengincar valuasi murah, meski pelaku pasar retail masih cenderung defensif.

Jika BI memberi sinyal kuat menjaga stabilitas rupiah, peluang rebound teknikal tetap terbuka.

Sebaliknya, jika keputusan dinilai terlalu lunak, level psikologis 6.200 bahkan 6.000 bisa kembali diuji dalam beberapa sesi mendatang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News