Beritanda.com – Hanya berselang 48 jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan Beijing, Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di ibu kota China untuk kunjungan kenegaraan pada 19–20 Mei 2026. Urutan kunjungan dua rival geopolitik terbesar dunia itu memperlihatkan satu pesan kuat: China kini semakin berada di pusat diplomasi global.
Dalam waktu kurang dari enam bulan, Beijing telah menerima para pemimpin empat anggota tetap Dewan Keamanan PBB, mulai dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Inggris Keir Starmer, Donald Trump, hingga Vladimir Putin.
Di tengah perang Ukraine, rivalitas AS-China, dan ketidakpastian ekonomi dunia, Xi Jinping tampak berhasil memosisikan China sebagai pemain yang bisa berbicara dengan semua kubu sekaligus.
Trump dan Putin Datang Bergantian ke Beijing
Kunjungan Donald Trump pada 13–15 Mei 2026 menjadi lawatan pertama presiden AS ke China dalam hampir sembilan tahun. Trump disambut Xi Jinping di Balai Agung Rakyat dan bahkan diajak mengunjungi Zhongnanhai, kawasan elite kepemimpinan China yang jarang dibuka untuk tamu asing.
Meski tidak menghasilkan kesepakatan besar, kedua negara mengklaim berhasil mencapai “kesepahaman penting” terkait stabilisasi hubungan ekonomi dan perdagangan. Taiwan juga menjadi isu sensitif dalam pembicaraan tersebut.
Hanya dua hari setelah Trump pulang, Vladimir Putin mendarat di Beijing. Ini menjadi kunjungan ke-25 Putin ke China dan mempertegas eratnya hubungan Moskow-Beijing sejak perang Ukraine pecah pada 2022.

“Sahabatku yang terkasih,” ujar Putin saat membuka pertemuan dengan Xi Jinping di Balai Agung Rakyat.
Putin mengatakan hubungan Rusia-China berada di tingkat yang “belum pernah terjadi sebelumnya” dan menyebut kerja sama kedua negara sebagai faktor stabilitas global. Kremlin juga mengungkapkan sekitar 40 perjanjian kerja sama akan ditandatangani, mulai dari ekonomi, energi, pendidikan, hingga pariwisata.
China Diuntungkan dari Dua Arah Sekaligus
Fenomena Trump lalu Putin datang hampir berurutan memberi keuntungan strategis besar bagi Beijing. China kini bukan hanya rival Amerika Serikat, tetapi juga mitra utama Rusia yang sedang tertekan sanksi Barat.
Bagi Washington, China tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas perdagangan global dan isu Taiwan. Sementara bagi Rusia, Beijing menjadi penyelamat utama jalur ekonomi dan energi setelah akses Moskow ke Barat makin tertutup.
Data perdagangan menunjukkan ekspor minyak Rusia ke China melonjak 35 % pada kuartal pertama 2026. China juga menjadi pembeli utama gas Rusia di tengah tekanan ekonomi akibat perang.
Di sisi lain, laporan Reuters menyebut perusahaan-perusahaan China tetap memasok komponen teknologi yang menopang produksi drone Rusia, meski mendapat tekanan dari negara-negara Barat.
Analis SOAS China Institute, Steve Tsang, menilai situasi ini memperlihatkan posisi tawar Beijing yang semakin besar di panggung internasional.
“Pesannya jelas bahwa China mempertahankan persahabatan dan kemitraan strategis dengan kekuatan manapun yang disukainya, dan AS hanyalah salah satunya,” kata Tsang.
Beijing Sedang Membangun Tatanan Dunia Baru?
Kedatangan Trump dan Putin dalam minggu yang sama memperlihatkan perubahan besar dalam lanskap geopolitik global. Jika sebelumnya Washington menjadi pusat diplomasi internasional, kini Beijing mulai memainkan peran serupa.
China terlihat nyaman membuka pintu untuk dua kekuatan yang justru saling berhadapan dalam banyak isu global. Situasi itu memperkuat narasi dunia multipolar yang selama ini didorong Beijing dan Moskow.
Bagi Xi Jinping, momentum ini juga menjadi panggung diplomatik penting. China dapat menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mampu menjaga komunikasi dengan rival-rival utama sekaligus tanpa kehilangan pengaruh.
Namun di balik simbol kekuatan tersebut, ada kepentingan pragmatis yang sangat besar. China membutuhkan stabilitas ekonomi global agar pertumbuhan domestiknya tidak terganggu. Karena itu, Beijing berusaha menjaga hubungan tetap terbuka baik dengan AS maupun Rusia.
Sementara bagi Putin, kunjungan ini memiliki dimensi lain. Di dalam negeri, tingkat persetujuannya turun tajam menjadi 65,6 %, level terendah sejak perang penuh di Ukraine dimulai. Kondisi ekonomi Rusia yang melemah membuat Kremlin membutuhkan simbol bahwa Moskow masih memiliki sekutu kuat di panggung dunia.
Kunjungan ke Beijing akhirnya bukan hanya soal diplomasi luar negeri, tetapi juga pesan politik untuk publik Rusia bahwa negara mereka belum terisolasi sepenuhnya.
