Beritanda.com – Pernikahan Teuku Rassya dan Cleantha Islan yang semula dipenuhi suasana hangat keluarga justru berubah menjadi awal polemik panjang antara Tamara Bleszynski dan Nourah Sheivirah. Konflik itu berkembang cepat, mulai dari sorotan posisi Tamara di acara pernikahan hingga berujung sindiran keras di media sosial yang memancing reaksi luas publik.
Yang membuat publik terus mengikuti polemik ini bukan hanya soal perseteruan dua figur publik, melainkan karena konflik tersebut memperlihatkan dinamika rumit keluarga pasca perceraian, tekanan media sosial, hingga posisi ibu kandung dan ibu sambung dalam keluarga selebritas.
Pada awalnya, hubungan Tamara dan Nourah terlihat baik-baik saja. Saat pertunangan Teuku Rassya pada 18 Oktober 2025, keduanya hadir dalam suasana akrab. Tamara sebagai ibu kandung dan Nourah sebagai ibu sambung bahkan tampak berfoto bersama dengan nuansa busana senada berwarna earth tone.
Momen itu sempat menuai pujian dari publik karena dianggap menunjukkan kedewasaan hubungan keluarga besar Teuku Rassya.
Namun situasi berubah drastis beberapa bulan kemudian.
Saat pernikahan Rassya dan Cleantha Islan digelar pada 12 April 2026, perhatian publik justru tertuju pada posisi Tamara yang terlihat hanya duduk di area tamu undangan. Di sisi lain, Teuku Rafly Pasya dan Nourah berdiri bersama pengantin di pelaminan.
Warganet langsung mempertanyakan alasan ibu kandung Rassya tidak mendampingi prosesi penting sang anak.
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 18 Oktober 2025 | Pertunangan Rassya berlangsung harmonis, Tamara dan Nourah tampil akrab |
| 12 April 2026 | Pernikahan Rassya memicu sorotan soal posisi Tamara di acara |
| 14 April 2026 | Rassya mengklarifikasi adanya miskomunikasi soal busana dan rundown |
| 30 April 2026 | Unggahan kontroversial Nourah memicu konflik terbuka |
Teuku Rassya kemudian memberikan klarifikasi melalui media sosial pada 14 April 2026. Ia mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp dan penjelasan mengenai perubahan rencana busana yang disebut terjadi mendekati hari acara.
Menurut Rassya, pihak keluarga sebenarnya telah menyiapkan kain untuk busana akad dan resepsi. Namun Tamara memilih menggunakan penjahit sahabatnya di Bali. Situasi menjadi rumit setelah kondisi kesehatan desainer tersebut menurun menjelang acara.
“Kalian bisa lihat juga siapa yang memohon-mohon kepada ibunya untuk datang ke kedua acara di saat ibunya tidak berkenan datang ke akad dan berencana hadir hanya mau sebagai tamu pada acara resepsi,” tulis Rassya.
Di tengah ramainya sorotan publik, Tamara memilih memberikan respons singkat. Ia hanya menyampaikan doa untuk kebahagiaan sang anak sambil membawa setangkai mawar putih saat ditemui awak media.
Konflik Memanas Setelah Serangan Warganet
Setelah pernikahan berlangsung, tekanan publik di media sosial mulai mengarah kepada Nourah. Banyak komentar membandingkan posisinya dengan Tamara sebagai ibu kandung.
Nourah sempat memberikan klarifikasi bahwa dirinya juga berharap Tamara hadir mendampingi Rassya dalam seluruh prosesi penting. Ia menegaskan posisi ibu kandung tetap menjadi prioritas.
Namun klarifikasi tersebut tidak menghentikan perdebatan. Sebagian warganet justru menilai pernyataan itu sebagai sindiran terselubung.
Situasi akhirnya mencapai titik paling panas pada 30 April 2026. Lewat fitur Instagram Eksklusif, Nourah mengunggah kalimat kontroversial yang langsung memicu kecaman.
“Mau ga dia aku katain kalau anaknya hasil perselingkuhan???” tulis Nourah.
Ia juga menambahkan kalimat lain yang tak kalah keras.
“Aku akan kejar dia habis-habisan!”
Meski tidak menyebut nama secara langsung, publik langsung mengaitkan unggahan itu dengan keluarga Tamara Bleszynski.
Kenapa Konflik Ini Jadi Sorotan Besar?
Ada beberapa faktor yang membuat polemik ini berkembang lebih besar dibanding konflik keluarga selebritas pada umumnya.
Pertama, Tamara sejak lama dikenal sebagai figur publik yang relatif jarang terlibat perseteruan terbuka. Sikapnya yang memilih menghapus unggahan balasan dan menyatakan memaafkan Nourah justru memperkuat simpati publik.
Kedua, konflik ini menyentuh isu sensitif tentang posisi ibu kandung dalam keluarga yang telah lama berpisah. Sejak putusan Mahkamah Agung pada 2007, hak asuh Rassya memang berada di pihak Teuku Rafly. Artinya, Rassya tumbuh lebih banyak bersama ayah dan ibu sambungnya.
Ketiga, media sosial menjadi katalis utama yang memperbesar emosi kedua pihak. Serangan komentar netizen membuat konflik personal berkembang menjadi konsumsi publik.
Ironisnya, pihak yang secara posisi terlihat lebih dominan di acara pernikahan justru tampak paling agresif merespons tekanan publik. Kondisi itu memperlihatkan bagaimana opini warganet dapat memengaruhi stabilitas emosional figur publik, terutama dalam isu keluarga yang sangat personal.
Sampai 8 Mei 2026, konflik ini belum menunjukkan tanda rekonsiliasi terbuka. Tamara memilih meredakan situasi, sementara Nourah belum memberikan klarifikasi lanjutan secara publik.
