Beritanda.com – Brooklyn Beckham akhirnya buka suara mengenai tekanan mental hebat yang ia rasakan akibat kontrol ketat dari orang tuanya, Sir David dan Lady Beckham. Melalui pernyataan resmi kepada 16 juta pengikutnya, pria berusia 26 tahun ini mengaku baru bisa merasakan kebebasan dari rasa cemas setelah memutuskan untuk menjauh dari bayang-bayang citra keluarga Beckham.
Bebas dari Kecemasan di Bawah Kontrol Keluarga
Selama bertahun-tahun, publik melihat kehidupan Brooklyn Beckham sebagai gambaran sempurna dari keluarga pesohor dunia yang harmonis. Namun, di balik layar, anak sulung David Beckham ini justru menyimpan beban psikologis yang sangat berat terkait pengawasan orang tuanya yang tanpa henti.
Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar hidupnya diatur sedemikian rupa hanya demi menjaga reputasi publik keluarga besarnya.
“Saya telah dikendalikan oleh orang tua saya hampir sepanjang hidup saya. Saya tumbuh dengan kecemasan yang luar biasa,” tulis Brooklyn Beckham dalam unggahan terbarunya. Pernyataan ini menjadi titik balik bagi dirinya yang selama ini memilih untuk bungkam demi menjaga keutuhan privasi keluarga.
Brooklyn Beckham menegaskan bahwa rasa cemas tersebut baru benar-benar menghilang setelah ia memberanikan diri untuk menarik jarak dari lingkungan keluarganya. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk pertahanan diri setelah merasa terus-menerus diserang secara publik melalui narasi media.
Kini, ia memilih untuk berdiri sendiri dan mengungkapkan kebenaran yang selama ini tertutup rapat oleh narasi tim humas orang tuanya.
Serangan Media Demi Mempertahankan Citra Beckham
Konflik ini semakin memanas ketika Brooklyn Beckham menuduh orang tuanya menggunakan tim media mereka untuk menyebarkan narasi yang menyudutkan dirinya dan sang istri, Nicola Peltz.
Ia merasa bahwa David dan Victoria Beckham berusaha keras merusak hubungannya hanya untuk mempertahankan citra ideal mereka di hadapan publik.
Menurutnya, rasa cinta dalam keluarganya seringkali hanya diukur dari sejauh mana keterlibatan mereka dalam promosi di media sosial.
“Saya tidak ingin berdamai dengan keluarga saya. Saya tidak sedang dikendalikan, saya membela diri untuk pertama kalinya dalam hidup saya,” tegasnya secara emosional.
Brooklyn merasa tidak punya pilihan lain selain berbicara karena tim orang tuanya terus menghubungi pers untuk menyebarkan kebohongan demi citra mereka sendiri.
Anak sulung pasangan Beckham ini juga mengkritik bagaimana nilai-nilai keluarga mereka telah bergeser menjadi sebuah komoditas bisnis semata.
Ia menyebutkan bahwa “Merek Beckham adalah yang utama,” yang berarti dukungan publik jauh lebih dihargai daripada keharmonisan keluarga yang nyata.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna di bawah sorotan kamera inilah yang menjadi pemicu utama gangguan kecemasan yang dialami Brooklyn Beckham selama ini.
Tekanan Hak Nama dan Luka di Hari Pernikahan
Selain masalah kesehatan mental, Brooklyn Beckham juga membongkar rincian mengejutkan mengenai perlakuan orang tuanya terhadap Nicola Peltz yang dianggap tidak menghargai pasangannya.
Salah satu tuduhan yang paling mencolok adalah klaim bahwa ibunya sengaja membatalkan pembuatan gaun pengantin Nicola di menit-menit terakhir.

Hal tersebut memaksa Nicola untuk segera mencari desainer lain meskipun ia sangat berharap bisa mengenakan desain sang ibu mertua.
Tak hanya itu, insiden pada hari pernikahan mereka pun masih meninggalkan luka mendalam bagi pasangan yang menikah pada 2022 ini. Brooklyn Beckham mengklaim bahwa Victoria Beckham sengaja “merebut” momen tarian pertama yang seharusnya menjadi milik ia dan istrinya.
Ia menyebut ibunya justru maju ke panggung dan “menari dengan sangat tidak pantas di depan saya di depan semua orang,” yang memicu rasa malu luar biasa.
Bahkan, tekanan finansial dan legal juga turut membayangi hubungan antara ayah dan anak ini sebelum prosesi pernikahan berlangsung. Brooklyn mengaku sempat ditekan dan coba disuap oleh orang tuanya agar menandatangani dokumen pelepasan hak atas namanya sendiri.
Dampak dari penolakannya terhadap permintaan tersebut ternyata berbuntut panjang dan memengaruhi pembayaran gajinya selama ini.
Kini, setelah memperbarui janji pernikahan pada tahun 2025, Brooklyn Beckham berharap bisa membangun kenangan baru yang jauh lebih positif. Ia ingin meninggalkan segala bentuk kecemasan dan rasa malu yang selama ini menghantui hidupnya akibat perselisihan keluarga yang berlarut-larut.
Baginya, kebenaran harus tetap terungkap agar ia bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa intimidasi dari pihak mana pun.
