Home » Ekbis » BCA Mulai Buyback Saham Rp5 Triliun, Sinyal Optimisme di Tengah Tekanan Pasar
Kantor BCAKantor BCA

Beritanda.com – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) resmi memulai program buyback saham senilai maksimal Rp5 triliun pada 28 April 2026. Aksi ini dilakukan setelah mendapat persetujuan RUPST Maret 2026, dengan periode pelaksanaan hingga 11 Maret 2027. Langkah tersebut menjadi sinyal optimisme manajemen di tengah volatilitas pasar saham.

Program pembelian kembali saham ini akan dilakukan melalui pasar reguler Bursa Efek Indonesia dengan perantara PT BCA Sekuritas. Jumlah saham yang dibeli tidak akan melebihi 10% dari modal disetor, sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pelaksanaan buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini merupakan wujud keyakinan kami atas fundamental bisnis perseroan,” ujar Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, dalam keterangan resmi.

Buyback Jadi Strategi Redam Tekanan Saham

Langkah buyback ini tidak lepas dari kondisi pasar yang sempat mengalami tekanan. Pada awal 2026, saham BBCA tercatat turun signifikan seiring pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan sempat memicu trading halt akibat aksi jual besar-besaran.

Dalam situasi seperti itu, buyback kerap digunakan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga saham. Dengan perusahaan ikut membeli sahamnya sendiri di pasar, tekanan jual dapat diredam dan kepercayaan investor dijaga.

Selain itu, aksi ini juga memberi sinyal bahwa manajemen menilai harga saham saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya.

Didukung Kinerja Keuangan yang Solid

Keputusan BCA melakukan buyback didukung oleh fundamental keuangan yang kuat. Sepanjang 2025, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun, tumbuh hampir 5% dibanding tahun sebelumnya.

Total aset perseroan juga mencapai Rp1.586,83 triliun, dengan rasio permodalan (CAR) yang sangat kuat di level 30,36%. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) rendah.

Kinerja positif berlanjut di awal 2026. Pada kuartal I, BCA mencatat laba bersih Rp14,68 triliun dengan total aset meningkat menjadi Rp1,64 kuadriliun.

Kondisi ini memberikan ruang bagi perseroan untuk menjalankan aksi korporasi besar tanpa mengganggu operasional utama.

Respons Pasar dan Implikasi ke Depan

Sejumlah analis menilai kombinasi antara dividen besar dan program buyback dapat menjadi katalis positif bagi saham BBCA. Aksi ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor, khususnya di tengah ketidakpastian pasar global.

Namun, buyback bukan jaminan harga saham akan langsung naik. Efektivitasnya tetap bergantung pada sentimen pasar secara keseluruhan, termasuk kondisi ekonomi dan arus dana investor.

Bagi pasar yang lebih luas, langkah BCA juga memiliki dampak sistemik. Sebagai saham blue chip dengan bobot besar di IHSG, pergerakan BBCA dapat memengaruhi stabilitas indeks secara keseluruhan.

Dengan dimulainya buyback ini, pelaku pasar akan mencermati bagaimana realisasi pembelian dilakukan dalam beberapa bulan ke depan, serta dampaknya terhadap pergerakan harga saham dan kepercayaan investor.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News