Home » Ekbis » Apa Itu Buyback Saham dan Kenapa BCA Berani Gelontorkan Rp5 Triliun?
Logo BCA BEILogo BCA di Gedung Bursa Efek Indonesia

Beritanda.com – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) resmi memulai buyback saham senilai maksimal Rp5 triliun sejak 28 April 2026. Aksi ini dilakukan setelah mendapat persetujuan RUPST Maret 2026, dengan periode pelaksanaan hingga 11 Maret 2027. Di tengah volatilitas pasar, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen BCA menilai sahamnya masih menarik secara fundamental.

Bagi investor, buyback bukan sekadar aksi teknis. Keputusan ini biasanya berkaitan langsung dengan strategi keuangan, persepsi nilai saham, hingga upaya menjaga kepercayaan pasar.

Apa Itu Buyback Saham dan Kenapa Penting?

Buyback saham adalah aksi perusahaan membeli kembali sahamnya yang beredar di pasar. Saham tersebut kemudian menjadi treasury stock dan tidak lagi dihitung sebagai saham beredar.

Dampaknya cukup langsung terhadap metrik keuangan. Ketika jumlah saham beredar berkurang, laba perusahaan akan dibagi ke lebih sedikit saham, sehingga earnings per share (EPS) meningkat.

Secara umum, tujuan buyback meliputi:

  • Menahan penurunan harga saham dengan menciptakan permintaan tambahan di pasar
  • Memberi sinyal undervalued bahwa harga saham dianggap lebih murah dari nilai wajarnya
  • Meningkatkan rasio keuangan seperti EPS dan return bagi pemegang saham
  • Menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian pasar

Namun, buyback tidak selalu berarti harga saham pasti naik. Efektivitasnya tetap bergantung pada sentimen pasar yang lebih luas dan kondisi ekonomi.

Regulasi Buyback di Indonesia

Di Indonesia, buyback diatur dalam POJK Nomor 29 Tahun 2023 yang mewajibkan keterbukaan informasi kepada publik. Dalam kondisi tertentu, OJK juga dapat memberikan relaksasi, termasuk buyback tanpa persetujuan RUPS saat pasar mengalami tekanan signifikan.

Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas pasar sekaligus memberi ruang bagi emiten untuk merespons volatilitas dengan cepat.

Kenapa BCA Berani Buyback Rp5 Triliun?

Keputusan BCA tidak muncul tanpa dasar. Secara fundamental, bank ini berada dalam kondisi yang sangat kuat.

Berikut gambaran kinerja BCA:

IndikatorNilai
Laba Bersih 2025Rp57,5 triliun
Laba Q1 2026Rp14,68 triliun
Total AsetRp1.586,83 triliun
CAR30,36%
NPL Gross1,71%

Angka-angka tersebut menunjukkan likuiditas dan profitabilitas yang solid. Dengan kondisi seperti ini, perusahaan memiliki ruang untuk mengalokasikan dana besar tanpa mengganggu operasional inti.

“Pelaksanaan buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia,” ujar Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong.

Selain itu, ada faktor eksternal. Saham BBCA sempat mengalami tekanan seiring pelemahan IHSG. Dalam konteks ini, buyback berfungsi sebagai penahan agar harga tidak jatuh lebih dalam.

Buyback BCA Dari 2024 hingga 2026

Langkah buyback BCA bukan sekali ini saja. Ada pola berulang yang menunjukkan strategi jangka panjang:

  • Oktober 2024 – Mei 2025: Buyback awal 28,3 juta saham senilai Rp249,98 miliar
  • Oktober 2025: Pengumuman buyback besar hingga Rp5 triliun
  • Maret 2026: Disetujui RUPST untuk periode 12 bulan
  • 28 April 2026: Realisasi buyback dimulai

Menariknya, saham hasil buyback sebelumnya tidak langsung dilepas kembali ke pasar. Ini menunjukkan pendekatan konservatif dalam mengelola treasury stock.

Sinyal Kuat, Tapi Bukan Tanpa Risiko

Buyback sering dianggap sinyal positif. Namun ada hal yang sering luput: aksi ini juga memiliki risiko.

Ketika perusahaan membeli saham di harga tertentu lalu harga pasar turun, potensi kerugian secara akuntansi bisa terjadi. Ini pernah terlihat pada buyback BCA sebelumnya yang mengalami unrealized loss saat harga saham melemah.

Artinya, buyback bukan jaminan keuntungan instan, baik bagi perusahaan maupun investor.

Di sisi lain, langkah ini tetap memberi pesan penting: manajemen yakin terhadap prospek jangka panjang. Dalam konteks BCA, keyakinan itu didukung oleh kinerja keuangan yang konsisten tumbuh.

Buyback bisa menjadi indikator kepercayaan manajemen, tapi tetap perlu dilihat bersama faktor lain seperti kondisi makro, suku bunga, dan sentimen pasar global.

Ke depan, efektivitas buyback BCA akan sangat bergantung pada stabilitas pasar dan bagaimana perusahaan mengeksekusi program tersebut secara bertahap.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News