Beritanda.com – Bank Indonesia mencatat kredit menganggur atau undisbursed loan perbankan mencapai Rp 2.527,46 triliun pada Maret 2026, setara 22,59% dari total plafon kredit. Di saat yang sama, pertumbuhan kredit tetap naik 9,49% secara tahunan, menciptakan paradoks: likuiditas melimpah, namun tidak sepenuhnya mengalir ke sektor riil.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada ketersediaan dana, melainkan pada penyerapan kredit oleh dunia usaha dan masyarakat. Data ini sekaligus menjadi indikator awal bahwa mesin ekonomi belum bergerak optimal.
| Periode | Undisbursed Loan (Rp T) | Rasio |
|---|---|---|
| Maret 2025 | 2.354,5 | ~20,8% |
| Desember 2025 | 2.439,2 | 22,12% |
| Februari 2026 | 2.536,4 | 22,86% |
| Maret 2026 | 2.527,46 | 22,59% |
Secara fundamental, kondisi perbankan sebenarnya sangat solid. Rasio kecukupan modal (CAR) berada di level tinggi 25,83%, sementara kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di 2,17% (bruto). Likuiditas juga longgar dengan rasio AL/DPK mencapai 27,85% dan Dana Pihak Ketiga tumbuh 13,55%.
Namun, kekuatan ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi nyata.
Permintaan Lemah, Bukan Dana yang Kurang
Sejumlah pelaku industri menilai akar masalah terletak pada sisi permintaan. Dunia usaha cenderung menahan ekspansi meski fasilitas kredit sudah tersedia.
“Tantangan utama bukan likuiditas, tetapi permintaan kredit yang belum kuat. Banyak fasilitas sudah disetujui, tapi belum ditarik,” ujar Direktur Utama BRI, Hery Gunardi.
Sikap wait and see ini muncul di tengah ketidakpastian ekonomi dan pemulihan daya beli yang belum merata. Perusahaan lebih berhati-hati dalam mengeksekusi ekspansi, sementara rumah tangga belum agresif meningkatkan konsumsi berbasis kredit.
Di sisi lain, perbankan juga tidak sepenuhnya agresif. Meski likuiditas longgar, bank tetap selektif menyalurkan kredit, terutama ke sektor konsumsi dan UMKM yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi.
“Bank masih melakukan kajian mendalam sebelum kredit dicairkan, terutama di sektor-sektor baru,” jelas ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto.
Ketimpangan Pertumbuhan Kredit
Data menunjukkan pertumbuhan kredit tidak merata antar segmen:
- Kredit investasi: tumbuh 20,85% (yoy)
- Kredit konsumsi: tumbuh 5,88% (yoy)
- Kredit modal kerja: hanya 4,38% (yoy)
Lonjakan kredit investasi mengindikasikan ekspansi jangka panjang, seperti pembangunan aset atau proyek. Namun, lemahnya kredit modal kerja menunjukkan aktivitas operasional bisnis belum sepenuhnya pulih.
Artinya, perusahaan mulai membangun kapasitas, tetapi belum yakin untuk meningkatkan produksi atau distribusi secara agresif.
Transmisi Ekonomi Tersendat
Bank Indonesia menilai kondisi ini sebagai indikasi bahwa transmisi kebijakan moneter ke sektor riil belum optimal. Dana tersedia di sistem keuangan, tetapi tidak sepenuhnya berubah menjadi aktivitas ekonomi.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut siklus keuangan saat ini masih berada di bawah siklus makroekonomi. Ini berarti pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya didorong oleh ekspansi kredit.
Kondisi ini diperkuat oleh faktor struktural, termasuk tekanan daya beli dan jejak deflasi yang sempat terjadi beruntun dalam beberapa waktu terakhir. Situasi tersebut membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.
So What: Risiko ke Pertumbuhan Ekonomi
Besarnya kredit menganggur bukan sekadar angka, tetapi sinyal bahwa potensi ekonomi belum dimanfaatkan.
Jika kondisi ini berlanjut:
- Konsumsi rumah tangga berpotensi stagnan
- Ekspansi bisnis tertahan
- Target pertumbuhan ekonomi 4,9–5,7% terancam tidak tercapai
Di sisi lain, ini juga membuka ruang kebijakan. Dengan inflasi yang relatif terkendali dan likuiditas tinggi, sebenarnya ada peluang untuk mendorong kredit tanpa memicu tekanan harga.
Namun, kunci utamanya tetap pada pemulihan kepercayaan dan permintaan dari sektor riil.
Program percepatan intermediasi seperti PINISI 2026 menjadi salah satu upaya menjembatani kesenjangan antara bank yang memiliki dana dan sektor usaha yang membutuhkan. Tantangannya adalah memastikan kredit tidak hanya tersedia, tetapi benar-benar digunakan.
