Demak, Beritanda.com – Dalam waktu kurang dari tiga bulan, Kabupaten Demak kembali dilanda banjir besar akibat tanggul Sungai Tuntang jebol, memunculkan pertanyaan: apakah wilayah ini sudah memasuki fase krisis bencana yang berulang?
Dua Banjir Besar dalam Satu Kuartal
Banjir pada Jumat, 3 April 2026, bukanlah kejadian tunggal. Sebelumnya, pada Januari 2026, banjir juga merendam sejumlah wilayah di Demak dengan ketinggian air mencapai 50 cm.
Kini, skala bencana meningkat drastis. Enam titik tanggul Sungai Tuntang dilaporkan jebol, memicu genangan setinggi 100 hingga 140 cm yang merendam sembilan desa di empat kecamatan.
Dampaknya tidak kecil. Dua korban jiwa dilaporkan meninggal, termasuk seorang anak, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi ke 14 titik penampungan darurat.
Peristiwa berulang dalam waktu singkat ini menunjukkan satu pola yang sulit diabaikan: Demak tidak lagi sekadar rawan banjir, tetapi mulai masuk fase bencana berulang.
Lebih dari Sekadar Hujan Deras
Hujan dengan intensitas tinggi memang menjadi pemicu utama. Namun, kerusakan tanggul di enam titik sekaligus mengindikasikan masalah yang lebih dalam.
Di Desa Trimulyo dan Sidoharjo, tanggul jebol dengan panjang bervariasi hingga puluhan meter. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan air tidak lagi mampu ditahan oleh sistem infrastruktur yang ada.
Data risiko bencana memperkuat gambaran tersebut. Kabupaten Demak tercatat memiliki potensi kerugian banjir tertinggi di Jawa Tengah, mencapai lebih dari Rp9 triliun.
Artinya, sejak awal wilayah ini memang berada dalam kategori risiko tinggi—dan kejadian 2026 memperlihatkan bahwa risiko tersebut kini mulai menjadi realitas berulang.
Pola Lama yang Terulang, Skala yang Membesar
Jika dibandingkan dengan banjir Januari 2026, terdapat dua perbedaan mencolok.
Pertama, skala genangan yang lebih tinggi dan luas. Kedua, adanya korban jiwa dalam kejadian April.
Ini mengindikasikan bahwa bukan hanya frekuensi yang meningkat, tetapi juga intensitas dan dampak bencana.
“Ribuan pengungsi tersebut mengungsi ke sejumlah tempat, mulai dari balai desa, kantor kecamatan, tempat ibadah, sekolah, hingga rumah warga. Total ada 14 lokasi pengungsian” — ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono.
Meski demikian, ia juga menyebutkan kondisi mulai membaik.
“Namun, tren untuk hari ini mulai menurun, baik di Desa Trimulyo maupun desa-desa lainnya” — tuturnya.
Penurunan genangan ini menjadi kabar baik, tetapi tidak menghapus fakta bahwa pola bencana terus berulang.
Menuju “Alert Period” Bencana Hidrometeorologi
Fenomena dua banjir besar dalam satu kuartal membuka satu kemungkinan baru: Demak memasuki fase “alert period”, periode di mana bencana tidak lagi sporadis, tetapi terjadi berulang dalam waktu berdekatan.
Fase ini biasanya ditandai oleh:
- Infrastruktur yang mulai kewalahan menahan beban
- Pola cuaca yang semakin ekstrem
- Dampak sosial yang semakin luas
Di Demak, ketiganya mulai terlihat.
Abrasi pantai yang terus terjadi, terutama di wilayah seperti Sayung, memperparah kondisi. Air laut yang masuk ke daratan membuat sistem drainase dan sungai semakin sulit menampung debit air saat hujan tinggi.
Di sisi lain, perbedaan data jumlah terdampak—antara 2.839 hingga 4.280 jiwa—menunjukkan tantangan lain dalam penanganan bencana: akurasi dan kecepatan pendataan di lapangan.
Antara Respons Cepat dan Tantangan Jangka Panjang
Respons darurat berjalan relatif cepat. Evakuasi dilakukan, logistik disalurkan, dan penguatan tanggul darurat menggunakan karung pasir segera dilakukan.
Namun, pola berulang ini menyoroti satu hal penting: penanganan tidak bisa terus bersifat reaktif.
Jika siklus ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan saat banjir terjadi, tetapi juga:
- Penurunan kualitas hidup warga
- Kerugian ekonomi berulang
- Tekanan terhadap anggaran daerah
Pertanyaannya kini bukan lagi kapan banjir berikutnya datang, tetapi apakah Demak siap menghentikan siklus ini?
Krisis yang Diam-Diam Terbentuk
Banjir April 2026 mungkin akan surut dalam hitungan hari. Namun, pola yang terbentuk jauh lebih sulit diatasi.
Ketika bencana terjadi dua kali dalam waktu singkat, itu bukan lagi sekadar kejadian alam—melainkan sinyal bahwa sebuah wilayah sedang bergerak menuju krisis yang lebih besar.
Demak kini berada di titik krusial. Tanpa perubahan strategi jangka panjang, banjir berikutnya bukan lagi kemungkinan, melainkan kepastian.
