Beritanda.com – Saat sebagian penonton Korea Selatan melayangkan protes keras atas dugaan distorsi sejarah dalam drama Perfect Crown, serial yang dibintangi IU dan Byeon Woo-seok itu justru menutup penayangannya dengan rekor rating tertinggi.
Episode final drama produksi MBC tersebut mencatat rating nasional 13,8 persen pada Sabtu (16/5/2026), menjadikannya program televisi paling banyak ditonton pada slot waktunya. Di saat bersamaan, kontroversi terkait simbol kerajaan, istilah seremonial, hingga akurasi kostum memicu gelombang kritik yang memaksa tim produksi melakukan revisi besar-besaran.
Fenomena ini menciptakan paradoks yang jarang terjadi di industri drama Korea: semakin keras dihujat, semakin tinggi angka penontonnya.
Secara komersial, Perfect Crown memang tampil impresif. Drama dengan biaya produksi 30 miliar won itu juga disebut Disney+ sebagai konten Korea paling banyak ditonton secara global dalam 28 hari pertama, serta masuk daftar Top 10 di 47 negara.
Namun kesuksesan angka itu dibayangi polemik historis yang meledak sejak episode 11.
Kontroversi memuncak ketika adegan penobatan menampilkan seruan “Cheonse” alih-alih “Manse,” disertai penggunaan mahkota kerajaan yang dinilai salah secara historis.
Bagi sebagian publik Korea, detail itu bukan sekadar kesalahan artistik.
Istilah tersebut dianggap merujuk pada era ketika Joseon berada di bawah pengaruh Dinasti Qing, menyentuh sensitivitas nasionalisme yang hingga kini masih sangat kuat dalam memori sejarah Korea.
Ketika Kontroversi Justru Mengerek Popularitas
Alih-alih memicu boikot masif, kritik justru memperbesar rasa penasaran publik.
Di media sosial Korea, diskusi soal adegan kontroversial membuat nama Perfect Crown mendominasi percakapan daring selama beberapa hari setelah episode 11 tayang.
Pola ini dikenal dalam industri hiburan sebagai efek amplifikasi kontroversi: semakin besar perdebatan, semakin tinggi dorongan audiens untuk menonton dan menilai sendiri.
Fenomena ini berbeda dengan kasus drama Joseon Exorcist pada 2021 yang langsung dihentikan setelah protes publik.
Perfect Crown berhasil bertahan karena kontroversinya berada pada level interpretasi simbolik, bukan dianggap menghina fondasi sejarah secara eksplisit.
Tim produksi bergerak cepat meredam situasi.
Pada 16 Mei, MBC merilis permintaan maaf resmi.
“Kami menerima kritik penonton dengan sangat serius terkait adegan penobatan dan seharusnya lebih berhati-hati ketika dunia fiksi bersinggungan dengan sejarah nyata,” tulis pihak produksi.
Revisi episode dilakukan hanya dalam hitungan hari. Pada 19 Mei, versi perbaikan episode 11 sudah diunggah ulang di Disney+, Wavve, dan kanal resmi drama.
Langkah cepat ini dinilai berhasil mencegah krisis berkembang menjadi pembatalan total.
IU dan Byeon Woo-seok Turun Langsung Minta Maaf
Situasi makin serius ketika dua pemeran utama ikut buka suara secara pribadi.
IU mengaku menyesal karena kurang mendalami konteks sejarah naskah.
“Sebagai pemeran utama, saya merasa sangat menyesal karena gagal menunjukkan tanggung jawab dan membuat banyak orang kecewa,” tulis IU melalui media sosialnya.
Byeon Woo-seok juga mengunggah surat tulisan tangan.
“Dengan berat hati, saya menulis kepada mereka yang merasa tidak nyaman dan khawatir karena serial ini,” ujarnya.
Permintaan maaf terbuka dari aktor papan atas biasanya dilakukan hanya ketika tekanan publik dianggap cukup besar untuk memengaruhi reputasi jangka panjang.
Langkah ini menunjukkan skala sensitivitas isu tersebut di Korea Selatan.
Di sisi lain, banyak penonton tetap memuji chemistry IU dan Byeon Woo-seok yang dianggap menjadi kekuatan utama serial ini.
Visual megah, sinematografi mewah, dan premis kerajaan konstitusional modern juga dipandang sebagai eksperimen berani yang jarang dilakukan drama Korea.
Paradoks Perfect Crown memperlihatkan perubahan besar dalam konsumsi hiburan digital.
Kontroversi kini tak selalu mematikan karya.
Dalam banyak kasus, ia justru menjadi bahan bakar algoritma platform streaming yang memperluas jangkauan percakapan.
Bagi industri K-drama global, kasus ini menjadi pengingat penting, kreativitas tanpa riset budaya yang matang bisa memicu krisis reputasi, tetapi respons cepat dan transparan masih dapat menyelamatkan kepercayaan publik.
Dan untuk Perfect Crown, badai kritik justru menjadi panggung yang mengantar drama ini ke puncak popularitasnya.
