Home » News » Internasional » Versi Trump soal Alex Pretti Dipatahkan Rekaman Video
Seseorang bereaksi di tugu peringatan sementara di lokasi tempat Alex Pretti ditembak hingga tewasSeseorang bereaksi di tugu peringatan sementara di lokasi tempat Alex Pretti ditembak hingga tewas, 25 Januari - dok REUTERS

Beritanda.com – Agen imigrasi federal menembak mati seorang perawat bernama Alex Pretti di Minneapolis pada Sabtu lalu di tengah operasi deportasi besar-besaran Presiden Donald Trump. Meski pemerintah mengklaim aksi tersebut sebagai bela diri, rekaman video warga justru menunjukkan korban hanya memegang ponsel sebelum akhirnya tewas akibat rentetan tembakan di punggung.

Rekaman Video Bongkar Fakta Lapangan

Video detik-detik pembunuhan yang telah diverifikasi menunjukkan Alex Pretti, pria berusia 37 tahun, sama sekali tidak memegang senjata api saat kejadian. Ia terlihat sedang menggunakan telepon genggamnya untuk merekam tindakan represif agen federal terhadap sejumlah pengunjuk rasa di jalanan Minneapolis yang membeku.

Alex Pretti bergerak maju untuk melindungi dua orang wanita yang didorong oleh petugas ke tanah. Saat ia mengangkat lengan kiri untuk menghalau semprotan merica dari petugas, beberapa agen langsung menyergap dan memaksanya berlutut.

Ketegangan memuncak saat salah satu agen berteriak tentang adanya senjata api di tengah pergulatan tersebut. Video memperlihatkan seorang petugas mengambil pistol dari pinggang Alex Pretti—yang belakangan diketahui memiliki izin resmi—dan menjauh dari kerumunan.

Nahas, meski senjata sudah diamankan, seorang petugas lain justru mengarahkan pistol ke punggung Alex Pretti. Empat tembakan dilepaskan secara beruntun dari jarak dekat, diikuti tembakan tambahan dari agen lainnya yang membuat korban tersungkur.

Para korban adalah agen Patroli Perbatasan,” klaim pejabat senior Patroli Perbatasan, Gregory Bovino, dalam program State of the Union di CNN.

Pernyataan senada juga dilontarkan Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, yang menyebut penembakan terhadap Alex Pretti adalah langkah defensif yang terukur.

Namun, narasi pemerintah tersebut dibantah keras oleh Kepala Polisi Minneapolis, Brian O’Hara. “Video-video tersebut berbicara sendiri,” tegas O’Hara seraya menambahkan bahwa ia tidak melihat bukti Alex Pretti mengacungkan senjata kepada petugas.

Mantan kepala kantor lapangan ICE di Baltimore, Darius Reeves, turut mengkritik kekacauan koordinasi dalam insiden berdarah ini.

Jelas tidak ada yang berkomunikasi dengan saya, berdasarkan pengamatan saya tentang bagaimana tim itu merespons,” ungkap Reeves kepada Reuters.

Otoritas Lokal Kecam Penanganan Federal

Gubernur Minnesota, Tim Walz, kini mendesak Presiden Trump untuk segera menarik ribuan agen bersenjata dari wilayahnya. Walz menilai kehadiran pasukan federal yang dikerahkan Trump telah melampaui batas konstitusi dan memicu ketakutan luar biasa di masyarakat.

Tragedi yang menimpa Alex Pretti merupakan kematian warga Amerika kedua di tangan agen imigrasi dalam bulan ini di Minneapolis. Sebelumnya, seorang warga bernama Renee Good juga tewas ditembak pada 7 Januari saat berada di dalam kendaraannya.

Pemerintah Trump berkilah bahwa Good mencoba menabrak petugas, namun saksi mata menyatakan hal yang sebaliknya. Ketidakpercayaan publik semakin meningkat setelah Departemen Kehakiman AS menarik diri dari penyelidikan lokal terkait kematian Good.

Hakim federal kini telah mengeluarkan perintah darurat yang melarang pemerintahan Trump menghancurkan bukti apa pun terkait kasus Alex Pretti. Langkah hukum ini diambil menyusul kekhawatiran adanya manipulasi fakta oleh pihak keamanan federal.

Para pemimpin korporasi besar seperti Target, Cargill, dan Best Buy juga mulai bersuara melalui surat terbuka. Mereka menuntut penurunan ketegangan segera agar stabilitas di Minnesota tidak semakin runtuh akibat konflik penegak hukum ini.

Duka Mendalam untuk Sang Perawat ICU

Di lokasi penembakan, ratusan petugas kesehatan berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Alex Pretti. Mereka meletakkan karangan bunga dan lilin di tengah tumpukan salju sebagai simbol kehilangan rekan kerja yang berdedikasi.

Semasa hidupnya, Alex Pretti bertugas sebagai perawat perawatan intensif (ICU) di rumah sakit Departemen Urusan Veteran. Rekan kerjanya mengenang pria tersebut sebagai sosok yang sangat penyayang dan selalu membantu sesama tanpa pamrih.

Dia penyayang dan baik hati. Semua ini tidak masuk akal,” ujar seorang perawat yang menangis tersedu-sedu di tempat kejadian. Ia menolak disebutkan namanya karena merasa terancam oleh kehadiran agen federal yang masih berpatroli.

Mantan Presiden Barack Obama dan Bill Clinton pun tidak tinggal diam menanggapi insiden yang menewaskan Alex Pretti ini. Obama menyebut nilai-nilai Amerika sedang berada dalam ancaman serius akibat tindakan otoriter di lapangan.

Ini harus dihentikan,” tegas Barack dan Michelle Obama dalam pernyataan resmi mereka. Sementara itu, Bill Clinton menuduh pemerintahan Trump telah menyebarkan kebohongan publik demi menutupi kesalahan fatal para agennya.

Jaksa Agung Minnesota, Keith Ellison, menceritakan betapa hancurnya perasaan para tenaga medis di wilayahnya saat ini. Putranya yang juga seorang perawat melaporkan bahwa rekan-rekan Alex Pretti terus menangis saat menjalankan tugas mereka di rumah sakit.

Meski gelombang protes terus membesar, Presiden Trump tetap membela operasi militeristik ini sebagai langkah penegakan hukum imigrasi. Namun bagi warga Minneapolis, kematian Alex Pretti adalah bukti nyata dari kebijakan yang mematikan bagi rakyatnya sendiri.