Home » News » Nasional » AS Klaim Kendali Selat Hormuz, Iran Balas Tutup Jalur Energi Dunia
Kapal Perang Iran di Perairan IndiaKapal Perang Iran saat berada di peraiaran India - dok EPA | Antonio Lacerda

Beritanda.com – Krisis Selat Hormuz memasuki fase paling panas per 5 Mei 2026. Amerika Serikat mengklaim telah membuka jalur pelayaran dan memiliki “kendali absolut”, sementara Iran tetap mengancam dan menyatakan selat bisa kembali ditutup kapan saja. Konflik ini sudah mengganggu hingga lebih dari 10 juta barel minyak per hari dari pasar global.

Situasi di jalur energi paling vital dunia itu kini berada dalam kondisi tidak stabil, dengan klaim yang saling bertentangan antara Washington dan Teheran.

Project Freedom, AS Kawal Kapal, Iran Balas Serang

Memasuki awal Mei 2026, Amerika Serikat meluncurkan operasi terbaru bertajuk Project Freedom. Operasi ini bertujuan mengawal kapal-kapal asing melintasi Selat Hormuz setelah Iran berulang kali menutup akses.

Militer AS menyatakan telah menenggelamkan 6 kapal kecil Iran yang mencoba menyerang kapal sipil. Selain itu, pasukan AS juga menghadapi serangan rudal jelajah, drone, dan taktik kapal cepat (swarm boat) dari Iran.

“Jika Iran mencoba mengganggu, kami akan menggunakan kekuatan,” pernyataan Presiden AS, Donald Trump.

Namun Iran merespons keras.

“Pasukan militer asing yang memasuki Selat Hormuz akan menjadi target,” tegas pejabat militer Iran, mengindikasikan bahwa konflik masih jauh dari mereda.

Klaim Berlawanan, Siapa Sebenarnya Menguasai?

Amerika Serikat menyatakan jalur pelayaran sudah mulai dibuka dan aman dilalui di bawah pengawalan militernya.

Sebaliknya, Iran menegaskan tidak ada kapal yang benar-benar bisa melintas dengan aman tanpa persetujuan mereka. Bahkan, sebelumnya Iran sempat:

  • Menutup selat secara penuh (awal Maret 2026)
  • Memasang ranjau laut
  • Menyita kapal asing
  • Memungut biaya hingga US$1 juta per kapal

Kontradiksi ini membuat status Selat Hormuz menjadi abu-abu secara de facto, terbuka di atas kertas, tetapi penuh risiko di lapangan.

Minyak Melonjak, Ekonomi Tertekan

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20–25% pasokan minyak dunia melewati titik sempit ini setiap hari.

Gangguan yang terjadi sejak Maret 2026 langsung memicu lonjakan harga energi global.

Berikut pergerakan harga minyak Brent:

PeriodeHargaKeterangan
Awal 2026~US$73/barelSebelum konflik
Maret 2026>US$100/barelSelat mulai ditutup
30 April 2026US$126,41/barelTertinggi 4 tahun
5 Mei 2026~US$110/barelEfek Project Freedom

Lonjakan ini bukan sekadar angka. Dampaknya langsung terasa:

  • Risiko resesi global meningkat
  • Biaya logistik dan produksi naik
  • Harga barang turunan minyak ikut terdorong
  • Imbas ke Indonesia: Subsidi Membengkak, Rupiah Tertekan

Bagi Indonesia, krisis ini menjadi ancaman serius.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, tekanan langsung terlihat pada:

  • Subsidi energi berpotensi membengkak hingga Rp210 triliun
  • Rupiah melemah ke kisaran Rp16.893 per dolar AS
  • Cadangan BBM hanya cukup sekitar 20 hari

Kenaikan harga minyak juga mulai merambat ke sektor riil, termasuk harga produk plastik, kemasan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Dari Epic Fury ke Blokade Ganda

Krisis ini bukan terjadi dalam semalam.

Konflik memuncak sejak 28 Februari 2026 saat AS dan Israel meluncurkan Operation Epic Fury, dengan hampir 900 serangan dalam 12 jam pertama ke target militer Iran.

Iran kemudian membalas dengan menutup Selat Hormuz pada awal Maret—langkah yang langsung mengguncang pasar energi global.

Situasi sempat mereda lewat gencatan senjata 8 April, namun hanya berlangsung singkat. Setelah negosiasi gagal, konflik berubah menjadi blokade ganda:

  • Iran mengontrol akses selat
  • AS memblokade pelabuhan Iran

Kondisi ini menciptakan kebuntuan yang belum terselesaikan hingga kini.

Dengan situasi yang terus berubah, ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Eskalasi militer lanjutan jika insiden di laut meningkat
  • Gencatan senjata baru melalui mediasi internasional
  • Perang gesekan jangka panjang yang menjaga harga energi tetap tinggi

Yang jelas, Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan titik tekan geopolitik global.

Selama belum ada kesepakatan permanen antara AS dan Iran, dunia akan terus berada dalam bayang-bayang krisis energi berikutnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News