Beritanda.com – Ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz kembali mengguncang pasar energi global. Jalur laut yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari itu kini menjadi titik paling rawan di dunia setelah baku tembak terbaru antara kapal perang AS dan pasukan Iran pada 7 Mei 2026.
Dampaknya langsung terasa ke berbagai sektor. Harga minyak dunia melonjak tajam, pelayaran internasional terganggu, dan negara-negara importir energi seperti Indonesia mulai menghadapi ancaman tekanan fiskal serius jika konflik terus membesar.
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan seperlima perdagangan gas alam cair global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Ketika jalur ini terganggu, efeknya menjalar ke harga BBM, inflasi, hingga rantai pasok industri dunia.
| Indikator | Dampak Konflik Hormuz 2026 |
|---|---|
| Minyak yang melintas per hari | 20 juta barel |
| Harga minyak global | Naik dari US$73 menjadi di atas US$126 per barel |
| Kapal komersial terdampak | Lebih dari 1.550 kapal |
| Pelaut terjebak di kawasan Teluk | Sekitar 22.000 orang |
| Risiko subsidi energi Indonesia | Membengkak hingga Rp210 triliun |
Konflik terbaru ini merupakan lanjutan dari ketegangan panjang sejak “Perang Dua Belas Hari” pada Juni 2025. Saat itu, Israel melancarkan serangan besar ke Iran yang kemudian diikuti serangan udara Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Teheran.
Situasi berubah drastis pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury. Serangan itu menargetkan Teheran dan sejumlah kota penting Iran. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke arah Israel serta target AS di Timur Tengah.
Tak lama setelah itu, Iran memperketat akses Selat Hormuz dan melarang kapal yang dikaitkan dengan AS maupun Israel melintas.
Negosiasi Gagal, Ancaman Perang Kembali Membesar
Sempat muncul harapan damai ketika gencatan senjata diberlakukan pada awal April 2026. Delegasi AS dan Iran bahkan bertemu di Islamabad, Pakistan, untuk melakukan negosiasi langsung.
Namun pembicaraan selama 21 jam itu gagal menghasilkan kesepakatan permanen.
Washington menuntut Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium dan membatasi program rudalnya. Iran menolak karena menilai tuntutan tersebut melanggar kedaulatan nasional mereka.
Ketegangan kembali meningkat pada pertengahan April setelah Iran sempat membuka Selat Hormuz untuk kapal komersial, lalu kembali menutupnya kurang dari 24 jam kemudian.
Situasi makin panas setelah insiden terbaru pada 7 Mei 2026.
Menurut Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), pasukan Iran meluncurkan rudal, drone, dan kapal kecil ke arah tiga kapal perang AS yang melintas di jalur internasional Selat Hormuz.
Kapal yang terlibat antara lain USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason.
AS mengklaim tidak ada aset militernya yang mengalami kerusakan. Namun Iran menyebut Washington lebih dulu menyerang tanker minyak dan wilayah sipil Iran.
Sampai saat ini, belum ada verifikasi independen mengenai klaim kedua pihak.
Dunia Mulai Khawatir Krisis Energi Baru
Yang membuat konflik ini sangat berbahaya adalah dampaknya terhadap ekonomi global.
Lonjakan harga minyak sudah mulai memukul industri manufaktur dunia. Harga bahan baku berbasis minyak seperti plastik, tekstil, dan karet sintetis ikut naik tajam. Sejumlah negara mulai melaporkan gangguan pasokan produk konsumsi dan alat kesehatan.
Indonesia termasuk negara yang paling rentan terkena dampak jika krisis berlangsung lama.
APBN 2026 sebelumnya disusun dengan asumsi harga minyak sekitar US$70 per barel. Namun harga kini telah menembus US$126 per barel, memicu ancaman pembengkakan subsidi energi hingga Rp210 triliun.
Cadangan BBM nasional juga menjadi sorotan karena disebut hanya cukup untuk sekitar 20 hari, jauh di bawah rekomendasi International Energy Agency yang mencapai 90 hari.
Selain ekonomi, konflik ini juga memperlihatkan perebutan pengaruh global yang makin terbuka. China dilaporkan memainkan peran penting di balik layar dalam mendorong Iran menerima gencatan senjata April lalu, meski Beijing belum banyak bicara secara terbuka.
Di sisi lain, pernyataan Presiden Donald Trump justru memunculkan paradoks baru. Setelah sebelumnya mengklaim program nuklir Iran telah “dihancurkan”, Trump belakangan kembali menyebut Iran masih menjadi ancaman nuklir serius.
“Sama seperti kita mengalahkan mereka lagi hari ini, kita akan mengalahkan mereka jauh lebih keras, dan jauh lebih brutal, di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan mereka!” kata Trump melalui Truth Social.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa gencatan senjata saat ini masih sangat rapuh. Kedua pihak sama-sama berbicara soal perdamaian, tetapi pada saat bersamaan terus mempertahankan tekanan militer di lapangan.
Jika konflik kembali meledak penuh, Selat Hormuz berpotensi berubah menjadi pusat krisis energi terbesar dunia dalam beberapa tahun terakhir.
