Home » News » Daerah » Terungkap! Bantar Gebang Nyaris Penuh, Longsor Jadi Alarm Krisis Sampah Jakarta
Gunung Sampah Bantar GebangGunung Sampah Bantar Gebang, Bekasi Jawa Barat - dok Ist

Bekasi, Beritanda.com – Gunung sampah di Bantar Gebang akhirnya runtuh. Bukan sekadar kecelakaan, banyak pihak menyebut tragedi ini sebagai alarm keras bahwa krisis pengelolaan sampah Jakarta sudah berada di titik genting.

Setiap hari ribuan truk membawa limbah kota ke Bantar Gebang. Dengan kiriman sekitar 7.500–8.000 ton per hari dan kapasitas yang sudah lebih dari 80 persen terisi, insiden longsor pada Minggu (8/3/2026) memperlihatkan betapa rapuhnya sistem yang selama ini menopang pengelolaan sampah ibu kota.

Bantar Gebang Disebut “Gunung Es” Krisis Sampah Jakarta

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut kondisi Bantar Gebang sebagai fenomena “gunung es”.

“Bantar Gebang adalah fenomena gunung es kegagalan pengelolaan sampah Jakarta yang selama 37 tahun menampung beban hingga puluhan juta ton,” ujarnya.

Artinya, masalah sebenarnya jauh lebih besar dari yang terlihat.

Bayangkan ini:

  • Luas TPST mencapai 110,3 hektare
  • Gunungan sampah lebih dari 50 meter
  • Setara gedung 16 lantai
  • Total timbunan diperkirakan mendekati 80 juta ton

Jika diibaratkan, Bantar Gebang bukan lagi sekadar tempat pembuangan. Ia sudah berubah menjadi “gunung buatan” yang terus tumbuh setiap hari.

Dan seperti gunung yang terlalu tinggi, stabilitasnya mulai dipertanyakan.

Kenapa Longsor Bisa Terjadi?

Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, salah satu pemicu langsung longsor adalah curah hujan ekstrem yang terjadi pada hari kejadian.

“Curah hujan saat itu mencapai 264 milimeter per hari. Hujan yang lama meresap ke dalam tumpukan sampah membuat permukaan menjadi licin dan akhirnya longsor,” jelasnya.

Secara teknis, kondisi ini menciptakan tekanan hidrostatik di dalam lapisan sampah.

Sederhananya begini:

Air hujan meresap → lapisan sampah menjadi berat dan licin → struktur tumpukan kehilangan keseimbangan → longsor pun terjadi.

Namun banyak pengamat menilai hujan hanya pemicu, bukan penyebab utama.

Masalah Struktural yang Sudah Lama Terjadi

Sejarah Bantar Gebang sebenarnya sudah dipenuhi peringatan.

Longsor Bantar Gebang
Evakuasi akibat dari longsor di bantar gebang, Bekasi (08/03/2026) masih terus dilakukan oleh para petugas – dok Ist

Beberapa insiden sebelumnya antara lain:

  1. 2003 – longsor menimbun permukiman pemulung
  2. 2006 – runtuhnya Zona 3 menelan korban jiwa
  3. 31 Desember 2025 – longsor menimpa truk hingga terperosok ke sungai
  4. Januari 2026 – landasan amblas menyeret kendaraan operasional
  5. Maret 2026 – longsor besar kembali terjadi

Artinya, tragedi terbaru ini bukan kejadian tunggal.

Dalam empat bulan terakhir saja, Bantar Gebang mengalami tiga insiden longsor.

Tapi tunggu dulu… ini yang menarik.

Meski peringatan sudah berulang, volume sampah yang masuk ke lokasi tersebut tidak pernah benar-benar berkurang.

Setiap Hari Jakarta Mengirim Ribuan Ton Sampah

Data pengelolaan sampah menunjukkan betapa besarnya tekanan terhadap Bantar Gebang.

Rata-rata kiriman sampah Jakarta:

  • 2022: 7.544 ton per hari
  • 2024: 7.735 ton per hari
  • 2026: sekitar 7.500–8.000 ton per hari

Jika dihitung kasar, itu berarti sekitar 300 truk sampah datang setiap hari.

Coba bayangkan: setiap hari sebuah “gunung baru” kecil ditambahkan ke lokasi yang sama.

Tidak heran jika banyak pihak menyebut kondisi Bantar Gebang sebagai bom waktu lingkungan.

Ancaman Hukum dan Perubahan Kebijakan

Pemerintah pusat kini mulai melakukan penyelidikan terhadap pengelolaan tempat pembuangan tersebut.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, pihak yang terbukti lalai dapat dijerat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Ancaman hukumnya tidak main-main:

  • 5–10 tahun penjara
  • Denda Rp5–10 miliar

Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong perubahan sistem.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah:

  • memperkuat pemilahan sampah dari sumber
  • memaksimalkan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan
  • menjadikan Bantar Gebang fokus pada sampah anorganik

Apakah langkah ini cukup?

Itu masih menjadi pertanyaan besar.

Yang jelas, tragedi longsor di Bantar Gebang telah membuka mata banyak orang: krisis sampah Jakarta bukan lagi sekadar isu lingkungan—melainkan persoalan keselamatan manusia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News