Home » Tekno » Inet » PHK 100.000+ Karyawan, Ini Pekerjaan Paling Terancam AI
Pekerjaan Terancam AIPekerjaan Terancam AI

Beritanda.com – Lebih dari 100.000 pekerja teknologi terdampak PHK sejak 2025, dan kini polanya makin jelas: perusahaan tidak sekadar memangkas biaya, tetapi mulai menggantikan fungsi kerja tertentu dengan AI.

Daftar Perusahaan yang PHK karena AI

Gelombang PHK global bukan lagi spekulasi. Sejumlah perusahaan besar secara eksplisit atau implisit mengaitkan efisiensi AI dengan pengurangan tenaga kerja.

Berikut beberapa kasus paling menonjol:

  • Amazon
    Memangkas sekitar 16.000 karyawan pada 2026, bagian dari restrukturisasi yang juga didorong efisiensi berbasis AI dan otomatisasi operasional.
  • Meta
    Berencana memangkas hingga 20% workforce (sekitar 16.000 karyawan) untuk mengimbangi biaya besar infrastruktur AI.
  • Block (perusahaan Jack Dorsey)
    Mem-PHK sekitar 4.000 karyawan atau 40% tenaga kerja, dengan alasan peningkatan efisiensi melalui “intelligence tools”.
  • Atlassian
    Mengurangi sekitar 1.600 karyawan (10% workforce) sebagai bagian dari adaptasi ke era AI.
  • Microsoft
    Melakukan PHK sekitar 15.000 karyawan sepanjang 2025, sambil menghemat ratusan juta dolar lewat AI di operasional seperti call center.
  • Intel
    Memangkas puluhan ribu tenaga kerja dalam beberapa tahap, dengan fokus mengalihkan investasi ke bisnis AI dan efisiensi operasional.
  • Salesforce
    Mengurangi ribuan pekerja setelah AI mampu menangani hingga 50% interaksi customer service.
  • Oracle
    Dilaporkan merencanakan PHK besar hingga puluhan ribu karyawan, seiring pergeseran agresif ke infrastruktur AI cloud.

Secara agregat, lebih dari 45.000 PHK global pada awal 2026, dan sekitar 20% di antaranya secara langsung dikaitkan dengan AI dan otomasi.

Pola yang Sama: AI Menggantikan Fungsi, Bukan Semua Pekerjaan

Jika ditarik benang merah, PHK ini tidak terjadi secara acak. Ada pola yang sangat spesifik—AI menggantikan fungsi pekerjaan tertentu.

Beberapa yang paling terdampak:

  • Customer Service & Support → digantikan chatbot & AI agents
  • Software QA & Testing → otomatisasi pengujian
  • Middle Management → organisasi dibuat lebih “flat
  • Content Moderation → AI filtering menggantikan tim manual
  • Back-office & administratif → workflow automation

CEO Block, Jack Dorsey, menjelaskan perubahan ini secara langsung:

“Dengan tim yang lebih kecil, perusahaan justru bisa bekerja lebih efektif dan lebih optimal.” — ujar CEO Block, Jack Dorsey.

Artinya, perusahaan tidak lagi membutuhkan banyak orang untuk output yang sama—bahkan bisa lebih besar.

Data Global: AI Mulai Jadi Faktor Nyata PHK

Skala perubahan ini semakin terlihat dari data global:

  • 100.000+ PHK sepanjang 2025 terkait AI
  • 31.000+ PHK di awal 2026
  • Sekitar 20–23% PHK kini menyebut AI secara eksplisit
  • Total PHK teknologi bisa tembus 165.000+ pekerjaan dalam satu periode gelombang besar

Bahkan, pada 2025 saja, lebih dari 50.000 PHK secara langsung dikaitkan dengan AI, melonjak drastis dibanding dua tahun sebelumnya.

Namun menariknya, tidak semua analis sepakat bahwa AI adalah penyebab utama.

Beberapa menyebut fenomena ini sebagai kombinasi dari:

  • tekanan efisiensi biaya
  • restrukturisasi organisasi
  • dan “AI sebagai narasi” agar keputusan bisnis terlihat lebih progresif

Dampak Nyata: Skill Lama Mulai Tergeser

Yang paling terasa bukan sekadar angka PHK, tapi perubahan standar kompetensi.

Kini, perusahaan tidak lagi mencari tenaga kerja biasa, melainkan:

  • pekerja yang bisa menggunakan AI
  • bukan pekerja yang bersaing dengan AI

Dari sini, terbentuk dua kelompok:

  1. Pekerja rentan
    Mereka yang tugasnya repetitif dan mudah diotomasi
  2. Pekerja adaptif
    Mereka yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas

Inilah “missing piece” dari gelombang PHK saat ini: bukan tentang hilangnya pekerjaan secara total, tetapi tentang siapa yang masih relevan dalam sistem kerja baru berbasis AI.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News