Beritanda – Film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja hadir sebagai eksplorasi baru yang mengangkat tradisi kerasukan menjadi narasi sinematik, menempatkan praktik budaya tersebut dalam kerangka cerita yang lebih humanis dan reflektif.
Karya panjang ketiga ini melanjutkan pendekatan Wregas dalam membaca realitas sosial melalui sudut pandang personal. Setelah Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, film ini kembali menempatkan manusia sebagai pusat cerita.
Dalam film ini, Wregas menggarap naskah bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra. Cerita berfokus pada Bayu, seorang pemuda yang ingin menjadi perasuk terbaik di desanya.
Karakter Bayu diperankan Angga Yunanda, yang membawa dinamika ambisi dan pencarian jati diri dalam konteks tradisi lokal.
Tradisi Kerasukan sebagai Ruang Naratif
Yang jadi sorotan, film ini menjadikan pesta kerasukan sebagai elemen utama cerita. Latas, desa tempat Bayu tinggal, digambarkan memiliki tradisi tersebut secara turun-temurun.
Dalam praktiknya, kerasukan tidak hanya berfungsi sebagai kepercayaan, tetapi juga hiburan kolektif masyarakat. Hal ini menjadi fondasi naratif yang membedakan film ini dari pendekatan horor konvensional.
Wregas menempatkan fenomena tersebut sebagai pengalaman sosial yang hidup. Pendekatan ini membuka ruang tafsir yang lebih luas terhadap makna kerasukan.
“Film ini dibuat untuk membalikkan perspektif kerasukan yang biasanya menakutkan,” ujarnya.
Di sisi lain, narasi berkembang ketika mata air keramat di desa tersebut terancam. Bayu kemudian berinisiatif menggelar pesta besar sebagai upaya penggalangan dana.
Lapisan Konflik dan Eksplorasi Psikologis
Yang kerap luput diperhatikan, konflik dalam film ini tidak hanya bersifat eksternal. Perjalanan Bayu juga menghadirkan lapisan psikologis yang kompleks.
Ambisinya untuk menjadi perasuk terbaik justru membawanya pada kesadaran baru tentang keterbatasan diri. Dalam konteks ini, film menghadirkan pertanyaan tentang tanggung jawab dan pengorbanan.
Batas antara realitas dan imajinasi juga dibuat cair. Hal ini menciptakan ruang narasi yang tidak selalu linear.
Di sisi lain, tekanan dari luar desa menjadi bagian dari konflik yang memperkuat cerita. Warga Latas digambarkan menghadapi ancaman terhadap ruang hidup mereka.

Distribusi dan Penerimaan Internasional
Tak hanya itu, film ini juga mendapat perhatian di tingkat global. Para Perasuk telah melakukan pemutaran perdana di Sundance Film Festival 2026.
Selain itu, film ini juga terpilih dalam kompetisi Miami Film Festival ke-43 serta Fantaspoa di Brasil.
Dalam perkembangan selanjutnya, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.
Deretan pemain seperti Maudy Ayunda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, hingga Anggun turut memperkuat daya tarik film ini.
Dengan kombinasi pendekatan budaya dan eksplorasi sinematik, Para Perasuk menjadi bagian dari perkembangan perfilman Indonesia yang menempatkan tradisi sebagai ruang refleksi.
