Home » News » Internasional » Donald Trump Picu Kontroversi Usai Klaim Ancaman Nuklir Iran Tanpa Bukti
Presiden Amerika Serikat Donald TrumpPresiden Amerika Serikat Donald Trump

Beritanda.com – Donald Trump menyatakan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bertujuan menghilangkan ancaman nyata dari rezim Teheran, namun klaim tersebut muncul di tengah ketiadaan bukti konkret soal program senjata nuklir Iran. Pada Sabtu, Trump mengumumkan operasi tempur besar-besaran telah dimulai dan menegaskan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu langsung direspons Iran dengan ancaman pembalasan “dahsyat” dan memicu sorotan internasional.

Klaim Tegas Donald Trump soal Ancaman Nuklir

Dalam pernyataannya, Donald Trump menegaskan bahwa militer AS telah memulai operasi besar di Iran. “Belum lama ini, militer AS memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman dari rezim Iran,” katanya.

Trump juga menyampaikan sejumlah pernyataan keras terkait kemampuan militer Iran. “Kita akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah.”

Ia melanjutkan dengan ancaman terhadap kekuatan laut Teheran. “Kita akan memusnahkan angkatan laut mereka. Kita akan memastikan bahwa proksi ‘teroris’ di kawasan ini tidak lagi dapat mengacaukan kawasan atau dunia.”

Soal program nuklir, Donald Trump menegaskan sikapnya tanpa kompromi. “Kami akan memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Ini adalah pesan yang sangat sederhana.”

Ia menambahkan, “Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Rezim ini akan segera menyadari bahwa tidak seorang pun boleh menantang kekuatan dan kehebatan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.”

Bantahan Iran dan Sorotan Intelijen Internasional

Iran berulang kali menyatakan tidak pernah berniat membangun senjata nuklir. Teheran menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil, termasuk energi dan riset.

Baik intelijen Amerika Serikat maupun badan pengawas nuklir PBB sebelumnya tidak menemukan bukti bahwa Iran sedang mengejar senjata atom. Meski demikian, narasi ancaman nuklir tetap didorong oleh Israel dan sejumlah pihak di pemerintahan Trump.

Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya sedang mempersiapkan pembalasan yang “menghancurkan.” Televisi pemerintah Iran juga melaporkan rencana “membalas dendam” dan memberikan “tanggapan yang kuat.

Sementara itu, laporan dari Al Jazeera mengutip Alan Fisher yang menyebut sumber-sumbernya mengatakan keterlibatan AS dalam serangan bertujuan untuk “memenggal rezim Iran.” Ia menjelaskan bahwa serangan terkonsentrasi di wilayah yang diduga menjadi lokasi perlindungan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut laporan, salah satu area sasaran berada dekat kantor Khamenei di Teheran. Namun Reuters menyebut Khamenei telah dipindahkan ke lokasi aman dan tidak berada di ibu kota.

Fisher juga mengingatkan adanya kekhawatiran dari sejumlah negara yang mempertanyakan rencana pasca-serangan. Ia menyampaikan bahwa tidak ada jaminan penggantian pemimpin tertinggi akan otomatis menghasilkan pemerintahan pro-AS.

Pernyataan keras Donald Trump, di tengah belum adanya bukti konkret soal senjata nuklir Iran, kini menjadi pusat perdebatan global. Ketika ancaman militer dan balasan terus mengemuka, ketegangan antara Washington dan Teheran kembali memasuki fase yang semakin tidak pasti.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News