Home » Entertainment » Seleb » Dari Hollywood hingga Vatikan, Tekanan Global Kepung Trump soal Iran
Selebriti vs TrumpBanyak selebriti terkenal dunia yang menentang Trump, Mark Ruffalo salah satunya

Beritanda.com – Gelombang kritik terhadap Donald Trump atas konflik Iran tak lagi datang dari satu arah, melainkan dari Hollywood hingga pemimpin dunia, membentuk tekanan moral global yang kian sulit diabaikan.

Ketika serangan militer AS-Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, reaksi keras langsung bermunculan. Namun yang menarik, kritik itu tidak berdiri sendiri. Ia berkembang menjadi semacam “koalisi opini” lintas sektor yang jarang terjadi dalam konflik modern.

Koalisi Moral Global: Dari Layar Lebar ke Mimbar Dunia

Di Amerika Serikat, suara keras datang dari kalangan selebriti. Aktor Mark Ruffalo, misalnya, tidak sekadar mengecam perang, tetapi menyoroti potensi eskalasi nuklir yang ia sebut sebagai kegilaan.

“Kita melihat orang-orang yang tidak waras menjalankan perang ini… Ini harus dihentikan. Mereka tidak boleh diizinkan melakukan serangan nuklir terhadap jutaan orang tak bersalah. Ini adalah kegilaan,” ujar Ruffalo.

Nada serupa datang dari Jane Fonda yang menilai perang tersebut melanggar hukum internasional sekaligus berisiko memicu konflik besar.

“Perang berbahaya dan gila ini melanggar hukum internasional dan berisiko meledak menjadi perang besar yang menelan banyak korban, termasuk tentara AS,” kata Fonda.

Namun, tekanan tidak berhenti di Hollywood. Dalam perkembangan yang lebih signifikan, kritik juga datang dari pemimpin global. Paus Leo XIV secara terbuka menyebut ancaman terhadap rakyat Iran sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.

Paus Leo XIV vs Donald Trump
Paus Leo XIV dan Donald Trump saling melempar pernyataan terkait perang yang terjadi

“Ancaman terhadap populasi Iran benar-benar tidak dapat diterima… Saya akan terus bersuara menentang perang dan mendorong dialog,” tegas Paus Leo XIV.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, turut menolak retorika Trump yang menyebut “peradaban bisa musnah” jika Iran tidak tunduk.

“Pernyataan bahwa satu peradaban bisa musnah adalah hal yang salah,” ujar Starmer.

Gabungan suara ini menciptakan pola baru: kritik yang tidak lagi terfragmentasi, melainkan saling menguatkan.

Lebih dari Sekadar Kritik: Tanda Isolasi Moral?

Biasanya, kritik selebriti dianggap sebagai opini publik biasa. Namun dalam kasus ini, ketika suara tersebut sejalan dengan tokoh agama dan pemimpin negara, dampaknya berubah menjadi tekanan yang lebih serius.

George Clooney, misalnya, mengangkat isu ini ke level hukum internasional dengan menyebut potensi “kejahatan perang”.

“Dunia berada di ujung ketidakpastian. Ini saatnya perdebatan serius… Kejahatan perang terjadi ketika ada niat menghancurkan suatu bangsa,” kata Clooney.

Pernyataan seperti ini memperluas narasi dari sekadar “setuju atau tidak setuju perang” menjadi perdebatan tentang legalitas dan moralitas global.

Di sisi lain, media sosial mempercepat penyebaran pesan. Musisi seperti Jack White dan penyanyi Dua Lipa menggunakan platform mereka untuk menjangkau jutaan pengikut, memperbesar tekanan publik lintas negara.

Dampak Nyata: Dari Opini ke Tekanan Diplomatik

Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam dinamika geopolitik modern. Kritik publik yang dulu bersifat simbolik kini berpotensi memengaruhi hubungan internasional.

Ada beberapa dampak yang mulai terlihat:

  • Tekanan diplomatik meningkat: Kritik dari Paus dan pemimpin Eropa memberi legitimasi pada negara lain untuk bersikap lebih tegas terhadap AS
  • Persepsi global terhadap AS berubah: Narasi pelanggaran hukum internasional memperburuk citra
  • Polarisasi publik makin tajam: Di dalam negeri AS, muncul perpecahan antara pendukung dan penentang perang
  • Media sosial jadi arena geopolitik baru: Selebriti memainkan peran sebagai “amplifier” opini global

Menariknya, di tengah kritik tersebut, tetap ada suara pendukung yang melihat langkah Trump sebagai upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, suara ini cenderung kalah dominan dalam percakapan global.

Pada akhirnya, konflik Iran bukan hanya soal militer. Ia telah berubah menjadi pertarungan narasi global, di mana opini publik, selebriti, dan pemimpin dunia saling beririsan membentuk tekanan baru terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News