Beritanda.com – Banjir Sungai Welang merendam sekitar 100 rumah di Kota Pasuruan setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut, memicu genangan di permukiman dan akses jalan warga di sejumlah kelurahan.
Peristiwa ini terjadi pada Selasa (21/4) petang dan dikonfirmasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Air meluap dari Sungai Welang dan menggenangi tujuh kelurahan di tiga kecamatan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut dampak banjir mencakup permukiman warga dan infrastruktur dasar.
“Sementara ada sedikitnya 100 rumah sempat terendam,” ujarnya.
Dalam konteks ini, banjir tidak hanya berdampak pada hunian, tetapi juga mengganggu mobilitas warga akibat akses jalan yang ikut tergenang.
Sebaran Wilayah Terdampak Banjir
Yang jadi sorotan, banjir tersebar di beberapa kecamatan dengan karakter wilayah yang berbeda. Hal ini menunjukkan luapan sungai berdampak luas.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Karangketug di Kecamatan Gadingrejo. Selain itu, terdapat Kelurahan Petamanan, Kebonsari, dan Kandang Sapi di Kecamatan Panggungrejo.
Di sisi lain, genangan juga terjadi di Kecamatan Purworejo, tepatnya di Kelurahan Wirogunan, Puturejo, dan Purworejo.
Dalam praktiknya, sebaran ini mencerminkan pola aliran air yang meluas ke berbagai titik permukiman. Kondisi tersebut memerlukan pemantauan intensif di lapangan.
Respons Petugas dan Kondisi Terkini

Bersamaan dengan itu, petugas dari BPBD Provinsi Jawa Timur dan BPBD Kota Pasuruan langsung diterjunkan ke lokasi. Mereka melakukan kaji cepat dan koordinasi dengan perangkat setempat.
Selain itu, personel di lapangan memantau ketinggian air secara berkala. Distribusi logistik juga dilakukan untuk membantu warga terdampak.
Menurut Abdul Muhari, kondisi pada Rabu (22/4) menunjukkan banjir mulai surut. Cuaca saat itu terpantau hujan ringan.
Hal ini menjadi indikator bahwa genangan tidak lagi berada pada puncak intensitas. Namun, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi.
Status Siaga dan Potensi Banjir Susulan
Yang perlu digarisbawahi, Jawa Timur saat ini berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi basah. Status ini ditetapkan melalui keputusan gubernur yang berlaku hingga 1 Mei 2026.
Dalam konteks tersebut, penanganan bencana diharapkan berjalan maksimal. Status siaga juga menjadi dasar penguatan langkah mitigasi.
Di sisi lain, kondisi cuaca yang masih menunjukkan hujan ringan membuka potensi banjir susulan. Hal ini menjadi perhatian dalam upaya penanganan lanjutan.
Dengan situasi tersebut, koordinasi antarinstansi terus dilakukan untuk memastikan respons tetap berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
