Jakarta, Beritanda.com – Hujan deras sejak dini hari membuat banjir kembali menggenangi Jakarta pada Senin pagi, 12 Januari 2026, dengan ketinggian air di sejumlah titik mencapai hampir satu meter. Wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Utara menjadi area terparah setelah curah hujan tinggi tak mampu tertampung oleh sistem drainase dan sungai kecil. Kondisi ini terjadi di tengah peringatan BMKG terkait potensi cuaca ekstrem awal tahun.
Hujan Intensitas Tinggi Jadi Pemicu Utama
Sejak dini hari hingga pagi, curah hujan tinggi mengguyur wilayah DKI Jakarta tanpa jeda. Akibatnya, kapasitas saluran air perkotaan tidak mampu menahan volume air yang datang dalam waktu singkat, sehingga banjir cepat terbentuk di berbagai kawasan.
Hingga pukul 10.00 WIB, BPBD DKI Jakarta mencatat genangan meluas di sejumlah titik Jakarta Selatan seperti Cilandak Barat, Cipete Utara, Duren Tiga, dan Cilandak Timur. Di kawasan ini, ketinggian banjir berada di kisaran 40 hingga sekitar 95 sentimeter dan masih dalam pemantauan petugas.
Jakarta Utara juga tidak luput dari genangan, khususnya di Kelurahan Tanjung Priok, meski ketinggian air relatif lebih rendah dibanding wilayah selatan.
Tak hanya permukiman, 23 ruas jalan ikut tergenang, termasuk di Pegangsaan Dua, Koja, Muara Baru, dan Rorotan. Pada jam sibuk pagi, kondisi tersebut langsung menghambat arus lalu lintas dan memaksa pengendara memperlambat laju kendaraan.
Kali Krukut Kembali Meluap
Selain hujan ekstrem, luapan Kali Krukut disebut sebagai salah satu pemicu utama banjir di wilayah selatan Jakarta. Sungai kecil ini kerap meluap ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu dan hilir secara bersamaan.
Di wilayah Pasar Minggu dan sekitarnya, air dari Kali Krukut masuk ke area permukiman dan menambah beban genangan di jalan lingkungan. Dalam waktu singkat, air yang berasal dari sungai dan hujan lokal bertemu, membuat banjir menjadi lebih tinggi dan meluas.
Kondisi serupa berulang hampir setiap musim hujan, menunjukkan bahwa kapasitas sungai dan sistem pengendalian air di wilayah tersebut belum mampu beradaptasi dengan pola cuaca baru.
Paparan dari BMKG sebelumnya menyebut bahwa aktivitas atmosfer awal 2026 meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan lebat di Jabodetabek. Pola ini membuat hujan intensitas tinggi berpotensi terjadi dalam durasi panjang, sehingga meningkatkan risiko banjir dalam waktu singkat.
Tata Guna Lahan Perparah Risiko
Di luar faktor cuaca, perubahan tata guna lahan di Jabodetabek turut memperbesar dampak banjir. Kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan kini berubah menjadi permukiman padat dan kawasan komersial.
Akibatnya, air hujan tidak lagi terserap optimal ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir ke saluran dan sungai kecil yang kapasitasnya terbatas.
Fenomena ini terlihat jelas di sekitar aliran Kali Krukut, di mana daerah bantaran sungai semakin sempit dan tertutup bangunan. Setiap kali hujan ekstrem datang, ruang alami untuk menahan limpasan air nyaris tidak tersedia.
Gabungan antara hujan deras berkepanjangan, luapan sungai kecil, serta berkurangnya daerah resapan menjadikan banjir sebagai ancaman rutin yang sulit dihindari bagi warga Jakarta.
