Home » Ekbis » Atasi Dampak Perang Iran, Pemerintah Siapkan WFH hingga B50
Menko Airlangga di Sidang Kabinet ParipurnaMenko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan pemaparan Sidang Kabinet Paripurna, Istana Negara, Jumat, (13/03/2026). - dok Setpres RI

Beritanda.com – Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran bikin banyak negara waspada, termasuk Indonesia. Untuk atasi dampak perang Iran, pemerintah langsung menyiapkan serangkaian strategi—dari WFH hingga dorongan energi alternatif.

Atasi Dampak Perang Iran, Pemerintah Bergerak Cepat

Situasinya tidak main-main. Harga minyak dunia menembus USD 100 per barel. Angkanya seperti alarm keras bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Apalagi ada satu titik rawan yang terus menghantui: Selat Hormuz.

“Yang mengkhawatirkan bagi kita tentu penutupan Selat Hormuz, di mana 20 persen minyak global lewat di sana,” — ujar Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Bayangkan saja—jika jalur itu terganggu, efeknya bisa seperti domino. Harga naik. Logistik tersendat. Ujungnya? Kantong masyarakat ikut terasa.

Strategi 1: WFH untuk Hemat BBM

Langkah pertama mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya bisa besar: Work From Home (WFH).

Pemerintah akan menerapkan WFH satu hari dalam seminggu, khususnya untuk ASN, dan diimbau juga ke sektor swasta.

“Perlu efisiensi daripada waktu kerja di mana akan dibuka fleksibilitas untuk work from home,” — kata Airlangga.

Kenapa WFH? Karena mobilitas turun = konsumsi BBM ikut ditekan. Logikanya sederhana, tapi efektif.

Namun, kebijakan ini tidak berlaku untuk layanan publik. Jadi tetap ada batasannya.

Strategi 2: Dorong B50, Kurangi Ketergantungan Impor

Selain penghematan, pemerintah juga bermain di sisi suplai.

Program B50 mulai dipersiapkan. Artinya, 50% bahan bakar akan dicampur biodiesel dari sawit.

Saat ini memang masih di tahap kajian, dengan fokus utama tetap di B40. Tapi arahnya sudah jelas: kurangi impor minyak.

“Untuk B50, kajian harus dilakukan terus-menerus,” ujar Airlangga.

Menariknya, program sebelumnya (B40) sudah memberi dampak:

  • Penghematan devisa hingga USD 8 miliar
  • Pengurangan emisi sekitar 42 juta ton CO2

Kalau B50 berhasil? Dampaknya bisa lebih besar lagi.

Strategi 3: Efisiensi Anggaran dan Energi Nasional

Di sisi lain, pemerintah juga mulai “mengencangkan ikat pinggang”.

Efisiensi anggaran jadi agenda penting. Termasuk dorongan penghematan energi di berbagai sektor.

Ini bukan sekadar wacana. Arahan langsung datang dari Presiden Prabowo dalam sidang kabinet.

“Antisipasi tergantung dari situasi perang ini,” kata Airlangga.

Artinya, kebijakan bisa fleksibel—menyesuaikan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.

Strategi 4: Diversifikasi Energi dan Dorong Konsumsi Domestik

Tidak berhenti di situ.

Pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang:

  • Diversifikasi sumber energi (bioetanol, kendaraan listrik)
  • Mengurangi ketergantungan impor minyak
  • Menjaga daya beli masyarakat
  • Mendorong ekspor ke wilayah yang tidak terdampak konflik

Langkah ini seperti “plan B” jika krisis berlangsung lama.

Karena jika hanya bergantung pada minyak impor, risikonya terlalu besar.

Ancaman Nyata Masih Mengintai

Meski strategi sudah disiapkan, tantangan tetap ada.

Dalam skenario terburuk:

  • Harga minyak bisa tembus USD 115 per barel
  • Rupiah melemah ke Rp 17.500 per dolar AS
  • Defisit APBN berpotensi mencapai 4,06%

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini gambaran nyata tekanan ekonomi yang bisa dirasakan langsung.

Namun setidaknya, pemerintah tidak tinggal diam.

Langkah demi langkah mulai disusun untuk atasi dampak perang Iran—dari yang sederhana seperti WFH, hingga transformasi energi jangka panjang.

Dan seperti biasa, kunci utamanya satu: seberapa cepat adaptasi dilakukan sebelum dampaknya benar-benar terasa.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News