Home » Ekbis » Stok BBM dan APBN Jadi Tameng, Begini Strategi RI Tahan Harga
Harga Minyak DuniaHarga Minyak Dunia

Beritanda.com – Saat banyak negara menyerah dan menaikkan harga energi, Indonesia justru memilih jalan berbeda. Stok BBM dan APBN disebut tetap aman, bahkan saat harga minyak dunia menyentuh US$100 per barel.

Stok BBM dan APBN Jadi “Perisai” Saat Harga Energi Naik

Di tengah gejolak global, strategi Indonesia bisa dibilang… cukup berani.

Alih-alih menaikkan harga BBM seperti banyak negara lain, pemerintah justru menahan. Kuncinya ada di dua hal: stok BBM dan APBN.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan posisi ini dengan cukup percaya diri:

“APBN kita masih tahan. Saya tidak akan ubah APBN atau subsidi BBM sampai titik harga minyak benar-benar sangat tinggi” — ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Bukan tanpa dasar. Hingga Februari 2026, defisit APBN tercatat sekitar 0,53% dari PDB—jauh di bawah batas aman 3%.

Artinya? Masih ada “ruang napas”.

APBN Jadi Shock Absorber, Bukan Sekadar Anggaran

Kalau diibaratkan, APBN saat ini bukan cuma dompet negara. Lebih seperti shock absorber di mobil.

Ketika jalanan bergelombang (baca: harga minyak naik), APBN meredam guncangan agar masyarakat tidak langsung merasakan dampaknya.

Strateginya cukup jelas:

  • Menahan harga BBM subsidi
  • Melakukan efisiensi anggaran bertahap
  • Menjaga program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis tetap berjalan
  • Mengoptimalkan penerimaan negara

Dengan pendekatan ini, pemerintah mencoba menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

Dan sejauh ini… masih berhasil.

Stok BBM Aman, Pasokan Sudah Diantisipasi

Bukan cuma soal uang, sisi energi juga diperkuat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman.

“Alhamdulillah, atas arahan Presiden dan dukungan rakyat, BBM kita baik bensin, solar maupun LPG terpenuhi dengan baik” — ujar Bahlil Lahadalia.

Ada beberapa langkah penting yang sudah dilakukan:

  • Solar 100% dari dalam negeri (tanpa impor)
  • Diversifikasi sumber impor minyak mentah
  • Mengurangi ketergantungan pada jalur rawan seperti Selat Hormuz

Bahlil bahkan menyebut pemerintah sudah “switch” ke sumber lain.

“Kita sudah switch ke sumber lain, dan pasokannya mulai membaik” — ujar Bahlil Lahadalia.

Dengan kata lain, risiko gangguan pasokan mulai ditekan.

Indonesia Melawan Arus Dunia

Yang menarik, langkah Indonesia ini justru berlawanan dengan tren global.

Faktanya:

  • 95 negara sudah menaikkan harga BBM
  • Filipina bahkan sempat menghadapi darurat BBM
  • Banyak negara memilih membebankan kenaikan ke masyarakat

Sementara Indonesia? Menahan.

Purbaya bahkan sempat menyinggung perbandingan ini:

“Kalau kita lihat negara tetangga, harga BBM sudah naik enggak kira-kira. Di sini kita bisa menjaga harga tetap stabil tanpa membahayakan APBN” — ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Strategi ini membuat Indonesia terlihat lebih “tenang” di tengah badai.

Tapi Sampai Kapan Bisa Bertahan?

Di balik optimisme, ada satu pertanyaan besar: sampai kapan?

Karena semua ini sangat bergantung pada satu variabel krusial—harga minyak dunia.

Jika harga melonjak ke US$115–120 per barel, beban subsidi bisa membengkak hingga ratusan triliun rupiah.

Artinya, ruang napas APBN bisa menyempit dengan cepat.

Namun untuk saat ini, pemerintah memilih pendekatan terukur.

“Dengan keadaan seperti itu kita tidak pernah panik, tapi kita approach terukur. Tidak ada angka aneh-aneh yang tidak bisa kita hitung” — ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Jadi, strategi stok BBM dan APBN sebagai tameng memang masih bekerja.

Tapi seperti semua tameng… kekuatannya tetap ada batasnya.

Dan pertanyaannya kini bergeser:
Apakah Indonesia bisa terus menahan tekanan global, atau hanya menunda dampaknya?

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News