Home » Entertainment » Film & Musik » Terobosan Animasi Indonesia: Pelangi di Mars Bikin Industri Film Melirik
Pelangi di MarsFilm Animasi Indonesia, Pelangi di Mars diproduksi dengan teknologi terkini - dok Instagram | pelangidimars

Beritanda.com – Industri animasi Indonesia akhirnya punya momen yang sulit diabaikan. Film Pelangi di Mars hadir bukan sekadar hiburan Lebaran, tetapi juga eksperimen teknologi yang berani—menggabungkan live-action dan animasi 3D dengan standar yang biasanya hanya terlihat di produksi Hollywood.

Akan dirilis pada 18 Maret 2026, Pelangi di Mars langsung menarik perhatian karena pendekatan produksinya yang tidak biasa. Film ini memadukan akting aktor manusia dengan animasi robot serta dunia virtual Planet Mars yang dibangun menggunakan teknologi Extended Reality (XR) dan Unreal Engine.

Animasi Pelangi di Mars Jadi Terobosan Baru Perfilman Indonesia

Selama bertahun-tahun, industri animasi Indonesia sering dipandang tertinggal dari negara lain. Namun Pelangi di Mars mencoba mematahkan anggapan itu.

Film garapan sutradara Upie Guava ini menggunakan metode hybrid production, yakni kombinasi antara live-action dan animasi digital 3D yang diproduksi dalam lingkungan virtual.

Teknologi yang digunakan bahkan bukan teknologi sembarangan.

Beberapa metode produksi yang dipakai antara lain:

  1. Motion Capture – merekam gerakan aktor untuk karakter robot animasi
  2. XR Virtual Production – latar Mars diproyeksikan secara real-time
  3. Unreal Engine Rendering – mesin grafis yang juga dipakai di industri game dan film global

Dengan teknik tersebut, aktor tidak lagi bermain di depan green screen tradisional. Sebaliknya, mereka berakting di depan layar LED raksasa yang menampilkan dunia Mars secara langsung.

Hasilnya? Visual yang lebih natural dan interaksi yang terasa nyata.

Lima Tahun Pengembangan Teknologi Animasi

Proses lahirnya film Pelangi di Mars bukan cerita singkat. Pengembangannya memakan waktu hampir lima tahun.

Rinciannya cukup menarik:

  • 2020 – Ide cerita mulai dikembangkan oleh Upie Guava
  • 2020–2023 – Riset teknologi XR dan animasi berbasis Unreal Engine
  • 2022 – Dibangun studio virtual production DossGuavaXR di Jakarta
  • 2026 – Film akhirnya dirilis secara nasional

Yang mengejutkan, sang sutradara tidak belajar teknologi ini dari sekolah film luar negeri.

Ia mempelajarinya secara otodidak.

“Rasanya jujur aneh. Ada rasa lega sekaligus kehilangan setelah film ini selesai. Campur aduk.” — ujar Upie Guava.

Cerita di balik layar ini membuat banyak orang di industri kreatif menganggap proyek ini sebagai eksperimen besar—dan cukup berani.

Animasi Robot Jadi Daya Tarik Utama Film

Salah satu elemen paling mencolok dalam film ini adalah karakter robot yang hadir melalui animasi 3D.

Pelangi, tokoh utama berusia 12 tahun, ditemani oleh beberapa robot dengan karakter unik.

Beberapa di antaranya:

  • Batik – robot yang bijak dan protektif
  • Sulil – robot dengan sifat humoris
  • Kimchi – karakter energik
  • Yoman – robot yang penuh rasa ingin tahu
  • Petya – robot dengan pendekatan logis

Robot-robot ini dibuat menggunakan kombinasi motion capture dan animasi digital sehingga gerakannya terasa hidup.

Interaksi antara aktor manusia dan karakter animasi menjadi salah satu kekuatan visual film ini.

Langkah Awal Industri Animasi Indonesia?

Bagi banyak pengamat film, Pelangi di Mars mungkin bukan sekadar film keluarga biasa.

Ia bisa menjadi tanda bahwa industri animasi Indonesia mulai memasuki fase baru—fase yang lebih berani bereksperimen dengan teknologi.

Produksi film ini bahkan melibatkan lebih dari 200 tenaga kreatif lokal, mulai dari teknisi XR, animator, hingga seniman visual.

Jika proyek seperti ini terus berkembang, bukan tidak mungkin Indonesia akan memiliki ekosistem animasi yang mampu bersaing di pasar internasional.

Setidaknya, Pelangi di Mars sudah membuka pintu itu.

Dan seperti namanya, mungkin ini baru awal dari “pelangi” baru bagi industri animasi nasional.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News