Home » Entertainment » Lifestyle » SMAN 4 Semarang Konsisten Tembus Festival Dunia Sejak 2017
Tim Ratoh Jaroe SMAN 4 SemarangTim Ratoh Jaroe SMAN 4 Semarang menuju Thailand membawa misi budaya Indonesia. - dok Instagram | ratohjaroesmapa

Semarang, Beritanda.com – Tim Ratoh Jaroe SMAN 4 Semarang kembali berangkat ke Thailand International Folklore Festival 2026, melanjutkan tradisi tampil internasional yang sudah terjaga hampir satu dekade sejak 2017.

Dari Panggung Kampus ke Festival Dunia

Tidak banyak sekolah menengah yang mampu menjaga konsistensi tampil di ajang internasional. SMAN 4 Semarang—atau dikenal sebagai SMAPA—menjadi pengecualian.

Sejak 2017, tim Ratoh Jaroe mereka nyaris tak pernah absen di Thailand International Folklore Festival. Tahun ini, mereka kembali membawa 13 siswa terbaik untuk tampil dalam rangkaian festival yang berlangsung selama sembilan hari di 10 kota di Thailand.

Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu malam, 4 April 2026. Bukan sekadar tampil di panggung utama di Bangkok, tim ini juga dijadwalkan melakukan roadshow budaya ke kota-kota seperti Lopburi, Buriram, hingga Chonburi—wilayah yang jarang tersentuh delegasi seni dari sekolah.

Konsistensi ini bukan kebetulan. Di tingkat nasional, SMAPA juga mencatatkan prestasi, termasuk dua kali berturut-turut meraih Juara 1 Lomba Tari Nusantara tingkat nasional di FEB Undip pada 2021.

Di Balik Konsistensi: Sistem dan Latihan Disiplin

Keberhasilan berulang ini bertumpu pada sistem pembinaan yang relatif stabil. Ekstrakurikuler seni tari tradisional di SMAPA tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem seni sekolah yang aktif.

Nama pelatih Zulfikar—dikenal sebagai Izul Gendang—menjadi salah satu kunci. Ia telah mendampingi tim dalam berbagai misi budaya sejak beberapa tahun terakhir, menjaga standar latihan dan karakter penampilan.

“Ini bukan hanya soal tampil di panggung internasional, tetapi bagaimana anak-anak bisa menjadi duta budaya yang memperkenalkan identitas Indonesia dengan penuh kebanggaan,” — ujar Guru Pembimbing, Rinayanti Budi Harpeningtyas.

Latihan yang dilakukan tidak hanya menekankan teknik, tetapi juga kekompakan—elemen krusial dalam tari Ratoh Jaroe yang dikenal dengan gerakan serempak dan ritme cepat.

“Persiapan telah dilakukan secara matang melalui latihan disiplin yang menekankan pada kekompakan tim. Kami optimistis bisa memberikan penampilan terbaik,” — ujar Pelatih, Zulfikar.

Lebih dari Sekadar Prestasi: Model Pembinaan Sekolah

Di tengah tren pendidikan yang semakin kompetitif, model seperti SMAPA menawarkan perspektif berbeda: prestasi global bisa dibangun dari ekstrakurikuler, bukan hanya akademik.

Partisipasi rutin dalam festival internasional menunjukkan adanya kesinambungan—mulai dari regenerasi anggota, kurasi peserta, hingga dukungan dari berbagai pihak, termasuk sponsor dan institusi pendidikan.

Menariknya, festival ini tidak hanya diikuti Indonesia, tetapi juga enam negara lain. Artinya, para siswa tidak hanya tampil, tetapi juga berinteraksi dalam ruang pertukaran budaya global.

Perwakilan penari, Najla Ranaa Maritza Wibowo dan Bunga Berliana Shanika Karin, menegaskan misi tersebut.

“Kami membawa semangat untuk memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya Ratoh Jaroe, agar semakin dikenal dunia,” — ujar Perwakilan Penari.

Konsistensi SMAN 4 Semarang ini memperlihatkan satu hal penting: ketika pembinaan dilakukan berkelanjutan, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pintu masuk menuju panggung dunia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News