Beritanda.com – Ekspansi QRIS ke Korea Selatan pada 1 April 2026 menandai fase baru dominasi sistem pembayaran digital Indonesia di kawasan, dengan ASEAN menjadi fondasi utama integrasi lintas negara.
Dari ASEAN ke Asia Timur, QRIS Bangun “Jaringan Pembayaran Regional”
Perjalanan QRIS tidak dimulai dari Korea Selatan. Sebelumnya, sistem pembayaran berbasis QR ini lebih dulu terhubung dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura—tiga negara kunci di ASEAN yang menjadi fondasi awal integrasi pembayaran regional.
Dalam beberapa tahun terakhir, konektivitas ini berkembang dari sekadar kerja sama bilateral menjadi bagian dari inisiatif lebih besar: integrasi sistem pembayaran QR di Asia Tenggara melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Artinya, QRIS bukan hanya alat bayar lintas negara, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem keuangan regional yang tidak lagi bergantung pada dolar AS sebagai perantara.
Langkah ekspansi ke Korea Selatan memperluas jangkauan ini ke Asia Timur, memperkuat posisi QRIS sebagai salah satu standar pembayaran yang mulai diakui lintas kawasan.
“Terhubungnya pembayaran QR antarnegara tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga memperkuat UMKM dan membuka peluang usaha.” — ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
ASEAN Jadi “Laboratorium” Sukses QRIS
Keberhasilan QRIS di ASEAN bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki karakteristik unik: dominasi UMKM, penggunaan mobile wallet yang tinggi, serta kebutuhan transaksi lintas negara yang intens, terutama di sektor pariwisata.
Sejak terhubung dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura, transaksi QRIS lintas negara menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga pertengahan 2025, nilai transaksi lintas batas di tiga negara tersebut telah mencapai sekitar Rp 1,66 triliun.
Lebih dari itu, lebih dari 90% merchant QRIS berasal dari sektor UMKM—menunjukkan bahwa sistem ini efektif menjangkau pelaku usaha kecil tanpa infrastruktur kompleks.
Di sinilah letak “missing piece” yang jarang disorot:
QRIS bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi alat inklusi ekonomi regional.
Dengan satu QR code, pedagang kecil di ASEAN bisa menerima pembayaran dari wisatawan asing tanpa perlu mesin EDC atau jaringan kartu global.
Efek Domino: Dari Pariwisata ke Perdagangan Regional
Integrasi QRIS di ASEAN menciptakan efek domino yang melampaui sektor pembayaran.
Setidaknya ada tiga dampak strategis:
- Pariwisata lintas negara meningkat
Wisatawan tidak lagi bergantung pada uang tunai atau kartu internasional, sehingga transaksi menjadi lebih spontan - Perdagangan UMKM lintas batas tumbuh
Pelaku usaha kecil bisa langsung menerima pembayaran dari konsumen luar negeri - Efisiensi biaya transaksi
Skema local currency settlement memangkas biaya konversi dan perantara
Dalam konteks ini, ekspansi ke Korea Selatan bukan sekadar penambahan negara, tetapi validasi bahwa model yang “teruji di ASEAN” bisa direplikasi ke kawasan lain.
Bahkan, tren global menunjukkan bahwa interoperabilitas QR code antarnegara mulai menjadi arah baru sistem pembayaran digital di Asia.
Seiring semakin banyak negara yang terhubung, QRIS berpotensi berkembang dari standar nasional menjadi infrastruktur pembayaran regional—bahkan lintas kawasan.
