Home » News » Program Gaslah Bandung Diuji di Kelurahan Babakan Lewat Kolaborasi Lapangan
program Gaslah BandungKolaborasi Lingkungan di Babakan Ciparay: Dorong Pemilahan Sampah dari Sumber dan Penguatan Peran Petugas Gaslah

Beritanda.com – Program Gaslah Bandung diuji langsung di tingkat RW melalui kegiatan Bakti Lingkungan di Kelurahan Babakan, Selasa–Rabu (21–22 April 2026), untuk melihat sejauh mana pemilahan sampah dari sumber berjalan di lapangan.

Kegiatan ini melibatkan pemerintah wilayah, masyarakat, serta Yayasan Krida Nusantara. Fokus utamanya adalah menguji implementasi program Gaslah Bandung yang menempatkan petugas pemilah dan pengolah sampah sebagai ujung tombak di lingkungan RW.

Sebagai kota besar, Bandung menghadapi tekanan serius dalam pengelolaan sampah. Produksi resmi mencapai sekitar 1.500 ton per hari. Dalam kondisi tertentu, jumlah itu bisa meningkat hingga 1.800 ton akibat sampah ilegal, aktivitas wisata, dan kiriman dari aliran sungai.

Pengujian Peran Petugas Gaslah di Tingkat RW

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan pemaparan program Gaslah di Kelurahan Babakan. Program ini merupakan inisiatif Wali Kota Bandung yang menitikberatkan pengelolaan sampah dari sumber.

Dalam praktiknya, petugas Gaslah bertugas mengangkut sampah organik hasil pilahan warga. Target pengelolaan ditetapkan mencapai 25 kilogram per hari untuk setiap petugas.

Menurut Koordinator Kecamatan PKBS Babakan Ciparay, Achmad Media N, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada teknologi.

Masalah sampah tidak hanya cukup berhenti pada teknologi pemusnah, namun perlu kesadaran kolektif dari lapisan masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Ia menegaskan, peran kecamatan dan kelurahan menjadi kunci karena berada di garis depan implementasi program.

Dalam kegiatan tersebut, hadir Lurah Babakan Dewi Waryanti, penyuluh lingkungan hidup Kota Bandung Sunarti, serta perwakilan PKBS dan DLH dari enam kelurahan di Kecamatan Babakan Ciparay.

Simulasi Lapangan hingga Pemanfaatan Sampah Organik

Bantuan dari Yayasan Krida Nusantara
Bantuan dari Yayasan Krida Nusantara

Pada hari kedua, pengujian implementasi program Gaslah Bandung berlanjut ke lapangan. Rombongan mengunjungi Rumah Maggot Babakan untuk melihat langsung pengolahan sampah organik.

Di lokasi ini, sampah hasil pilahan warga diolah menjadi pakan maggot yang memiliki nilai ekonomi. Selain itu, metode ini juga menekan volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan ke RW 13 Babakan. Di wilayah ini, peserta melihat praktik pemilahan sampah serta penggunaan bata terawang sebagai inovasi lingkungan.

Tak hanya itu, rombongan juga mengunjungi RW 02 Kelurahan Margasuka dan wilayah Cigondewah Kaler untuk mempelajari pengelolaan sampah mandiri di tingkat RW.

Perwakilan Yayasan Krida Nusantara, Nadya Dewanti Kustija, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pembelajaran langsung bagi institusinya.

Kegiatan ini sangat positif mengingat Kota Bandung saat ini sedang darurat sampah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebiasaan memilah sampah akan diterapkan di lingkungan asrama sekolah yang dihuni sekitar 1.000 orang setiap hari.

Bersamaan dengan itu, yayasan juga menyalurkan bantuan CSR berupa lima unit pushcart, 15 ember, dan satu unit AC untuk mendukung operasional pengelolaan sampah.

Program Gaslah Bandung dalam kegiatan ini diuji tidak hanya dari sisi konsep, tetapi juga dari praktik langsung di lingkungan warga. Pengujian ini memperlihatkan bagaimana keterlibatan masyarakat dan petugas di tingkat RW menjadi bagian utama dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News