Maluku Tenggara, Beritanda.com – Nus Kei, Ketua DPD II Golkar Maluku Tenggara, tewas ditikam di Bandara Langgur pada Minggu siang saat tiba dari Jakarta, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas politik daerah jelang Musda.
Pembunuhan di Ruang Publik Guncang Panggung Politik Lokal
Kedatangan Drs. Agrapinus Rumatora atau Nus Kei ke Langgur sejatinya berkaitan dengan agenda politik penting. Ia dijadwalkan terlibat dalam persiapan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Maluku Tenggara dalam waktu dekat.
Namun, agenda itu berubah menjadi tragedi. Penikaman terjadi di ruang publik, tepat saat ia keluar dari area kedatangan bandara. Peristiwa ini langsung mengubah situasi politik lokal yang sebelumnya fokus pada konsolidasi internal partai.
Bagi struktur politik daerah, kehilangan sosok seperti Nus Kei bukan sekadar kehilangan figur. Ia dikenal sebagai tokoh berpengaruh di Golkar Maluku Tenggara, sekaligus memiliki jaringan sosial kuat di Kepulauan Kei.
Ketua DPD I Golkar Maluku, Umar Lessy, menegaskan sikap partai.
“Insiden tersebut merupakan tindakan kekerasan serius yang tidak dapat ditolerir dalam sistem demokrasi. Kami mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dan menangkap pelaku serta otak di baliknya,” ujarnya.
Kronologi Penikaman Nus Kei di Bandara
Rangkaian kejadian berlangsung cepat dalam rentang waktu kurang dari satu jam.
- Pukul 09.00 WIT, dua pelaku berangkat menuju Bandara Karel Sadsuitubun menggunakan sepeda motor
- Pukul 11.25 WIT, Nus Kei tiba dari Jakarta dan berjalan keluar dari ruang kedatangan
- Sekitar pukul 11.30 WIT, kedua pelaku langsung menyerang dan menikam korban berulang kali menggunakan pisau
- Lima menit kemudian, pelaku melarikan diri dari lokasi
- Pukul 12.00 WIT, korban dilarikan ke RS Karel Sadsuitubun
- Tim medis kemudian menyatakan korban meninggal dunia akibat luka serius
- Sekitar pukul 13.30 WIT, polisi berhasil menangkap dua pelaku dalam waktu kurang dari dua jam

Dua pelaku yang ditangkap adalah Hendrikus Rahayaan (28) dan Finansius Ulukyanan (36). Keduanya kini diamankan untuk pemeriksaan intensif.
Motif Dendam dan Dampak Politik yang Mengikutinya
Kapolres Maluku Tenggara AKBP Rian Suhendi mengungkap motif di balik penikaman ini. “Motif yang mendasari kejadian penikaman ini yaitu kedua pelaku dendam karena korban adalah otak dibalik pembunuhan saudara kedua pelaku atas nama Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat pada tahun 2020 di Jakarta,” jelasnya.
Motif tersebut mengarahkan kasus ini pada konflik lama yang belum selesai. Namun, dampaknya tidak berhenti di ranah personal.
Agrapinus Rumatora, alias Nus Kei (60-an tahun), adalah Ketua DPD (Dewan Pimpinan Daerah) II Partai Golkar Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Ia merupakan tokoh politik lokal yang berpengaruh dan dikenal sebagai paman kandung (om) dari John Kei (John Refra), narapidana terkait kasus kekerasan dan pembunuhan di Jakarta tahun 2020
Peristiwa ini terjadi di tengah momentum politik daerah. Musda Golkar yang seharusnya menjadi ajang konsolidasi kini berada dalam bayang-bayang duka dan ketidakpastian.
Selain itu, insiden di bandara juga memunculkan pertanyaan serius terkait keamanan objek vital. Bagaimana pelaku dapat membawa senjata tajam dan mengeksekusi target di ruang publik menjadi sorotan tersendiri.
Di tingkat sosial, kasus ini kembali mengingatkan publik pada konflik panjang di lingkar keluarga Kei yang pernah mencuat sebelumnya. Reaksi masyarakat menunjukkan kekhawatiran bahwa kekerasan berbasis dendam bisa kembali berulang.
Sementara itu, penyidik masih mendalami kemungkinan lain, termasuk apakah pelaku mendapatkan informasi detail terkait kedatangan korban. Polisi juga terus mengumpulkan barang bukti serta memeriksa saksi untuk memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat.
Kematian Nus Kei kini bukan hanya menjadi perkara kriminal. Ia telah bergeser menjadi isu yang menyentuh stabilitas politik, keamanan publik, dan memori kolektif masyarakat tentang konflik yang belum benar-benar usai.
