Home » Ekbis » Harga Minyak Dunia Melejit, Ancaman Resesi Global Menguat
CEO BlackRockCEO BlackRock memperingatkan adanya resesi imbas harga minyak dunia

Beritanda.com – Lonjakan harga minyak dunia bukan sekadar angka di layar. Dalam sebulan, kenaikannya menembus 50 persen dan mulai memicu alarm resesi global yang semakin nyaring.

Pada Maret 2026, harga minyak dunia melampaui US$100 per barel akibat konflik Timur Tengah. Lembaga keuangan global kini memperingatkan, jika tren ini berlanjut, dampaknya bisa menyeret ekonomi dunia ke jurang resesi.

Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu Alarm Resesi Global

Ada satu angka yang bikin pasar gelisah: US$150 per barel.

Bukan angka sembarangan. Ini disebut sebagai “garis merah” oleh CEO BlackRock, Larry Fink. Jika harga minyak dunia menyentuh level itu, dampaknya bukan lagi perlambatan—melainkan resesi global yang tajam.

“Jika harga minyak mencapai US$150 per barel, dunia akan menghadapi resesi global yang tajam dan curam.” — ujar Larry Fink.

Masalahnya, arah pergerakan saat ini justru mendekati ke sana.

Dalam hitungan minggu, harga melonjak dari kisaran US$70 ke atas US$100. Kenaikan cepat seperti ini ibarat tekanan darah yang naik drastis—berbahaya jika tidak segera dikendalikan.

Kenapa Kenaikan Ini Berbahaya?

Harga minyak dunia bukan sekadar komoditas. Ia seperti “urat nadi” ekonomi global.

Ketika harganya naik, efeknya menjalar ke mana-mana:

  • Biaya transportasi melonjak
  • Harga pangan ikut naik
  • Inflasi makin sulit dikendalikan
  • Daya beli masyarakat tertekan

Efek berantai ini sering berujung pada satu titik: perlambatan ekonomi.

Goldman Sachs bahkan sudah menaikkan probabilitas resesi menjadi 30%. Angka ini mungkin terdengar kecil, tapi di dunia ekonomi global, itu cukup untuk membuat pasar waspada.

Perang Jadi Pemicu Utama Lonjakan

Lonjakan harga minyak dunia kali ini bukan karena permintaan tinggi, melainkan gangguan suplai.

Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menciptakan risiko besar, terutama di Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut sekitar 20–30% minyak dunia.

Bayangkan sebuah jalan tol utama tiba-tiba terancam ditutup. Kemacetan bukan lagi kemungkinan—tapi kepastian.

Inilah yang membuat pasar panik.

Pelajaran dari Sejarah: Resesi Selalu Mengintai

Jika melihat ke belakang, lonjakan harga minyak hampir selalu diikuti gejolak ekonomi.

Beberapa contoh penting:

  1. 1973–1974
    • Harga naik 300%
    • Dunia mengalami stagflasi
  2. 2008
    • Harga mencapai US$147
    • Berujung pada krisis finansial global
  3. 2022
    • Lonjakan akibat perang Ukraina
    • Inflasi global melonjak

Sekarang, skenario serupa mulai terbentuk lagi.

Bedanya, dunia belum sepenuhnya pulih dari tekanan ekonomi sebelumnya.

Apakah Dunia Benar-Benar Akan Resesi?

Jawabannya: belum pasti, tapi risikonya nyata.

Beberapa analis masih melihat kemungkinan “soft landing”—perlambatan tanpa resesi penuh. Namun, jika harga minyak dunia terus bertahan di atas US$100, tekanan akan semakin berat.

Ada juga skenario lebih ekstrem:

  • Jika konflik meluas
  • Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu
  • Jika suplai minyak global terputus

Maka lonjakan ke US$150 bukan lagi mustahil.

Dan di titik itu, seperti kata Larry Fink, dunia bisa masuk ke “tahun-tahun kegelapan ekonomi”.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah akan terjadi”, tapi “seberapa cepat”.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News