Beritanda.com – Di saat harga saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tertekan lebih dari 50% sejak awal tahun, Prajogo Pangestu justru melepas ratusan juta saham senilai hingga Rp850 miliar dalam beberapa hari terakhir.
Jual Saham Saat Harga Turun, Apa Strateginya?
Prajogo Pangestu, pemegang saham pengendali CUAN, melakukan divestasi sebanyak 764,03 juta saham pada periode 30 Maret hingga 2 April 2026. Transaksi tersebut dilakukan dalam 18 kali penjualan dengan rentang harga Rp 1.045 hingga Rp 1.150 per saham.
Secara total, nilai transaksi diperkirakan mencapai Rp 749,29 miliar hingga Rp 850,28 miliar. Meski melepas sebagian saham, posisi Prajogo tetap sebagai pemegang kendali dengan porsi kepemilikan turun tipis dari 84,09% menjadi 83,42%.
Langkah ini menarik perhatian karena dilakukan di tengah tekanan harga saham CUAN. Pada penutupan perdagangan 2 April 2026, saham CUAN berada di level Rp1.045, turun 7,52% dalam sehari dan melemah lebih dari 50% secara year-to-date.
“Transaksi dilakukan untuk menambah saham free float,” — ujar Pemegang Saham Pengendali, Prajogo Pangestu.
Kontras dengan Kinerja, Pasar Justru Melemah
Penurunan harga saham CUAN terjadi di tengah kinerja fundamental yang justru menunjukkan perbaikan. Laba bersih perusahaan pada 2025 tercatat meningkat signifikan, menciptakan kontras tajam antara performa bisnis dan pergerakan harga saham di pasar.
Dalam lima hari terakhir saja, saham CUAN telah terkoreksi lebih dari 9%. Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa tekanan harga tidak semata-mata dipicu kinerja internal, melainkan faktor eksternal seperti struktur kepemilikan dan likuiditas saham.
Aksi divestasi yang dilakukan Prajogo dinilai bukan sebagai sinyal negatif terhadap prospek perusahaan, melainkan bagian dari penyesuaian struktur saham. Dengan menambah porsi saham yang beredar di publik (free float), likuiditas diharapkan meningkat dan saham menjadi lebih menarik bagi investor institusi.
Tekanan Free Float dan Respons ke Pasar Global
Langkah ini juga tidak lepas dari tekanan global terhadap saham dengan kepemilikan terkonsentrasi. MSCI sebelumnya mencabut perlakuan khusus terhadap sejumlah saham Grup Barito, termasuk CUAN, karena dinilai memiliki tingkat free float yang rendah.
Kondisi tersebut membuat saham kurang likuid dan berisiko terhadap aspek keterinvestasian (investability), yang menjadi pertimbangan penting bagi investor global.
Sebelumnya, langkah serupa juga dilakukan oleh Prajogo melalui penjualan saham CUAN pada Agustus 2025, serta divestasi saham BREN melalui entitas afiliasi pada September dan Oktober 2025.
Di sisi lain, CUAN juga sempat mengumumkan program buyback saham hingga Rp 700 miliar pada Februari 2026 untuk menjaga stabilitas harga. Namun, tekanan pasar tetap berlanjut, menunjukkan bahwa faktor struktural seperti free float memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan saham.
Dengan divestasi terbaru ini, pasar kini mencermati apakah peningkatan free float akan cukup untuk memperbaiki likuiditas dan menahan volatilitas harga saham ke depan, atau justru menambah tekanan dalam jangka pendek.
