Indramayu, Beritanda.com – Tiga santriwati di Indramayu tertabrak mobil operasional Kopdes Merah Putih saat berjalan kaki menuju kegiatan olahraga pagi, Minggu (12/4/2026) pukul 06.30 WIB, setelah sopir mengaku mengantuk usai perjalanan jauh dari Jakarta.
Pagi Tenang yang Berubah dalam Sekejap
Langkah kaki para santriwati itu sejatinya rutin. Dari Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqo di Desa Terusan, mereka berjalan menyusuri bahu Jalan MT Haryono menuju Alun-alun Indramayu untuk olahraga pagi.
Barisan rapi, dua-dua, di pinggir jalan. Situasi pagi itu relatif lengang, seperti hari-hari sebelumnya.
Namun dari arah belakang, sebuah mobil pikap operasional Koperasi Desa Merah Putih melaju. Dalam hitungan detik, kendaraan tersebut menabrak tiga santriwati di dekat Pasar Caplek, Desa Dermayu, Kecamatan Sindang.
Benturan itu tidak menghancurkan kendaraan, hanya menyisakan goresan ringan. Tetapi bagi korban, dampaknya langsung terasa.
“Kalau anak-anak itu jalannya di pinggir, enggak ditengah, jadi mereka itu baris berdua-berdua, diduga karena sopirnya memang mengantuk” ujar Ardi, Pengurus Ponpes Al-Urwatul Wutsqo.
Ketiga korban, masing-masing berinisial AAM, WH, dan DT, langsung dievakuasi ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan perawatan.
Mengantuk di Balik Kemudi, Risiko yang Sering Diremehkan
Pengakuan sopir membuka fakta yang kerap luput dari perhatian. Purnama (51), pengemudi mobil tersebut, mengaku memulai perjalanan sejak dini hari tanpa istirahat memadai.
“Ngantuk pak. Berangkat dari Jakarta jam 1 malam, mau antar mobil ke Blitar” kata Purnama.
Perjalanan lintas provinsi tanpa jeda panjang menjadi kombinasi berbahaya. Dalam kondisi seperti itu, tubuh memasuki fase kelelahan yang menurunkan fokus, memperlambat reaksi, bahkan memicu “microsleep” atau tidur singkat tanpa disadari.
Di momen kritis, seperti saat melintasi jalur yang tidak familiar, risiko meningkat tajam. Purnama juga mengaku salah mengambil rute, yang seharusnya berbelok di pertigaan Terminal Sindang namun justru melaju lurus hingga ke lokasi kejadian.
Polisi membenarkan dugaan tersebut sebagai pemicu utama kecelakaan.
Kombinasi kelelahan, rute yang tidak dikenali, dan waktu pagi yang masih sepi menciptakan kondisi “sunyi tapi berbahaya”. Jalan kosong sering memberi rasa aman semu, padahal justru memperbesar peluang kehilangan konsentrasi.
Kondisi Korban dan Gambaran Nyata Dampaknya
Meski tidak ada korban jiwa, dampak insiden tetap nyata. Ketiga santriwati mengalami cedera kepala ringan dan harus menjalani observasi medis.
“Tiga santriwati ini dirawat di ruang Gincu 1, kondisi kesadarannya bagus, dengan diagnosis cedera kepala ringan. Alhamdulillah tidak ada cedera serius, itu kami pastikan setelah dilakukan tindakan CT Scan dan foto torak” jelas Tarmudi, Humas RSUD Indramayu.
Hingga Senin (13/4/2026), kondisi korban dilaporkan stabil dan tidak memerlukan operasi. Namun mereka masih menunggu evaluasi lanjutan sebelum diperbolehkan pulang.
Di sisi lain, kendaraan dan sopir telah diamankan, dan kasusnya kini ditangani Unit Gakkum Satlantas Polres Indramayu.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kecelakaan akibat mengantuk bukan sekadar kelalaian sesaat. Ia sering berakar dari pola perjalanan panjang tanpa manajemen istirahat yang memadai.
Dalam banyak kasus, seperti yang terjadi di Indramayu, dampaknya tidak hanya menimpa pengemudi, tetapi juga pengguna jalan lain yang tidak memiliki kendali atas situasi.
