Beritanda.com – Bacharuddin Jusuf Habibie bukan sekadar nama dalam buku sejarah Indonesia. Ia adalah simbol kecerdasan yang diakui dunia, arsitek demokrasi di masa krisis, dan pemilik salah satu kisah cinta paling abadi di tanah air. Dari lorong-lorong universitas di Jerman hingga kursi kepresidenan di Jakarta, jejak langkahnya telah mengubah wajah teknologi dan politik Indonesia selamanya.
Profil Singkat Tokoh
- Nama Lengkap : Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie
- Lahir : Parepare, 25 Juni 1936
- Wafat : Jakarta, 11 September 2019
- Istri : Hasri Ainun Besari
- Anak : Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie
- Jabatan Tertinggi : Presiden RI ke-3 (1998–1999)
Masa Kecil : Akar Kejeniusan dari Parepare
Lahir sebagai
anak keempat dari delapan bersaudara, Habibie merupakan buah cinta dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie (Bugis-Gorontalo) dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo (Jawa). Perbedaan budaya kedua orang tuanya justru memperkaya karakter Habibie sejak kecil.Sejak kecil, Habibie dikenal sebagai anak yang gemar membaca, gemar membongkar mainan, dan selalu penasaran bagaimana suatu benda bekerja. Minatnya pada dunia teknik tumbuh bersamaan dengan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Kehilangan ayahnya di usia muda membuat Habibie semakin mandiri dan bertekad membahagiakan ibunya melalui prestasi.

Meski sempat menempuh pendidikan di ITB Bandung selama enam bulan, garis takdir membawanya terbang ke Jerman untuk mendalami Teknik Penerbangan di RWTH Aachen.
Era Jerman: Lahirnya“Mr. Crack”
Setelah menamatkan SMA di Bandung, Habibie sempat kuliah di ITB selama enam bulan sebelum melanjutkan studi ke RWTH Aachen, Jerman, jurusan Teknik Penerbangan. Di negeri orang, ia harus berjuang dari nol: hidup sederhana, bekerja sambil kuliah, dan beradaptasi dengan iklim akademik yang sangat ketat.
Kerja kerasnya terbayar saat ia meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude. Tidak lama kemudian, ia bergabung dengan perusahaan dirgantara ternama Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hamburg. Kariernya melesat hingga menjadi Vice President Director of Technology, sebuah posisi yang nyaris mustahil diraih orang Asia pada masa itu.
Dunia sains mengenalnya lewat penemuan revolusioner:
Habibie Factor & Habibie Theorem, Teori yang memecahkan masalah keretakan struktur pesawat (crack propagation). Berkat temuannya, pesawat menjadi jauh lebih aman dan efisien, memberinya julukan
internasional sebagai “Mr. Crack“.Membangun Mimpi Dirgantara Indonesia
Pada tahun 1973, panggilan Ibu Pertiwi datang melalui Presiden Soeharto. Habibie melepaskan karier gemilangnya di Jerman untuk pulang dan membangun industri strategis. Ia dipercaya memimpin LIPNUR yang kemudian berkembang menjadi IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia). Di sinilah mimpinya untuk membangun kemandirian teknologi bangsa benar-benar diwujudkan.

Salah satu mahakaryanya adalah pesawat N250, turboprop pertama buatan Indonesia yang telah menggunakan teknologi Fly by Wire. Meski proyek ini akhirnya terhenti akibat krisis moneter, N250 tetap menjadi simbol kebangkitan teknologi nasional.
Menakhodai Badai Reformasi
Puncak pengabdian politiknya terjadi saat ia dilantik menjadi Presiden RI ke-3 di tengah krisis hebat tahun 1998. Meski masa jabatannya singkat (512 hari), Habibie melakukan reformasi radikal:
- Kebebasan Pers: Menjamin kebebasan berpendapat yang kita nikmati hingga hari ini.
- Ekonomi: Berhasil menstabilkan nilai tukar Rupiah yang sempat terpuruk.
- Demokrasi: Mengizinkan berdirinya 48 partai politik baru dan menginisiasi UU Otonomi Daerah.
Namun, masa ini juga diwarnai kontroversi besar, yaitu Referendum Timor Timur yang berakhir dengan kemerdekaan wilayah tersebut dari Indonesia.
Habibie & Ainun: Ikon Cinta Sejati
Di balik kecemerlangan otaknya, Habibie adalah sosok yang sangat melankolis dan setia. Pernikahannya dengan Hasri Ainun Besari pada 12 Mei 1962 menjadi inspirasi jutaan orang. Kisah perjuangan mereka, dari hidup sederhana di Jerman hingga masa tua yang penuh kasih, telah diabadikan dalam buku dan film blockbuster, menjadikan mereka standar kesetiaan nasional.
Warisan dan Akhir Perjalanan
Pasca kepresidenan, ia tetap produktif dengan mendirikan The Habibie Center untuk memajukan demokrasi dan teknologi. Atas jasa-jasanya, ia menerima penghargaan bergengsi dunia seperti Edward Warner Award dan Von Karman Award.
Habibie wafat pada 11 September 2019 dan dimakamkan di TMP Kalibata di samping belahan jiwanya, Ainun. Ia meninggalkan warisan berupa semangat bahwa anak bangsa mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar di bidang teknologi.
“Mata saya boleh saja rabun, tapi hati saya tetap melihat masa depan Indonesia yang gemilang.” — B.J. Habibie
