Beritanda.com – Honda Motor mencatat kerugian tahunan pertama sejak melantai di bursa saham pada 1957. Produsen otomotif Jepang itu membukukan rugi bersih 423,94 miliar yen atau sekitar Rp 47,1 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, setelah agresif menggelontorkan dana besar ke bisnis kendaraan listrik (EV).
Ironisnya, penjualan Honda sebenarnya masih tumbuh tipis. Namun lonjakan biaya restrukturisasi EV hingga lebih dari Rp 175 triliun membuat keuntungan perusahaan ambruk dan memaksa Honda membatalkan sejumlah target ambisius kendaraan listrik.
Situasi ini menjadi sinyal keras bahwa transisi menuju mobil listrik tidak semulus yang dibayangkan produsen otomotif global beberapa tahun terakhir.
Kerugian Terbesar Honda Sejak IPO
Dalam laporan keuangan resmi tahun fiskal 2026, Honda mencatat pembalikan drastis dibanding tahun sebelumnya.
| Indikator | FY2025 | FY2026 |
|---|---|---|
| Laba/Rugi Bersih | +835,84 miliar yen | -423,94 miliar yen |
| Laba/Rugi Operasional | +1,21 triliun yen | -414,35 miliar yen |
| Penjualan | 21,69 triliun yen | 21,80 triliun yen |
| Beban restrukturisasi EV | – | 1,58 triliun yen |
Kenaikan pendapatan sebesar 0,5 persen ternyata tidak cukup menutup tekanan besar dari restrukturisasi bisnis kendaraan listrik.
Honda mengakui biaya restrukturisasi EV membengkak lebih besar dari perkiraan awal. Beban tersebut mencakup penghentian pengembangan produk, penurunan nilai aset, hingga kompensasi ke pemasok.
Tiga Mobil Listrik Dibatalkan
Sebagai bagian dari langkah efisiensi, Honda menghentikan pengembangan tiga model EV yang sebelumnya diproyeksikan meluncur di Amerika Utara mulai 2026.
Tiga model tersebut meliputi:
- Honda 0 SUV
- Honda 0 Saloon
- Acura RSX
Selain itu, Honda juga menunda tanpa batas proyek investasi EV dan baterai senilai USD 11 miliar di Kanada.
Keputusan ini menandai perubahan strategi besar perusahaan yang sebelumnya cukup agresif mendorong transisi penuh menuju kendaraan listrik.
“Kami harus menyesuaikan strategi dengan kondisi permintaan pasar yang berkembang,” ujar CEO Honda, Toshihiro Mibe.
Target EV 2040 Resmi Dibatalkan
Honda sebelumnya menargetkan seluruh penjualan mobilnya beralih ke EV dan fuel-cell pada 2040. Kini target tersebut resmi dihapus.
Tak hanya itu, target kontribusi EV sebesar 20 persen terhadap total penjualan mobil baru pada 2030 juga dibatalkan.
Perusahaan kini mulai menggeser fokus ke teknologi hybrid yang dianggap lebih realistis dalam kondisi pasar saat ini.
“Kami di manajemen menanggapi kerugian ini dengan sangat serius. Kami harus menghentikan kerugian ini dengan secepat mungkin,” kata Toshihiro Mibe.
Mulai 2027, Honda akan meluncurkan sistem hybrid generasi baru untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi kendaraan.
Perubahan arah ini memperlihatkan bahwa produsen otomotif besar mulai lebih berhati-hati terhadap pasar EV global yang pertumbuhannya ternyata melambat.
Trump dan EV China Ikut Menekan Honda
Selain masalah internal, Honda juga terkena dampak perubahan kebijakan di Amerika Serikat.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menghapus insentif pajak pembelian kendaraan listrik hingga USD 7.500 pada 2025. Di saat bersamaan, tarif impor kendaraan dan komponen otomotif juga sempat dinaikkan.
Kondisi itu memperburuk profitabilitas bisnis otomotif Honda di pasar Amerika Utara.
Di Asia, tekanan datang dari produsen EV China yang menawarkan mobil listrik lebih murah dengan teknologi yang berkembang cepat.
Honda mengakui alokasi besar untuk pengembangan EV justru membuat daya saing produknya di Asia menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Dampaknya Mulai Terasa di Indonesia
Efek tekanan global Honda mulai terlihat di pasar Indonesia.
Data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan distribusi mobil Honda ke dealer pada April 2026 hanya mencapai 2.363 unit.
Angka tersebut membuat Honda turun ke posisi sembilan merek mobil terlaris nasional, hanya sedikit di atas Hino.
Situasi ini cukup mengejutkan karena Honda selama bertahun-tahun hampir selalu berada di jajaran lima besar penjualan mobil di Indonesia.
Penurunan itu menunjukkan masalah Honda bukan sekadar persoalan laporan keuangan global, tetapi mulai berdampak langsung ke performa pasar domestik.
Industri Otomotif Jepang Sedang Tertekan
Honda bukan satu-satunya produsen Jepang yang menghadapi tekanan besar.
Nissan sebelumnya juga melaporkan kerugian besar dan menutup sejumlah pabrik global. Sementara Toyota mengalami penurunan laba akibat tarif AS dan kenaikan biaya produksi.
Gelombang tekanan ini memperlihatkan industri otomotif Jepang sedang menghadapi tantangan struktural besar dari perubahan teknologi, perang harga EV China, dan ketidakpastian ekonomi global.
Dalam jangka pendek, strategi hybrid kini mulai kembali dipandang sebagai jalan tengah yang lebih aman dibanding langsung bertaruh penuh pada kendaraan listrik murni.
Honda sendiri memperkirakan masih akan menanggung tambahan rugi sekitar 500 miliar yen dari bisnis EV tahun ini. Namun perusahaan optimistis dapat kembali mencetak laba sekitar 500 miliar yen berkat efisiensi biaya dan performa kuat bisnis sepeda motor.
