Beritanda.com – Di tengah transisi rapuh pasca-Orde Baru, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur justru memilih jalan berani: membongkar batas agama dan identitas, meski itu berujung pada lengsernya dari kursi presiden.
Profil Singkat Gus Dur dan Akar Pengaruhnya
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Presiden ke-4 Indonesia, ulama Nahdlatul Ulama, dan tokoh pluralisme yang lahir di Jombang pada 7 September 1940 dan wafat pada 30 Desember 2009. Ia dikenal sebagai pemimpin NU terlama (1984–1999) dan arsitek kebijakan toleransi seperti pencabutan larangan Imlek dan pengakuan agama Konghucu.
Di balik gaya santainya, Gus Dur lahir dari “darah biru” tradisi Islam Nusantara. Kakeknya, KH Hasyim Asy’ari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI. Lingkungan ini membentuknya bukan hanya sebagai santri, tapi juga pemikir.
Namun yang sering luput: Gus Dur tidak tumbuh dalam ruang sempit tradisi. Ia menyerap literatur Barat, membaca Marxisme di Baghdad, dan bahkan merasa “tidak cocok” dengan sistem pendidikan formal Al-Azhar. Dari sini lahir satu pola penting: ia selalu berpikir melampaui batas institusi.
Dari Pesantren ke Istana: Jalan Tak Biasa
Karier Gus Dur tidak dibangun dengan ambisi kekuasaan langsung. Ia sempat ditolak masuk struktur NU hingga tiga kali sebelum akhirnya duduk di Dewan Syuro pada 1971.
Titik balik terjadi pada 1984 saat ia menjadi Ketua Umum PB NU. Keputusan paling revolusioner muncul di sini: menarik NU dari politik praktis. Langkah ini dianggap berisiko saat itu, tetapi justru mengembalikan NU sebagai kekuatan sosial-keagamaan terbesar di Indonesia.
Setelah reformasi 1998, Gus Dur ikut mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Setahun kemudian, ia terpilih sebagai Presiden RI melalui MPR, bukan pemilu langsung.
Di sinilah fase paling paradoks dalam hidupnya dimulai.
Fakta & Kejadian Penting yang Mengubah Arah Bangsa
Beberapa keputusan Gus Dur menjadi tonggak sejarah sekaligus sumber kontroversi:
- 17 Januari 2000: Mencabut larangan perayaan Imlek melalui Keppres No. 6/2000
- 2000: Menetapkan Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia
- 2000: Mengirim Banser NU untuk menjaga gereja dari ancaman serangan
- 2000: Mengusulkan pembukaan hubungan dengan Israel, memicu polemik nasional
Namun, di saat yang sama, badai politik datang bertubi-tubi:
- 2000: Kasus Buloggate (dugaan penyalahgunaan dana Rp 35 miliar)
- 2000: Kasus Bruneigate (dana bantuan US$2 juta tanpa dokumentasi jelas)
- 1 Februari 2001: DPR mengeluarkan Memorandum I
- 30 April 2001: DPR mengeluarkan Memorandum II
- 23 Juli 2001: MPR memberhentikan Gus Dur dengan suara 591-0
Menjelang kejatuhannya, Gus Dur sempat mengeluarkan dekrit dini hari untuk membubarkan DPR/MPR. Namun tanpa dukungan militer dan politik, langkah itu justru mempercepat akhir kekuasaannya.
Antara Kontroversi dan Keberanian Moral
Di sinilah “missing piece” dari sosok Gus Dur: ia bukan sekadar presiden yang gagal secara politik, tetapi pemimpin yang terlalu maju untuk zamannya.
Ketika Indonesia masih sibuk menata ulang stabilitas pasca-Soeharto, Gus Dur justru mendorong agenda yang lebih dalam: rekonsiliasi identitas, kebebasan beragama, dan pembongkaran diskriminasi struktural.
Kebijakannya terhadap etnis Tionghoa, misalnya, bukan hanya soal budaya. Itu adalah simbol perubahan paradigma negara terhadap minoritas.
“Masalah utama adalah orang menggunakan agama untuk kemenangan, bukan untuk kebenaran,” ujar Gus Dur dalam salah satu refleksinya.
Di sisi lain, gaya komunikasinya yang santai, humoris, bahkan terkesan tidak formal, sering disalahartikan sebagai ketidakseriusan. Padahal, di balik itu, ia sedang memainkan pendekatan politik yang berbeda: meredakan ketegangan dengan cara non-konfrontatif.
Warisan yang Hidup Melampaui Kekuasaan
Gus Dur adalah presiden pertama Indonesia dengan disabilitas penglihatan serius. Ia buta sebagian, namun tetap memimpin negara dalam masa paling krusial.
Warisannya tidak berhenti pada masa jabatan 21 bulan.
Hari ini, pluralisme yang ia perjuangkan masih menjadi fondasi penting Indonesia. Tradisi Imlek yang kini dirayakan terbuka, pengakuan Konghucu, hingga narasi toleransi lintas agama, semuanya berakar dari keberaniannya.
Setiap tahun, jutaan orang berziarah ke makamnya di Tebuireng, Jombang. Fenomena ini bukan sekadar penghormatan, tetapi bukti bahwa pengaruhnya telah melampaui politik formal.
Dalam lanskap global, Gus Dur bahkan pernah disebut sebagai salah satu pemimpin Muslim paling berpengaruh di dunia.
So What?
Di era ketika polarisasi identitas kembali menguat, kisah Gus Dur menjadi relevan lagi. Ia menunjukkan bahwa keberanian moral sering kali datang dengan harga politik yang mahal.
Namun justru di situlah letak nilai sejarahnya.
Gus Dur mungkin kalah dalam kekuasaan, tetapi menang dalam arah peradaban.
