Beritanda.com – Saat sebagian wilayah Indonesia bersiap menghadapi kekeringan ekstrem, wilayah lain justru terancam banjir dan longsor dalam periode yang sama akibat fenomena El Niño “Godzilla” 2026.
Fenomena Ganda: Ketika Kemarau Tak Lagi Sekadar Kering
Selama ini, El Niño identik dengan musim kemarau panjang dan krisis air. Namun pola 2026 menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks—bahkan paradoks.
Berdasarkan peringatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), periode April hingga Oktober 2026 diprediksi menghadirkan anomali iklim ekstrem. Wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara akan mengalami penurunan curah hujan drastis hingga 50–90 persen.
Di saat yang sama, wilayah timur laut seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diperkirakan mengalami curah hujan tinggi di tengah musim kemarau.
Kondisi ini menciptakan satu realitas baru: Indonesia tidak hanya menghadapi satu jenis bencana, melainkan dua sekaligus.
Kekeringan di Barat, Banjir di Timur
Dampak paling krusial terlihat di sektor pertanian. Pantura Jawa—sebagai salah satu lumbung pangan nasional—masuk dalam zona risiko tinggi kekeringan.
Penurunan produksi bukan sekadar potensi. Data sebelumnya menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:
- Produksi beras turun 760.000 ton pada 2024
- Defisit mencapai 2,28 juta ton pada awal tahun yang sama
- Puluhan ribu hektare sawah terdampak kekeringan
Jika pola ini berulang di 2026 dengan intensitas lebih tinggi, tekanan terhadap ketahanan pangan bisa meningkat signifikan.
“Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa. Sebaliknya, strategi juga harus disiapkan untuk menghadapi kelebihan hujan di Sulawesi, Halmahera, dan Maluku.” — ujar Periset BRIN, Erma Yulihastin.
Sementara itu, di kawasan timur laut, risiko berbeda muncul. Curah hujan tinggi saat wilayah lain mengalami kemarau meningkatkan potensi:
- Banjir bandang
- Tanah longsor
- Kerusakan infrastruktur
Artinya, distribusi bencana tidak lagi merata, melainkan terfragmentasi secara ekstrem.
Dampak Berlapis: Dari Pangan hingga Kesehatan
Fenomena El Niño sebelumnya sudah memberikan gambaran nyata.
Pada 2023:
- 1,2 juta orang terdampak kekeringan
- 2.726 desa mengalami krisis air
- Ribuan hektare lahan pertanian rusak
Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan meningkat drastis, terutama di Sumatera dan Kalimantan, memicu penurunan kualitas udara.
Masuk ke 2026, risiko tersebut tidak hanya berulang—tetapi juga bertambah kompleks.
Kenaikan suhu 1–2°C di wilayah lembap seperti Jawa dan Bali memperbesar ancaman:
- Dehidrasi dan heat stroke
- Gangguan kesehatan pada pekerja luar ruang
- Efek “urban heat island” di kota besar
Sementara di wilayah dengan curah hujan tinggi, ancaman penyakit berbasis air dan sanitasi buruk juga meningkat.
Dengan kata lain, krisis yang terjadi bukan hanya soal cuaca, tapi krisis multi-dimensi yang menyentuh pangan, kesehatan, hingga stabilitas sosial.
Tantangan Baru: Sistem Mitigasi Belum Siap untuk Dua Bencana Sekaligus
Selama ini, sistem mitigasi bencana di Indonesia cenderung berbasis skenario tunggal—kekeringan atau banjir.
Namun El Niño 2026 memaksa pendekatan baru.
Di satu sisi, pemerintah harus:
- Menghemat air irigasi hingga 20 persen
- Menyesuaikan jadwal tanam
- Mengembangkan varietas tahan kekeringan
Di sisi lain, wilayah timur membutuhkan:
- Penguatan sistem drainase
- Mitigasi longsor
- Kesiapsiagaan banjir
Dua pendekatan ini berjalan bersamaan, dengan kebutuhan sumber daya yang tidak kecil.
Menariknya, pola ini juga mengungkap kelemahan struktural: koordinasi lintas wilayah dan sektor masih menjadi tantangan utama.
Lebih dari Sekadar Cuaca: Ini Tentang Arah Masa Depan Iklim Indonesia
Fenomena El Niño “Godzilla” bukan sekadar istilah dramatis. Ia mencerminkan tren yang lebih besar: iklim yang semakin tidak terprediksi dan ekstrem.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami siklus cepat:
- Kekeringan ekstrem
- Pemulihan singkat
- Ancaman baru yang lebih besar
Artinya, krisis tidak lagi bersifat insidental, melainkan berulang dan semakin kompleks.
Pertanyaan yang muncul bukan lagi “apakah Indonesia siap menghadapi El Niño”, tetapi:
apakah sistem nasional siap menghadapi dua jenis bencana dalam waktu yang sama?
