Home » Ragam » Ledakan Ikan Sapu-Sapu Jadi Alarm Krisis Sungai Perkotaan
Ikan Sapu SapuLonjakan populasi ikan sapu-sapu hingga 24 kali lipat di Sungai Ciliwung dalam 15 tahun terakhir

Jakarta, Beritanda.com – Lonjakan populasi ikan sapu-sapu hingga 24 kali lipat di Sungai Ciliwung dalam 15 tahun terakhir bukan sekadar fenomena biologis, melainkan sinyal kuat bahwa ekosistem sungai perkotaan sedang berada di titik kritis.

Dominasi Sapu-Sapu, Tanda Ekosistem Mulai Kolaps

Di banyak titik perairan tercemar, ikan sapu-sapu kini menguasai lebih dari 80% biomassa ikan. Angka ini tidak sekadar statistik, tetapi gambaran nyata bagaimana satu spesies invasif mengambil alih ruang hidup yang sebelumnya dihuni beragam ikan lokal.

Fenomena ini sering terlihat di Sungai Ciliwung, di mana ikan seperti wader dan gabus semakin sulit ditemukan. Ketika satu spesies mendominasi secara ekstrem, ekosistem kehilangan keseimbangan alaminya.

Peneliti menyebut kondisi ini sebagai “monokultur sungai”, situasi di mana keanekaragaman hayati runtuh dan digantikan oleh satu spesies yang tahan terhadap kondisi ekstrem. Dampaknya tidak berhenti pada ikan.

Burung air yang sebelumnya bergantung pada ikan kecil sebagai sumber makanan ikut menghilang. Rantai makanan terputus secara perlahan, menciptakan efek domino yang mempercepat degradasi ekosistem.

Bukan Sekadar Hama, Tapi Indikator Lingkungan

Meski sering dianggap sebagai biang kerok, sejumlah pakar menilai kehadiran ikan sapu-sapu justru mencerminkan masalah yang lebih dalam.

“Kurang tepat kalau ikan sapu-sapu menjadi faktor utamanya. Faktor utama kerusakan kali dan sungai adalah pencemaran lingkungan” ujar Arief, pakar dari BRIN.

Ikan ini dikenal memiliki toleransi ekstrem terhadap kondisi air yang tercemar logam berat seperti merkuri dan timbal. Kemampuan tersebut membuatnya mampu bertahan ketika spesies lain mati atau bermigrasi.

Dalam konteks ini, dominasi sapu-sapu bisa dibaca sebagai indikator biologis bahwa kualitas air telah menurun drastis. Semakin banyak populasinya, semakin buruk kondisi sungai tersebut.

Temuan BRIN pada awal 2026 bahkan menyebut ledakan populasi di Ciliwung sebagai alarm krisis ekologis akibat limbah, mikroplastik, dan pencemaran organik.

Dampak Nyata: Dari Ekologi hingga Infrastruktur

Masalah yang ditimbulkan ikan sapu-sapu tidak berhenti pada aspek biologis. Secara fisik, aktivitas mereka menggali sarang di tepian sungai menciptakan ancaman baru.

Lubang horizontal yang dibuat bisa mencapai kedalaman lebih dari satu meter. Struktur tanah menjadi rapuh, menyerupai spons, sehingga meningkatkan risiko longsor dan memperparah potensi banjir.

Selain itu, aktivitas penggalian mempercepat pendangkalan sungai. Kapasitas air berkurang, sementara sedimentasi meningkat, menciptakan tekanan tambahan pada sistem pengendalian banjir di wilayah perkotaan.

Di sisi lain, ikan ini juga mengganggu regenerasi ikan lokal. Selain berebut makanan seperti alga dan detritus, sapu-sapu kerap memakan telur dan larva ikan endemik.

Kondisi ini membuat pemulihan populasi ikan lokal semakin sulit, bahkan di wilayah yang mulai mengalami perbaikan kualitas air.

Respons Pemerintah dan Tantangan Nyata

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai merespons situasi ini dengan rencana operasi pembersihan besar-besaran.

“Saya meminta bukan hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi [pembersihan]” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Langkah ini dinilai penting untuk menekan populasi dalam jangka pendek. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa penangkapan massal tanpa perbaikan kualitas air hanya akan menjadi solusi sementara.

Siklusnya cenderung berulang: selama kondisi sungai tetap tercemar, ikan sapu-sapu akan kembali mendominasi karena memiliki keunggulan adaptif dibanding spesies lokal.

Dengan kata lain, fenomena ini bukan hanya soal mengendalikan satu jenis ikan, tetapi tentang bagaimana kota mengelola limbah dan menjaga kualitas air secara menyeluruh.

Ketika sapu-sapu terus bertahan dan berkembang, pesan yang sebenarnya sedang dikirim alam cukup jelas: ada yang tidak beres dengan ekosistem sungai kita.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News