Beritanda.com – Ketegangan politik di Venezuela kembali memuncak setelah militer Amerika Serikat menangkap Presiden Nicolas Maduro. Peristiwa ini terjadi di tengah krisis panjang dan memicu reaksi keras dari berbagai negara, dari Eropa hingga Amerika Latin. Dunia kini menanti bagaimana masa depan Venezuela akan ditentukan.
AS Tangkap Nicolas Maduro, Venezuela Masuk Babak Baru
Amerika Serikat membuat langkah drastis dengan menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer yang menewaskan sejumlah pengawal. Washington menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi menekan rezim lama dan membuka jalan transisi politik di Venezuela.
Wakil Presiden Delcy Rodríguez kini memimpin pemerintahan sementara, meski AS secara tegas tidak mendukung tokoh oposisi María Corina Machado. Bagi sebagian warga Venezuela di Amerika Serikat, penangkapan Nicolas Maduro dianggap sebagai harapan baru, namun di Caracas justru memunculkan kecemasan soal stabilitas nasional.
Minyak Venezuela dan Kepentingan Geopolitik
Di balik drama politik, cadangan minyak Venezuela menjadi faktor utama. AS dikabarkan berencana mengelola kembali industri minyak yang hancur akibat salah urus rezim Nicolas Maduro.
Mantan utusan khusus Venezuela, Elliott Abrams, menilai skenario terburuk justru jika Washington hanya bernegosiasi dengan sisa-sisa rezim tanpa perubahan sistem. Pernyataan ini mempertegas bahwa Venezuela bukan sekadar isu demokrasi, tetapi juga soal kontrol ekonomi global.
“Amerika Serikat tidak bisa mengelola Venezuela. Hal terburuk yang bisa kita lakukan – dan mungkin sebenarnya sedang kita lakukan – adalah membuat semacam kesepakatan dengan sisa-sisa rezim, dengan wakil presiden, Delcy Rodriguez, dan membiarkan dia dan rezim tetap berkuasa, kecuali mungkin perubahan kebijakan minyak.” ujar Abrams kepada CNN
Eropa Terbelah, Hukum Internasional Dipertanyakan
Respons dunia terhadap jatuhnya Nicolas Maduro jauh dari solid. Italia menyebut intervensi AS sebagai langkah defensif, sementara Prancis dan banyak ahli hukum internasional mengkritik keras operasi tersebut karena dianggap melanggar prinsip kedaulatan Venezuela.
Inggris dan Jerman mengambil posisi hati-hati, sedangkan Yunani mencoba mengalihkan perdebatan dari isu legalitas. Perpecahan ini menandakan rapuhnya konsensus global ketika kepentingan geopolitik bertabrakan.
Ancaman Merembet ke Kuba dan Kawasan
Dampak krisis Venezuela kini meluas ke kawasan. Kolombia meningkatkan pengamanan perbatasan, sementara Menlu AS Marco Rubio bahkan menyebut Kuba bisa menjadi target berikutnya.
“Ini adalah kebijakan yang sedang berjalan,” katanya kepada program “Meet the Press” di NBC, menambahkan bahwa “seluruh aparat keamanan nasional” akan terlibat dalam keputusan-keputusan tersebut ujar Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Jika eskalasi ini berlanjut, kejatuhan Nicolas Maduro berpotensi menjadi pemicu babak baru konflik regional di Amerika Latin.
