Home » News » Internasional » Trump Guncang NATO, Ancam Keluar dan Sebut Aliansi “Macan Kertas”
KTT NATOPara kepala pemerintahan negara-negara anggota pada KTT NATO 2018. - dok Shutterstock | Alexandros Michailidis

Beritanda.com – Hubungan antara Donald Trump dan NATO memasuki fase paling tegang dalam sejarah modern. Serangkaian pernyataan dan kebijakan terbaru memicu kekhawatiran akan krisis besar dalam aliansi militer terbesar di dunia tersebut.

Ancaman Keluar dari NATO Makin Terbuka

Ketegangan memuncak pada 27 Maret 2026 ketika Donald Trump secara terbuka menyatakan kemungkinan Amerika Serikat tidak lagi berkomitmen membela sekutu NATO.

Dalam pernyataannya, Trump bahkan menegaskan tidak membutuhkan persetujuan Kongres untuk mengambil langkah tersebut.

Sikap ini langsung memicu kekhawatiran global, mengingat NATO berdiri di atas prinsip pertahanan kolektif (Article 5)—serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua.

Jika AS mundur, fondasi utama aliansi berpotensi runtuh.

Sebut NATO “Macan Kertas”

Sebelumnya, pada 21 Maret 2026, Trump juga melontarkan kritik keras terhadap sekutu NATO melalui media sosial.

Ia menyatakan:

“Tanpa Amerika Serikat, NATO adalah macan kertas. Mereka tidak mau bergabung dalam pertempuran.”

Pernyataan ini muncul setelah banyak negara anggota menolak permintaan AS untuk terlibat dalam operasi pembukaan kembali Selat Hormuz di tengah konflik dengan Iran.

Penolakan tersebut menjadi titik balik yang memperlihatkan retaknya solidaritas dalam aliansi.

Kronologi Krisis: Dari Greenland hingga Iran

Krisis ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak awal 2026, ketegangan sudah mulai terlihat.

Pada Januari 2026, Donald Trump sempat memicu kontroversi dengan menyebut kemungkinan memilih antara “merebut Greenland atau mempertahankan NATO”.

Pernyataan tersebut memicu respons serius dari negara-negara Eropa, termasuk Denmark yang langsung memperkuat kehadiran militernya bersama sejumlah sekutu.

Meski situasi sempat mereda setelah adanya komunikasi dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, ketegangan tidak benar-benar hilang.

Memasuki Maret 2026, konflik kembali memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian memicu penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak global.

Dalam situasi tersebut, AS meminta dukungan NATO, namun banyak sekutu menolak.

Sekutu Mulai Menolak Tekanan AS

Sejumlah negara anggota NATO secara terbuka menolak permintaan Washington.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan:

“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya.”

Hal senada disampaikan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius yang juga menolak keterlibatan langsung dalam konflik tersebut.

Penolakan dari berbagai negara ini menunjukkan adanya perubahan sikap signifikan dalam hubungan transatlantik.

Krisis Terbesar Sejak NATO Berdiri

Para analis menilai situasi ini sebagai salah satu krisis paling serius sejak NATO didirikan pada 1949.

Ketidakpastian komitmen AS membuat banyak negara Eropa mulai mempertimbangkan skenario tanpa dukungan Washington.

Di sisi lain, secara hukum, langkah keluar dari NATO tidak sepenuhnya mudah. Undang-undang di AS masih mensyaratkan persetujuan Kongres untuk keputusan tersebut.

Namun, pernyataan Donald Trump yang menegaskan tidak membutuhkan persetujuan tersebut justru membuka potensi krisis konstitusional baru di dalam negeri AS.

Masa Depan NATO Dipertanyakan

Dengan meningkatnya ketegangan dan menurunnya kepercayaan antar sekutu, masa depan NATO kini berada di persimpangan jalan.

Apakah aliansi ini mampu bertahan dari tekanan internal, atau justru memasuki era baru tanpa peran dominan Amerika Serikat?

Untuk saat ini, satu hal yang pasti: hubungan antara Donald Trump dan NATO telah berubah secara fundamental—dan dampaknya mulai terasa di seluruh dunia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News