Home » News » Nasional » Prabowo di WEF 2026: Rakyat Indonesia Bahagia, Meski Masih Banyak yang Makan Nasi Garam
Prabowo WEF 2026Prabowo WEF 2026

beritanda.com – Presiden Prabowo Subianto membuka pidatonya di World Economic Forum (WEF) 2026 dengan nada yang jujur dan emosional. Di hadapan para pemimpin dunia di Davos, Swiss, Prabowo mengakui paradoks Indonesia hari ini: rakyatnya dinilai sebagai yang paling bahagia di dunia, namun masih banyak yang hidup serba kekurangan. Gambaran tentang warga yang makan nasi dengan garam, tinggal di gubuk, dan kesulitan air bersih menjadi pengingat keras bahwa optimisme tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan material.

Paradoks Kebahagiaan Rakyat Indonesia di Mata Dunia

Prabowo mengaku terkejut saat mengetahui hasil survei Gallup Poll dan Harvard University yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan dan optimisme tertinggi. “Saya tahu rakyat saya… Banyak dari mereka makan nasi dengan garam. Namun, mereka tersenyum. Namun, mereka punya harapan,” kata Prabowo.

Dalam konteks tersebut, temuan riset Global Flourishing Study memperlihatkan bahwa kesejahteraan tidak semata ditentukan oleh kekayaan. Indonesia unggul dalam relasi sosial dan karakter pro-sosial, meski tertinggal secara ekonomi dibanding negara maju. Artinya, kebahagiaan rakyat menjadi kekuatan sosial, sekaligus tantangan moral bagi negara.

Kesadaran Prabowo atas Kemiskinan yang Masih Nyata

Di sisi lain, Bapak Presiden Prabowo tidak menutup mata terhadap realitas di lapangan. Ia secara terbuka menyebut masih banyak warga tanpa akses air bersih dan sanitasi layak. Pada titik ini, pidato Prabowo bergeser dari selebrasi data menuju refleksi kepemimpinan.

Menurutnya, kepemimpinan memiliki tujuan sederhana namun mendasar: menghadirkan perubahan nyata bagi kelompok paling rentan. “Jika kaum miskin, kaum lemah dapat tersenyum dan tertawa, itu berarti mereka memiliki harapan,” ujarnya.

Swasembada Beras sebagai Bukti Awal

Tak berhenti di situ, Prabowo memaparkan capaian konkret pemerintahannya. Indonesia, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, berhasil mencapai swasembada beras. Target empat tahun tercapai hanya dalam satu tahun.

Ia menegaskan optimisme serupa untuk komoditas lain. “Saya yakin dalam empat tahun ke depan, kita akan swasembada produk pangan lainnya. Jagung, gula, protein.” Dampaknya, ketahanan pangan diposisikan sebagai fondasi keadilan sosial.

Ekonomi Terbuka, Investasi, dan Stabilitas Global

Dalam pembacaan sementara, Prabowo menegaskan Indonesia tidak alergi terhadap globalisasi. Ia menilai perdagangan adil justru memperkuat kedaulatan. Bersamaan dengan itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong dialog investasi digital dengan perusahaan global seperti Nvidia dan AWS.

Yang jadi sorotan, Prabowo menekankan bahwa prasyarat utama investasi adalah stabilitas, kepastian hukum, dan pemerintahan bersih. “Perdamaian dan stabilitas adalah aset paling berharga,” tegasnya.

Pidato Presiden Prabowo di WEF 2026 menempatkan kebahagiaan rakyat bukan sebagai akhir, melainkan titik awal untuk membangun kesejahteraan yang lebih adil dan berkelanjutan.