beritanda.com – Pengembaraan intelektual Gus Dur Atau Abdurrahman Wahid, menjadi fondasi penting dalam membentuk cara berpikirnya yang merdeka dan sulit dikotakkan. Sejak muda, ia tidak menempatkan pendidikan formal sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai ruang dialog. Dalam sudut pandang ini, belajar bukan sekadar menghafal, tetapi memahami realitas manusia secara luas.
Dari Pesantren ke Universitas Al-Azhar
Perjalanan akademik Gus Dur membawanya ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Namun pada praktiknya, pengalaman ini tidak sepenuhnya memenuhi dahaga intelektualnya. Ia merasa banyak materi yang diajarkan telah ia kuasai sejak mondok di pesantren. Meski begitu, fase ini tetap penting karena mempertemukannya dengan atmosfer keilmuan dunia Islam internasional.
Namun pada kenyataannya, Gus Dur tidak bertahan lama. Ia dikenal cepat merasa jenuh terhadap sistem pendidikan yang terlalu kaku. Dengan kata lain, Al-Azhar menjadi titik awal kesadarannya bahwa kebebasan berpikir tidak selalu tumbuh dalam struktur akademik formal.
Baghdad dan Ruang Berpikir yang Lebih Bebas
Tak berhenti di situ, Gus Dur melanjutkan pengembaraan ke Baghdad, Irak. Di kota ini, ia menemukan iklim intelektual yang lebih cair. Diskusi lintas mazhab, perdebatan filsafat, dan keterbukaan wacana memberi ruang baginya untuk menyerap gagasan tanpa sekat ideologis yang sempit.
Di waktu bersamaan, penguasaan bahasa asingnya berkembang pesat. Gus Dur dikenal menguasai hingga 6 bahasa asing, sebuah kemampuan yang memperluas aksesnya terhadap literatur global. Artinya, ia tidak hanya membaca dunia Islam dari satu sudut, tetapi dari berbagai perspektif budaya dan pemikiran.
Menulis, Media, dan Pembentukan Nalar Publik
Lebih jauh, kemerdekaan berpikir Gus Dur tercermin dari kebiasaannya menulis. Sebelum terjun ke politik praktis, ia aktif menulis kolom di media besar seperti Tempo dan Kompas. Dalam praktiknya, tulisan-tulisan itu bukan sekadar opini, melainkan refleksi kritis atas agama, negara, dan kemanusiaan.
Yang kerap luput diperhatikan, aktivitas menulis ini membentuk Gus Dur sebagai intelektual publik. Ia terbiasa menyampaikan gagasan secara lugas, sering jenaka, namun sarat makna. Dari sinilah lahir sosok pemikir yang tidak mudah dikendalikan oleh arus, sekaligus sulit dipisahkan dari kebebasan berpikirnya.
