Home » Ekbis » IHSG Ambruk hingga Trading Halt, Investor Asing Jual Rp 6 T
apa itu Free FloatIlustrasi - Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) - dok Antara | Dhemas Reviyanto

Beritanda.com – IHSG ambruk tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026) hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt di Bursa Efek Indonesia. Penurunan lebih dari 8% terjadi pada sesi intraday, disertai aksi jual besar-besaran investor asing. Kejatuhan indeks ini terjadi setelah pengumuman kebijakan terbaru dari lembaga indeks global MSCI.

IHSG Ambruk Tajam dan Picu Trading Halt

IHSG ambruk sejak pembukaan perdagangan pagi dengan penurunan 6,8% ke level 8.369,48. Tekanan jual berlanjut hingga awal sesi II, ketika indeks kembali terperosok dan menembus koreksi lebih dari 8% di level 8.261,79.

Pada pukul 13.43 WIB, Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit setelah IHSG ambruk hingga minus 8,8% secara intraday. Kebijakan trading halt diambil untuk meredam volatilitas ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat.

Setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan jual mulai mereda meski indeks tetap berada di zona merah. IHSG akhirnya ditutup di level 8.320,6 atau melemah 7,3% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Aksi Jual Asing Tekan Kapitalisasi Pasar

Tekanan pada pasar saham diperparah oleh aksi jual investor asing. Sepanjang perdagangan Rabu, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp 6,17 triliun.

Dampak dari IHSG ambruk tercermin langsung pada kapitalisasi pasar. Nilai kapitalisasi Bursa Efek Indonesia luruh menjadi Rp 15.121 triliun, turun signifikan dari Rp 16.380 triliun pada penutupan Selasa (27/1/2026).

Pelemahan terjadi secara luas dan menyeret saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Kondisi ini memperlihatkan besarnya sensitivitas pasar terhadap perubahan sentimen global.

Kebijakan MSCI Jadi Pemicu Gejolak Pasar

Kejatuhan IHSG hari ini ditekan oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International pada Selasa (27/1). MSCI menyatakan akan menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam indeks review, termasuk indeks review Februari 2026.

MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares, menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes, serta membekukan perpindahan saham antarsegmen ukuran indeks.

Dalam keterangannya, MSCI menyebut kebijakan ini bertujuan “mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability), sembari memberi waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan perbaikan transparansi.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman mengakui kebijakan MSCI berada di luar ekspektasi. Ia menyatakan pihak bursa terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dan MSCI.

Diskusi itu berlangsung mulai dari tahun lalu sampai dengan minggu lalu. Kami berdiskusi untuk coba menyampaikan beberapa opsi, seperti kategori free float sesuai segmentasi yang lebih komprehensif,” ujar Iman Rachman.

Ia menambahkan, saat ini terdapat 18 saham Indonesia yang menjadi basis indeks MSCI dan digunakan pelaku pasar global sebagai acuan investasi. IHSG ambruk pada hari ini pun menegaskan besarnya dampak kebijakan lembaga indeks global terhadap stabilitas pasar saham nasional.