Home » Ekbis » Harga Bitcoin Anjlok, Sinyal Alarm Bahaya
Mata Uang digital atau Kripto BitcoinIlustrasi Mata Uang digital atau Kripto Bitcoin

Beritanda.com – Harga bitcoin jatuh ke kisaran US$ 70.000-an pada Kamis (4/2/2026) setelah melemah tajam selama tiga hari berturut-turut. Aset kripto ini sempat menyentuh level US$70.575 sebelum diperdagangkan di sekitar US$ 70.800, turun lebih dari 7 persen dalam sehari. Penurunan tersebut terjadi di tengah tekanan global, arus keluar dana institusional, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah pasar kripto.

Harga Bitcoin Sentuh Titik Terendah 16 Bulan

Harga bitcoin kembali tertekan setelah menembus ke bawah level US$73.000 sejak Selasa lalu. Posisi tersebut menjadi titik terendah dalam sekitar 16 bulan terakhir dan mendekati level sebelum pemilu Amerika Serikat.

Data CoinMarketCap menunjukkan harga bitcoin sempat merosot lebih dari 8 persen hingga menyentuh US$ 70.575. Setelah itu, aset kripto tertua di dunia ini bergerak terbatas di kisaran US$ 70.800.

Secara akumulatif, harga bitcoin kini telah terkoreksi lebih dari 40 persen dari rekor tertingginya sekitar US$126.000 pada Oktober 2025. Kondisi ini mempertegas perubahan tren dari fase reli panjang menuju periode tekanan berkepanjangan.

Analis Citi menilai area US$ 70.000 sebagai zona krusial yang perlu dicermati investor. Level tersebut dinilai menjadi batas psikologis sekaligus teknikal yang dapat menentukan arah pergerakan berikutnya.

Tekanan Global Mempercepat Pelemahan

Pelemahan harga bitcoin tidak terjadi dalam ruang hampa. Tekanan muncul seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait manuver Presiden AS Donald Trump soal Greenland.

Situasi tersebut mendorong rotasi dana investor keluar dari aset berisiko, termasuk kripto. Di saat yang sama, berakhirnya penutupan sebagian pemerintahan AS turut menunda rilis data ekonomi penting.

Pasar juga mencermati perubahan arah kebijakan moneter setelah Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed. Ketidakpastian ini memperbesar sikap hati-hati pelaku pasar terhadap aset volatil.

Upaya pembentukan regulasi kripto yang lebih ramah di AS juga melambat. Kondisi ini menambah sentimen negatif yang membebani pergerakan harga bitcoin dalam beberapa pekan terakhir.

Arus Keluar Dana dan Risiko Penurunan Lanjutan

Tekanan terhadap harga bitcoin diperparah oleh arus keluar dana institusional dalam skala besar. Deutsche Bank menilai ekspektasi koreksi lanjutan telah menggerus likuiditas pasar.

ETF bitcoin spot mencatat arus keluar lebih dari US$ 3 miliar sepanjang Januari. Pada Desember, dana yang keluar mencapai sekitar US$2 miliar, sementara November mencatat hampir US$7 miliar.

Arus keluar tersebut terjadi setelah gelombang likuidasi posisi kripto dengan leverage tinggi pada Oktober lalu. Sejak saat itu, minat terhadap aset digital cenderung melemah.

Pelemahan harga bitcoin juga berdampak pada saham-saham terkait kripto. Strategy turun sekitar 5 persen, sementara saham penambang seperti Riot Platforms dan MARA Holdings anjlok hampir 11 persen.

Michael Burry turut memperingatkan risiko lanjutan jika tren penurunan berlanjut. Ia menyatakan, “Kondisi seperti ini membuka jalan bagi skenario yang ‘mual’ untuk dibayangkan jika Bitcoin gagal menghentikan penurunannya.

Menurut Burry, kegagalan mempertahankan level US$ 70.000 dapat memperbesar tekanan terhadap institusi yang menyimpan bitcoin dalam neraca mereka. Risiko ini berpotensi memicu aksi jual yang lebih agresif.

Dengan posisi harga yang masih rapuh, pelaku pasar kini menanti apakah harga bitcoin mampu bertahan di zona krusial ini. Jika tekanan berlanjut, pasar berpotensi menghadapi fase koreksi yang lebih dalam dalam waktu dekat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari Beritanda.com di Google News