Home » News » Internasional » AS Mundur Massal dari PBB, Dunia Masuki Era Multilateralisme Baru
Gedung Markas PBBGedung Markas PBB - Getty Images

Beritanda.com – Amerika Serikat kembali mengguncang tatanan global setelah Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan penarikan negaranya dari puluhan entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 7 Januari 2026. Keputusan ini menandai perubahan drastis kebijakan luar negeri AS yang semakin menjauh dari multilateralisme. Dunia pun mulai bertanya: bagaimana arah kerja sama internasional tanpa peran dominan Amerika?

AS Resmi Mundur dari Puluhan Entitas PBB

Langkah mengejutkan ini bukan sekadar retorika politik. Trump menyebut sedikitnya 35 kelompok non-PBB dan 31 entitas resmi PBB yang akan ditinggalkan Amerika Serikat. Di antaranya terdapat badan-badan penting seperti United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), UN Women, serta Dana Kependudukan PBB (UNFPA).

Dalam memo internal yang beredar di Gedung Putih, Trump menilai lembaga-lembaga tersebut “tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.” Ia bahkan menegaskan bahwa AS akan menjadi negara pertama yang keluar dari UNFCCC, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak rezim iklim global dibentuk.

Langkah ini membuat Amerika untuk pertama kalinya absen dalam pertemuan iklim tahunan PBB setelah lebih dari tiga dekade keikutsertaan aktif. Manish Bapna dari Natural Resources Defense Council menilai keputusan ini sebagai “kehilangan kesempatan historis” bagi AS untuk memengaruhi kebijakan iklim global dari dalam sistem.

Multilateralisme Tanpa Amerika

Keputusan tersebut langsung memicu kekhawatiran di berbagai ibu kota dunia. Selama puluhan tahun, Amerika menjadi salah satu motor utama sistem multilateral, baik dalam hal pendanaan maupun arah kebijakan. Penarikan ini otomatis menghentikan kontribusi dana sukarela AS ke banyak badan PBB, termasuk program kesehatan ibu dan anak di lebih dari 150 negara.

Namun, situasi ini juga membuka babak baru. Beberapa negara Eropa, Asia, hingga Amerika Latin mulai memperkuat koordinasi untuk menutup kekosongan peran AS. Di forum-forum internasional, muncul wacana bahwa dunia tidak boleh lagi bergantung pada satu negara adidaya untuk menjaga sistem global tetap berjalan.

Ketiadaan Amerika dalam proses perumusan kebijakan iklim, perdagangan, hingga pembangunan berkelanjutan berpotensi mengubah peta kekuatan diplomasi. Bagi sebagian negara berkembang, ini menjadi momentum untuk mendorong agenda mereka tanpa harus selalu berhadapan dengan kepentingan Washington.

Dampak Jangka Panjang bagi Politik Global

Skeptisisme Trump terhadap lembaga multilateral sebenarnya bukan hal baru. Pada periode sebelumnya, ia telah menarik AS dari Dewan HAM PBB, memangkas dana WHO, serta mengancam keluar dari UNESCO. Namun, keputusan mundur massal kali ini jauh lebih sistemik karena menyasar fondasi kerja sama global.

Gedung Putih berdalih bahwa langkah tersebut merupakan hasil “tinjauan menyeluruh terhadap seluruh perjanjian internasional” yang dinilai mempromosikan kebijakan iklim radikal, pemerintahan global, dan program ideologis yang dianggap bertentangan dengan kedaulatan Amerika.

Bagi PBB, ini jelas menjadi tantangan serius. Tanpa dukungan salah satu penyumbang dana terbesar, banyak program kemanusiaan terancam melambat. Sementara itu, bagi dunia, keputusan ini menjadi sinyal bahwa era multilateralisme lama yang sangat bergantung pada AS mungkin sudah berakhir.