Kuala Tungkal, Beritanda.com – Kematian dr. Myta Aprilia Azmy, dokter internship berusia 25 tahun asal Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, membuka sisi gelap sistem kerja dokter muda di Indonesia. Investigasi Kementerian Kesehatan menemukan dugaan jam kerja berlebih, minimnya perlindungan peserta internship, hingga budaya tekanan terhadap peserta yang menyampaikan keluhan.
dr. Myta meninggal dunia pada 1 Mei 2026 di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang akibat infeksi paru berat. Namun di balik diagnosis medis itu, muncul pertanyaan besar mengenai sistem kerja yang dijalani korban selama bertugas di RSUD KH Daud Arief Kuala Tungkal, Jambi.
Sejak Februari 2026, Myta ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan pola shift panjang. Dalam praktiknya, jam kerja disebut melampaui batas aturan internship yang seharusnya maksimal 40 jam per minggu.
Yang paling menjadi sorotan, Myta tetap menjalani jaga meski sudah mengalami demam, batuk, pilek, dan sesak napas sejak Maret 2026.
| Fakta Temuan Investigasi | Keterangan |
|---|---|
| Hari kerja | Tidak pernah libur selama bertugas di RSUD |
| Jam kerja | Diduga melebihi batas maksimal internship |
| Kondisi korban | Tetap jaga meski sakit dan demam tinggi |
| Pengawasan dokter organik | Disebut sering absen dari ruang jaga |
| Sistem pengaduan | Peserta yang mengkritik dikumpulkan dan dikonfrontasi |
Pada 15 April 2026, kondisi Myta semakin memburuk. Dalam rekaman voice note yang dirilis Kemenkes, suara Myta terdengar lirih dan terputus-putus saat meminta rekannya menggantikan jadwal jaga.
“Astri… aku mau minta tolong… minta tolong gantiin jadwal aku yang pagi ini… aku nggak bisa… nggak kuat Astri,” ucapnya.
Rekaman itu memicu simpati luas publik karena dianggap memperlihatkan kelelahan fisik yang sudah berada di titik kritis.

Budaya Kerja yang Disebut Toksik
Hasil investigasi Kemenkes menunjukkan persoalan dalam kasus ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan korban, tetapi juga budaya kerja di lingkungan internship.
Plt Inspektur Jenderal Kemenkes Rudi Supriatna Nata Saputra mengungkap adanya indikasi kelebihan jam kerja selama dr. Myta bertugas di IGD.
Selain itu, ditemukan dugaan manipulasi presensi agar jadwal peserta terlihat sesuai aturan.
Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah dokter organik disebut kerap meninggalkan ruang jaga dan membebankan penanganan pasien kepada peserta internship.
“Ada yang izin makan ke kantin, merokok ke kantin, kemudian ada juga yang memang istirahat tidur di kamar jaganya,” kata Rudi dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2026).
Kondisi itu membuat dokter internship yang seharusnya berada dalam proses pembelajaran justru menjalankan tanggung jawab besar layaknya dokter tetap.
Tak hanya itu, peserta yang menyampaikan kritik terhadap sistem internship melalui media sosial juga disebut sempat dikumpulkan oleh dokter pendamping pada 31 Maret 2026. Pertemuan tersebut kini menjadi sorotan karena dianggap menunjukkan adanya budaya bungkam terhadap keluhan peserta.
Dokter yang Merawat Pasien, Tapi Kesulitan Saat Jadi Pasien
Ironi terbesar dalam kasus ini terlihat ketika Myta sendiri jatuh sakit.
Saat kondisinya memburuk dengan saturasi oksigen dilaporkan turun hingga 80 persen, proses transfer justru dilakukan menggunakan kendaraan pribadi, bukan ambulans standar medis.
Dalam perjalanan panjang antarkota, oksigen yang digunakan disebut hanya pinjaman dari dokter pendamping.
Fakta lain yang juga menuai kritik adalah tidak tersedianya obat Sulbacef di rumah sakit. Dalam kondisi sebagai pasien, dr. Myta disebut diminta mencari obat sendiri di luar fasilitas kesehatan.
Situasi tersebut memperkuat kritik bahwa sistem internship dokter di sejumlah daerah masih berada di wilayah “abu-abu”, peserta dianggap bagian dari pendidikan, tetapi di lapangan menjalankan beban pelayanan yang sangat besar.
Bukan Kasus Pertama
Kasus dr. Myta semakin mendapat perhatian karena terjadi setelah tiga dokter internship lain meninggal dunia dalam rentang Maret hingga Mei 2026.
| Dokter Internship | Lokasi | Waktu |
|---|---|---|
| Dokter internship | Denpasar, Bali | 17 Maret 2026 |
| Dokter internship | Rembang, Jawa Tengah | 25 Maret 2026 |
| Andito Mohammad Wibisono | Cianjur, Jawa Barat | 26 Maret 2026 |
| dr. Myta Aprilia Azmy | Kuala Tungkal, Jambi | 1 Mei 2026 |
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Ardiansyah Bahar menyebut kasus ini sebagai alarm serius bagi sistem internship nasional.
“Tidak bisa lagi dipandang sebagai kasus individual. Ada persoalan struktural yang harus segera dibenahi,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan kini membekukan sementara wahana internship di RSUD KH Daud Arief dan menarik seluruh peserta internship dari fasilitas kesehatan di Kuala Tungkal.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menegaskan bahwa tidak boleh ada dokter yang meninggal akibat budaya kerja yang buruk di rumah sakit.
Namun bagi banyak dokter muda, kasus dr. Myta dianggap sudah membuka fakta yang selama ini jarang muncul ke permukaan, tekanan kerja ekstrem, minim perlindungan, dan ketakutan untuk melapor ketika sistem mulai terasa tidak aman.
