Beritanda.com – Dua proposal damai muncul di tengah panasnya perang Iran, tapi isinya bertolak belakang. Pada 24–25 Maret 2026, AS menawarkan 15 poin, sementara Iran membalas dengan 5 syarat keras.
Perjanjian perang Iran ini langsung jadi sorotan karena bukan sekadar beda detail—melainkan beda arah total. Satu ingin pelucutan, yang lain menuntut kompensasi dan kedaulatan.
Perjanjian Penghentian Perang Iran: Dua Proposal, Dua Dunia
Bayangkan dua orang bernegosiasi. Yang satu meminta Anda menyerahkan semua “alat pertahanan”, sementara Anda justru menuntut ganti rugi atas kerusakan rumah. Kira-kira bakal ketemu di tengah? Sulit.
Itulah gambaran nyata dari perjanjian perang Iran saat ini.
Di satu sisi, Amerika Serikat datang dengan proposal 15 poin yang sangat teknis. Di sisi lain, Iran merespons dengan hanya 5 poin—tapi semuanya bersifat fundamental dan non-negosiasi.
Konfliknya bukan lagi soal angka. Ini soal prinsip.
Isi Proposal AS: Pelucutan Total dan Kontrol Ketat
Proposal AS yang disampaikan melalui Pakistan berisi tuntutan besar, terutama pada program nuklir dan militer Iran.
Berikut poin kunci yang paling mencolok:
- Program Nuklir
- Pembongkaran seluruh kemampuan nuklir Iran
- Larangan total mengejar senjata nuklir
- Tidak ada produksi material nuklir senjata-grade di tanah Iran
- Penyerahan uranium yang diperkaya ke IAEA
- Penutupan fasilitas Natanz, Isfahan, dan Fordow
- Akses penuh IAEA ke seluruh informasi program nuklir Iran
- Program Rudal
- Pembatasan jumlah dan jangkauan rudal
- Hanya boleh untuk pertahanan diri
- Keputusan akhir tentang program rudal akan ditentukan kemudian
- Dukungan Proxy
- Penghentian bantuan ke kelompok seperti Hezbollah, Houthi, dan Hamas
- Selat Hormuz
- Harus tetap terbuka sebagai jalur bebas internasional
- “No one will block it”
- Imbalan
- Sanksi dicabut total
- Bantuan pengembangan nuklir sipil
- Penghapusan mekanisme “snapback” (pengembalian sanksi Otomatis PBB)
Secara sederhana: AS menawarkan “keringanan” dengan harga kontrol penuh.
Balasan Iran: 5 Syarat Keras yang Tak Bisa Ditawar
Iran tidak membalas dengan detail teknis. Mereka langsung ke inti: kedaulatan dan keadilan.
Berikut 5 syarat utama Iran:
- Penghentian Agresi
- Semua serangan dari AS dan Israel harus berhenti
- Jaminan Perang Tak Terulang
- Bukan sekadar gencatan senjata, tapi kepastian permanen
- Reparasi Perang
- Kompensasi atas kerusakan dan korban
- Penghentian Total Konflik
- Termasuk terhadap kelompok “resistance”
- Kedaulatan Selat Hormuz
- Pengakuan penuh atas wilayah strategis tersebut
Nada Iran sangat tegas. Bahkan cenderung menantang.
“Kami tidak ingin gencatan senjata… Kami ingin perang berakhir dengan cara yang tidak akan terulang, sesuai syarat kami.” — ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Lebih keras lagi:
“Tidak ada negosiasi dengan musuh sampai saat ini, dan kami tidak berencana untuk bernegosiasi.” — lanjutnya.
Kenapa Perjanjian Ini Sulit Terwujud?
Masalah utamanya sederhana—tapi krusial: kedua pihak tidak sedang bicara bahasa yang sama.
Perbedaannya terlihat jelas:
- AS fokus pada kontrol dan keamanan global
- Iran fokus pada kedaulatan dan kompensasi
AS ingin “mencegah ancaman ke depan”.
Iran ingin “menyelesaikan luka yang sudah terjadi”.
Di titik ini, perjanjian perang Iran seperti dua garis paralel—dekat, tapi tidak pernah bertemu.
Ada Jalan Tengah atau Buntu Total?
Di atas kertas, mediasi masih berjalan. Negara seperti Pakistan, Mesir, dan Turki ikut mencoba menjembatani.
Namun realitasnya? Jaraknya masih jauh.
Selama satu pihak meminta pelucutan total, sementara pihak lain menuntut ganti rugi dan pengakuan kedaulatan, perjanjian perang Iran akan terus berada di zona abu-abu.
Dan pertanyaan besarnya tetap menggantung: siapa yang akan lebih dulu mundur?
