Beritanda.com – Nama Dedi Mulyadi dikenal luas sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat. Namun, di balik posisinya sebagai Gubernur Jawa Barat, tersimpan kisah panjang penuh perjuangan yang jarang diketahui banyak orang.
Masa Kecil Penuh Keterbatasan
Lahir di Subang pada 11 April 1971, Dedi Mulyadi tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara.
Ayahnya, Sahlin Ahmad Suryana, adalah seorang purnawirawan TNI, sementara sang ibu, Karsiti, bekerja keras sebagai buruh tani sekaligus aktif di Palang Merah Indonesia.
Kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat masa kecilnya jauh dari kata nyaman.
Sejak usia sekolah dasar, ia sudah terbiasa bekerja:
- Berjualan es mambo demi tambahan uang saku
- Mengumpulkan kayu bakar sepulang sekolah
- Menjadi kuli angkut batu bata dengan upah sangat kecil
Bahkan, untuk membeli baju Lebaran, ia harus mengangkut bata sejauh beberapa kilometer.
Perjuangan dari Domba hingga Bangku Sekolah
Salah satu cerita paling melekat adalah saat ia meminta ibunya membeli dua ekor domba.
Dengan pengorbanan besar—menjual cincin seharga Rp 7.500—sang ibu akhirnya memenuhi permintaan tersebut.
Dari dua ekor domba itu, Dedi Mulyadi bersama kakaknya berhasil mengembangkannya menjadi puluhan ekor.
Hasilnya tidak hanya membantu ekonomi keluarga, tetapi juga membiayai pendidikan.
Saat remaja, ia juga bekerja sebagai tukang ojek demi bisa tetap bersekolah.
Pendidikan dan Awal Perjalanan Karier
Meski sempat diterima di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, keterbatasan biaya membuatnya harus mengurungkan niat.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman hingga meraih gelar sarjana hukum, sebelum melanjutkan ke jenjang magister manajemen.
Perjalanan politiknya dimulai pada akhir 1990-an, ketika ia aktif di Partai Golkar di Purwakarta.
Dari sana, kariernya perlahan menanjak:
- Anggota DPRD Purwakarta
- Wakil Bupati
- Bupati Purwakarta dua periode
Karier ini menjadi fondasi kuat sebelum melangkah ke tingkat yang lebih tinggi.
Puncak Karier: Gubernur Jawa Barat
Pada tahun 2025, Dedi Mulyadi resmi menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat setelah memenangkan Pilkada 2024 dengan perolehan suara signifikan.
Ia mengusung visi “Jabar Istimewa” yang berfokus pada:
- Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan
- Penguatan ekonomi kerakyatan
- Pelestarian budaya lokal
- Pembangunan infrastruktur merata
Dalam kepemimpinannya, ia dikenal aktif turun langsung ke masyarakat dan memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi dengan warga.
Gaya Kepemimpinan yang Dekat dengan Rakyat
Sosok Dedi Mulyadi sering terlihat melakukan kunjungan langsung ke daerah terpencil, membantu warga, hingga berdialog tanpa sekat.
Pendekatan ini membuatnya dijuluki sebagai pemimpin yang populis dan responsif.
Namun di sisi lain, gaya ini juga memunculkan perdebatan—antara dianggap tulus atau sekadar pencitraan.
Meski begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa kehadirannya di tengah masyarakat menjadi ciri khas yang membedakannya dari banyak pemimpin lain.
Kehidupan Pribadi dan Nilai Hidup
Dalam kehidupan pribadi, Dedi Mulyadi dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Sunda.
Ia kerap mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kebijakan maupun kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konsep rumah dan aktivitas sosialnya.
Pengalaman hidup di masa kecil yang penuh keterbatasan juga membentuk karakter hemat, pekerja keras, dan dekat dengan masyarakat kecil.
Dari Keterbatasan Menuju Puncak Kepemimpinan
Perjalanan hidup Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan.
Dari seorang anak yang harus bekerja sejak kecil, hingga menjadi pemimpin provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Di balik jabatan dan sorotan publik, ada cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah maju.
Dan mungkin, itulah yang membuat sosoknya tetap relevan—bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk waktu yang lama.
