Sofifi, Beritanda.com – Nama Sherly Tjoanda Laos mencuri perhatian publik setelah memenangkan Pilkada 2024 dan resmi menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara. Di balik pencapaian itu, tersimpan kisah hidup yang penuh ujian, transformasi, dan tekad kuat.
Latar Belakang dan Kehidupan Pribadi
Lahir di Ambon pada 8 Agustus 1982, Sherly Tjoanda Laos berasal dari keluarga keturunan Tionghoa dengan garis Hakka dari pihak ibu.
Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung nilai keluarga, pendidikan, dan kerja keras.
Dalam kehidupan pribadi, ia menikah dengan Benny Laos pada 28 Mei 2005 dan dikaruniai tiga orang anak.
Namun, hidupnya berubah drastis pada 12 Oktober 2024, saat sang suami meninggal dunia akibat kecelakaan speedboat di perairan Taliabu.
Peristiwa itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya.
Dari Dunia Bisnis dan Sosial ke Politik
Sebelum terjun ke politik, Sherly Tjoanda Laos dikenal aktif di berbagai bidang:
- Direktur perusahaan keluarga di berbagai sektor
- Ketua Yayasan Bela Peduli yang fokus pada kegiatan sosial
- Ketua TP PKK Kabupaten Morotai
- Ketua organisasi pertanian daerah
Perannya lebih banyak berada di balik layar—menggerakkan komunitas, pendidikan, dan kegiatan sosial.
Namun semua berubah ketika ia memutuskan maju menggantikan mendiang suaminya dalam kontestasi politik.

Perjalanan Menuju Kursi Gubernur
Keputusan Sherly Tjoanda Laos untuk maju bukan tanpa alasan.
Ia menyebut dorongan utamanya adalah pengalaman pribadi menghadapi keterbatasan layanan kesehatan saat tragedi yang menimpa keluarganya.
Dengan dukungan koalisi besar lintas partai, ia akhirnya memenangkan Pilkada Maluku Utara 2024 dengan perolehan suara mayoritas.
Pada 20 Februari 2025, ia resmi dilantik sebagai gubernur oleh Presiden Prabowo Subianto.
Momen ini mencatat sejarah:
Ia menjadi gubernur perempuan pertama di Maluku Utara.
Visi dan Arah Kepemimpinan
Sebagai pemimpin, Sherly Tjoanda Laos mengusung visi:
“Maluku Utara yang berdaya, sejahtera, dan inklusif.”
Fokus kebijakannya meliputi:
- Penguatan ekonomi pesisir
- Pemberdayaan perempuan
- Pertanian berkelanjutan
- Digitalisasi layanan publik
Ia juga menekankan lima pilar utama dalam tata kelola pemerintahan, mulai dari kompetensi hingga loyalitas kepada rakyat.
Gebrakan Awal yang Cepat
Dalam 100 hari pertama, Sherly Tjoanda Laos menunjukkan langkah cepat:
- Program pendidikan gratis dipercepat realisasinya
- Layanan kesehatan gratis mulai berjalan
- Pembangunan infrastruktur dasar mulai digerakkan
- Reformasi birokrasi berbasis merit mulai diterapkan
Dengan keterbatasan APBD, ia mengandalkan efisiensi anggaran dan kolaborasi dengan pemerintah pusat.
Karakter Kepemimpinan dan Nilai Hidup
Gaya kepemimpinan Sherly Tjoanda Laos terbentuk dari pengalaman hidup yang tidak biasa.
Ia dikenal:
- Tegas dalam pengambilan keputusan
- Berbasis empati dari pengalaman pribadi
- Fokus pada kebutuhan dasar masyarakat
Salah satu pernyataannya yang paling dikenal adalah:
“Ini bukan tentang kekuasaan. Ini tentang cinta yang belum selesai.”
Kalimat tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya didorong oleh ambisi, tetapi juga oleh pengalaman emosional yang mendalam.
Sosok yang Membawa Perubahan
Perjalanan Sherly Tjoanda Laos menunjukkan transformasi dari seorang ibu, pegiat sosial, hingga menjadi pemimpin daerah.
Dengan latar belakang bisnis, pengalaman organisasi, dan motivasi personal yang kuat, ia hadir sebagai sosok yang membawa warna baru dalam kepemimpinan daerah.
Di tengah tantangan keterbatasan anggaran dan ekspektasi publik, langkahnya akan terus menjadi sorotan.
Namun satu hal yang pasti:
Kisahnya bukan hanya tentang politik, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan melanjutkan perjuangan.
