Beritanda.com – Virus nipah kembali menjadi perhatian setelah lima kasus terkonfirmasi di India pada awal pekan ini. Seluruh pasien berasal dari kalangan tenaga kesehatan dan kini menjalani perawatan serta pemantauan ketat. Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat memahami gejala dan pola penularan virus nipah guna mencegah penyebaran lebih luas.
Gejala Virus Nipah Perlu Diwaspadai Sejak Dini
Virus nipah bukan patogen baru dalam dunia kesehatan. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 saat terjadi wabah penyakit di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura, sebelum kemudian dilaporkan di beberapa wilayah Asia.
Menurut Kementerian Kesehatan, virus nipah memiliki masa inkubasi antara empat hingga 14 hari sebelum gejala muncul. Berikut adalah gejala virus Nipah yang harus diwaspadai:
- Demam
- Sakit kepala
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sesak napas
- Muntah
- Kesulitan menelan
- Peradangan otak (ensefalitis)
Pada fase awal, penderita dapat mengalami demam dan sakit kepala yang kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan.
Seiring waktu, gejala dapat berkembang menjadi batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, muntah, kesulitan menelan, hingga sesak napas. Pada sebagian kasus, virus nipah juga memicu peradangan otak atau ensefalitis yang ditandai dengan gangguan sistem saraf.
Kondisi ensefalitis akibat virus nipah dapat menyebabkan kantuk berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, disorientasi, serta perubahan suasana hati yang signifikan. Karena variasi gejala yang luas, infeksi virus nipah kerap sulit dikenali pada tahap awal.
Otoritas kesehatan menganjurkan warga segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi virus nipah, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan pasien atau hewan berisiko.

Cara Penularan Virus Nipah Menurut WHO
World Health Organization atau WHO menyebut virus nipah sebagai virus zoonosis yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia. Kelelawar buah merupakan reservoir alami virus nipah dan berperan penting dalam siklus penularannya di alam.
Penularan dapat terjadi dari kelelawar ke hewan lain, seperti babi, terutama di wilayah yang mengalami penebangan hutan. Kehilangan habitat membuat kelelawar berpindah ke area permukiman dan peternakan, meningkatkan risiko kontak dengan manusia.
Virus nipah dapat menyebar ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Konsumsi daging hewan yang terkontaminasi dan tidak dimasak dengan sempurna juga berpotensi menjadi jalur penularan.
Selain itu, virus nipah dapat menular dari manusia ke manusia. Penularan ini umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien, seperti air liur, terutama di lingkungan fasilitas kesehatan.
WHO mengklasifikasikan virus nipah sebagai patogen yang berpotensi memicu wabah berskala luas karena pola penularannya yang beragam dan kemampuannya berpindah antar manusia.
Upaya Pencegahan Virus Nipah
Untuk menekan risiko penyebaran virus nipah, masyarakat diimbau menerapkan langkah pencegahan sederhana namun konsisten. Menghindari kontak langsung dengan kelelawar dan hewan ternak berisiko menjadi langkah awal yang penting.
Sayur dan buah perlu dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Saat membersihkan kotoran atau urine hewan, penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung wajah sangat dianjurkan.
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang sakit juga menjadi bagian penting pencegahan. Selain itu, daging hewan harus dimasak hingga matang dan konsumsi daging mentah sebaiknya dihindari.
Hingga kini, belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi virus nipah. Oleh karena itu, kewaspadaan, deteksi dini, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyebarannya.
