Beritanda.com – Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menjatuhkan sanksi berat kepada Persib Bandung setelah insiden kericuhan suporter dalam laga AFC Champions League Two (ACL 2) 2025/2026 kontra Ratchaburi FC. Klub berjuluk Maung Bandung itu didenda sebesar USD200.000 atau sekitar Rp3,5 miliar dan diwajibkan memainkan satu laga kandang AFC tanpa penonton.
Putusan tertanggal 13 Mei 2026 itu menjadi hukuman terbesar yang diterima Persib sepanjang kiprah mereka di kompetisi Asia musim ini. Sanksi tersebut dijatuhkan setelah AFC menilai terjadi pelanggaran serius terhadap regulasi keamanan stadion dan tata tertib pertandingan.
Sanksi Terberat Setelah Rentetan Pelanggaran Musim Ini
Hukuman ini bukan datang tiba-tiba. AFC mencatat Persib telah lima kali menerima sanksi sepanjang gelaran ACL 2 musim 2025/2026.
| Waktu | Jenis Pelanggaran | Sanksi |
|---|---|---|
| Oktober 2025 | Penomoran kursi tiket | Rp33 juta |
| November 2025 | Flare dan pelemparan benda | Rp436 juta + penutupan 25% stadion |
| Desember 2025 | Flare dan jalur keluar tak steril | Rp503 juta |
| April 2026 | Kericuhan suporter tandang | Rp148 juta |
| Mei 2026 | Kericuhan laga vs Ratchaburi | Rp3,5 miliar + stadion tertutup |
Total denda yang harus dibayar Persib sepanjang musim mencapai sekitar Rp4,6 miliar.
Besarnya nominal itu memperlihatkan bahwa AFC menilai pelanggaran disiplin Persib sebagai eskalasi berulang, bukan insiden tunggal.
Kericuhan Usai Persib Tersingkir Jadi Dasar Hukuman
Insiden terjadi setelah leg kedua babak 16 besar ACL 2 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada 18 Februari 2026.
Meski menang 1-0 atas Ratchaburi FC, Persib tetap tersingkir karena kalah agregat 1-3 setelah sebelumnya takluk 0-3 pada leg pertama di Thailand.
Kekecewaan suporter pecah usai laga.
AFC mencatat adanya penyalaan flare dan kembang api di berbagai titik stadion. Selain itu, penonton melempar botol plastik, gelas, kantong berisi cairan, sampah, hingga potongan kursi ke area lapangan.
Dalam dokumen putusan, AFC juga menyoroti adanya penyerbuan lapangan serta lontaran kata-kata kasar kepada tim lawan dan perangkat pertandingan.
Sebagian suporter bahkan meneriakkan tuduhan bahwa petugas pertandingan adalah bagian dari “mafia” dan telah dibayar untuk memengaruhi hasil pertandingan.
Poin ini menjadi salah satu faktor pemberat hukuman.
Persib Terima Putusan, Akui Kerugian Besar
Manajemen Persib memastikan menerima keputusan tersebut.
“Sebagai klub profesional yang membawa nama Bandung dan Indonesia di level Asia, kami menghormati keputusan AFC sebagai bagian dari komitmen terhadap profesionalisme dan disiplin internasional,” ujar Head of Communication PT Persib Bandung Bermartabat, Adhi Pratama.
Namun ia menyesalkan besarnya dampak yang harus ditanggung klub.
“Nilai ini bukan angka kecil. Dana sebesar itu sejatinya dapat dialokasikan untuk penguatan fasilitas klub, pembinaan jangka panjang, dan peningkatan kualitas operasional,” katanya.
Persib juga menegaskan bahwa konsekuensi tersebut tidak hanya merugikan klub secara finansial, tetapi juga mencederai perjuangan jutaan Bobotoh yang selama ini mendukung secara tertib.
Manajemen memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan, mulai dari sistem keamanan stadion, koordinasi panitia pelaksana, hingga langkah mitigasi risiko pada laga internasional mendatang.
Secara jangka pendek, sanksi ini memukul kesiapan operasional Persib di kompetisi Asia berikutnya.
Namun dalam jangka panjang, hukuman ini bisa menjadi titik balik penting.
Jika tidak ada pembenahan budaya dukungan dan tata kelola pertandingan, peluang Persib membangun reputasi kuat di level Asia akan terus dibayangi masalah nonteknis yang seharusnya bisa dicegah.
